INFORMASI AKADEMIK PONDOK PESANTREN AL IMDAD

         icon info siswa      icon info guru       icon akademiccc p  ICON MASYARAKATtttt   ICON KEUANGAN 
       HALAMAN  SANTRI              HALAMAN GURU
                HALAMAN PEGAWAI                   HALAMAN UMUM               UANG SAKU SANTRI 

  

 

ayo mondok

SANTRI SALIH
 

KABAR MTS

KABAR MA-U AL IMDAD

METODE 33

02 Januari 2019

Buku Cara Cepat dan mudah Membaca Kitab Kuning Metode 33 (tiga tiga) adalah sebuah buku karya KH. Dr. Habib Syakur pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad yang menawarkan para santri untuk dapat membaca...

TAHUN BARU

31 Desember 2018

TAHUN 2018 TELAH MENINGGALKAN KITA DAN TAHUN 2019 TELAH NGHADANG KITA

Soal Kesehatan, Santri Ini Taklukkan 102 Santriwati Bantul

22 Maret 2018

Nur Laily Fauziah, santri Pesantren Al-Imdad Bantul menjadi yang terbaik dalam Lomba Kader Poskestren Santri Siaga 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Rabu (13/4). Melewati tiga babak sengit,...

Dalam Keterbatasan, Dua Santri Rajai Hasil UAMBN Se-DIY

22 Maret 2018

18 April 2016Bantul, NU Online.Sejak awal berdirinya, Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Al-Imdad Bantul terus menorehkan prestasi. Mulai dari Lomba Kader Kesehatan, Lomba Hadroh Kreatif, Aksioma (Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah)...

FOTO

            kirab mts     IMG 0192    paduan suara mts2

METODE 33

Buku Cara Cepat dan mudah Membaca Kitab Kuning Metode 33 (tiga tiga) adalah sebuah buku karya KH. Dr. Habib Syakur pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad yang menawarkan para santri untuk dapat membaca kitab kuning atau kitab gundul secara cepat dan praktis.

KH Dr Habib Syakur merumuskan sebuah metode yang diberinama “Metode 33” (tiga tiga) yang diperuntukkan bagi yang ingin dapat membaca kitab kuning dengan cepat. Metode ini dituangkan dalam bukunya “Cara Cepat Membaca Kitab Kuning Metode 33” yang dibedah dalam diskusi di sela-sela acara Mufakat IV Tingkat Nasional di Pancor, Lombok, NTB, Rabu (20/7/2011) malam.
KH. Habib A. Syakur meyakinkan bahwa belajar Bahasa Arab itu sebetulnya mudah. Melalui bukunya ini, pengasuh Pondok Pesantren al-Imdad Jogjakarta ini menjamin tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa membaca kitab kuning.
Bagi KH. Habib A. Syakur, membaca merupakan salah satu keahlian berbahasa. Setidaknya terdapat empat maharah al-lughawiyyah (keahlian berbahasa), yaitu maharah al-istima’ (keahlian mendengar), maharah al-kalam (keahlian berbicara), maharah al-qira’ah (keahlian membaca), dan maharah al-kitabah (keahlian menulis). Syakur mengakui bahwa bukunya ini hanya membidik satu dari empat maharah itu, yaitu maharah al-qira’ah.
Namun, kata KH. Habib A. Syakur, bukan berarti keahlian lain tidak penting. Untuk memahami dan mendalami Bahasa Arab secara komprehensif, keempat maharah itu harus dikuasai. “Buku saya hanya memberikan kebutuhan praktis santri, pelajar, dan peserta didik yang mau belajar membaca kitab kuning,” tandasnya.
KH. Habib A. Syakur menegaskan, bahasa bukanlah ilmu, melainkan seni. Yang dibutuhkan hanyalah latihan dan kebiasaan. “Ibarat orang yang mau belajar mengemudikan mobil, yang dibutuhkan adalah cara atau metodenya, bukan malah diajari cara membengkel mobil, seperti yang selama ini berlaku di pesantren-pesantren. Akibatnya salah sasaran,” katanya.
Bagi yang tertarik dan mau belajar membaca kitab kuning secara praktis, kata Syakur, setidaknya harus memperhatikan tiga hal, yakni kosakata, kaidah, dan latihan. “Kaidah yang diberikan jangan terlalu banyak. Cari susunan Bahasa Arab yang paling mudah dan sering digunakan. Juga susunan atau tata bahasa yang sama dengan susunan bahasa Indonesia,” imbuhnya.
Ketiga hal itu harus dibaca dan dilulang-ulang minimal sehari dalam tiga minggu. Karena itulah buku ini disebut “metode 33”. Di samping karena di dalamnya memuat 33 tahapan yang harus ditempuh dalam belajar membaca kitab kuning.
Melalui metode yang diciptakannya ini, Syakur menegaskan bahwa buku ini bukan berarti mau menghilangkan pembelajaran yang selama ini sudah ada, melainkan hanya mendasari pembelajaran yang sudah berlaku agar lebih cepat. “Saya menjamin tidak mengganggu konsep nahwu yang selama ini berlaku. Nahwu itu bengkel. Saya hanya menawarkan caranya saja,” katanya.
Namun, Syakur mengingatkan, kuncinya adalah motivasi. ia mengaku bahwa buku yang ditulisnya hanya menawarkan kemampuan bukan keahlian. “Agar lebih tahqiq dan mahir berbahasa Arab tentunya dibutuhkan latihan dan pembelajaran yang lebih tekun dan lebih serius lagi,” pungkasnya

Add a comment

IMG 0180

MAKNA IDUL FITRI

Terdapat beberapa pendapat dalam memaknai Kata Iedul Fitri, yang merupakan hari raya umat Islam di seluruh dunia. Jika dilihat dari segi bahasanya, Iedul Fitri terdiri dari dua kata yaitu
( عيد ) dan ( فطر ). Dan masing-masing dari kata ini memiliki maknanya tersendiri :
1. ( عيد ) berasal dari kata ( عاد – يعود ) yang berarti kembali. Namun ada juga yang menterjemahkan Ied ini sebagai hari raya, atau hari berbuka. Pendapat yang kedua ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ – رواه ابن ماجه
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Idul Fitri adalah hari dimana kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari dimana kalian berkurban.” (HR. Ibnu Majah)

2. ( الفطر ) artinya adalah “berbuka” yang berasal dari kata ( أفطر ) yang memang secara bahasa artinya berbuka setelah berpuasa. Namun disamping itu, ada juga yang menerjemahkan fitri dengan “fitrah”, yang berarti suci dan bersih. Pendapat yang kedua ini berdasarkan pendapatnya pada hadits Rasulullah SAW :
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ – رواه البخاري
Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang anak dilahirkan, melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih/ suci). Orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari)
Dari maknanya ini, dapat disimpulkan adanya dua makna dalam menerjemahkan Iedul Fitri, yaitu :
1. Iedul Fitri diterjemahkan dengan kembali kepada fitrah atau kesucian, karena telah selesai melaksanakan Ibadah Puasa sebulan penuh di bulan ramadhan. Sehingga ia mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.
2. Iedul Fitri diterjemahkan dengan hari raya berbuka, dimana setelah sebulan penuh ia berpuasa, menjalan ibadah puasa karena Allah SWT, pada hari Idul Fitri ini ia berbuka dan tidak berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT.

Kedua makna tersebut saling melengkapi dan tidak bertentangan sama sekali. Sehingga Iedul Fitri adalah hari raya umat Islam yang dianugerahkan oleh Allah SWT di mana manusia yang melaksanakan Ibadah Puasa dikembalikan pada fitrahnya dengan mendapatkan ampunan dari Allah SWT, sekaligus sebagai hari bergembiranya kaum muslimin dimana diperintahkan untuk makan dan minum sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. Oleh karena itulah, muncullah doa yang dibacakan sesama kaum muslimin pada hari raya idul fitri ketika berjabat tangan dan saling memaafkan, yaitu :
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang. Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita semua.

 
 
 
Add a comment

ARTIKEL

KARYA SANTRI

Login

Pengunjung

Kami memiliki 170 guests dan one member yang online

  • Afi Maarif
Go to Top
Template by JoomlaShine