INFORMASI2

 

PENDAFTARAN MTS

PENDAFTARAN MA

 

 

PENERIMAAN SANTRI BARU TAHUN 2020/2021

 

ALUR PENDAFTARAN SYARAT-SYARAT PENDAFTARAN PERSIAPAN SEBELUM MENDAFTAR 

 

  1. MEMBUAT AKUN

  2. LOGIN / DAFTAR

      (masukan NISN dan Password)

  3. MELENGKAPI DATA

      * (Nomer telepon harus yang masih aktif)   

      * (File Foto ukuran maksimal 2 MB)

  4. CETAK BUKTI PENDAFTARAN                    

   1. Berumur Maksimal 14 Th untuk  MTs   

   2. Berumur Maksimal 17 Th untuk MA   

   3. Sehat Jasmani dan Rohani

   4. Mengisi Formulir Pendaftaran online

   5. Mengikuti Tes dan Wawancara 

       (calon Santri dan Wali Santri)                              

   1. Siapkan Nomor  (NISN)

   2. Siapkan Nomor Induk Keluarga (NIK)

   3. Siapkan File Scan Foto Calon Santri

       (ukuran maksimal 2 MB) 

   4. Siapkan Nomor HP Orang Tua

 

WAKTU PENDAFTARAN PELAKSANAAN TES DAN WAWANCARA PENGUMUMAN HASIL SELEKSI

  Gelombang 1 :

  Desember s/d Januari 2020                                                                                                                               

TES DAN WAWANCARA GELOMBANG 1 AKAN DILAKSANAKAN PADA HARI AHAD, TANGGAL 9 FEBRUARI 2020

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI AKAN DIUMUMKAN 3 HARI SETELAH TES DAN WAWANCARA                                       

   

 

DAFTAR MTS   

DISINI  

                                                 

 DAFTAR MA   

DISINI 

 

santri baru 2013

Yogyakarta, NU Online
Sejak dibuka pertengahan April lampau, minat pendaftar di Pesantren Al-Imdad Bantul terus meningkat. Dan istimewanya, calon-calon santri ini tidak hanya datang dari wilayah Kabupaten Bantul, tapi juga dari beberapa daerah lain di Jawa dan Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Walhasil, di penghujung Juni lalu, tercatat 137 lulusan SD/MI dan SMP/MTs mendaftarkan diri sebagai santri.
Silaturrahim yang terjalin baik sungguh merupakan sebuah jalan kebaikan. Mengapa demikian? Betapa tidak. Pengasuh Pesantren Al-Imdad Bantul, KH Habib Abdus Syakur, yang juga Ketua RMI PWNU DIY, adalah bukti nyata. Melalui karyanya, Cara Cepat Bisa Baca Kitab Kuning (Metode 33), Pesantren Al-Imdad Bantul perlahan-lahan mulai dikenal dengan keunggulannya di bidang baca kitab. 

Banyaknya orang yang menggunakan buku karya Habib Abdus Syakur ini telah menarik minat sebagian mereka dan kalangan lain untuk 'berguru langsung pada ahlinya.' Maka tidak mengherankan jika kedua hal ini--Buku Cara Cepat Bisa Baca Kitab Kuning (Metode 33) dan pendidikan di Pesantren Al-Imdad--saling berhubungan.

"Buku Metode 33 saya susun merupakan salah satu usaha untuk lebih mempermudah khalayak yang ingin mampu membaca, menerjemahkan dan memahami kitab kuning/kitab gundul atau buku berbahasa Arab yang tidak ada harakatnya. Dan buku saya berusaha memenuhi kebutuhan praktis santri, pelajar, dan peserta didik yang mau belajar membaca kitab kuning,” ujar Habib terkait karyanya.

Sebagian besar santri baru yang diterima di Pesantren Al-Imdad Bantul memang mengakui jika keinginan untuk menguasai cara baca kitab gundul alias tanpa syakal merupakan motivasi awal mereka untuk mendaftar di Al-Imdad. Hal senada juga disampaikan oleh orangtua dan wali mereka. 

Selanjutnya, selain motivasi tersebut, alasan lain para pelajar tersebut ingin mengenyam pendidikan di Pesantren Al-Imdad adalah kebijakan segenap Pengasuh dan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul yang menerapkan bebas biaya gedung, bebas biaya ngaji, dan bebas biaya asrama. 

"Kita tidak ingin jika keinginan anak untuk belajar dan menjadi cerdas terhambat hanya karena biaya," ujar Habib menjawab pertanyaan sebagian orangtua dan wali santri terkait dengan hal ini. 

"Bagaimanapun juga, tentu ada cara-cara yang bisa diupayakan oleh Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul agar pendidikan gratis betul-betul bisa dijalankan."

Add a comment

Sebagai umat muslim, mencintai Allah SWT merupakan suatu kewajiban yang harus kita perlihatkan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Cinta di sini bukanlah cinta yang hanya diucapkan melalui lisan belaka, melainkan cinta yang disertai dengan pembuktian yang nyata di dalam akhlak dan tingkah laku kita sehari-hari. Secara sederhana, mencintai Allah SWT dapat dibuktikan dengan cara mentaati segala sesuatu yang diperintahkan Allah serta menghindari dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang-Nya.

Di dalam Al-qur’an, ada beberapa ayat yang menerangkan tentang perilaku-perilaku seseorang yang mencintai Allah dan Allah pun cinta terhadap orang tersebut. Diantaranya ialah Q.S Al-Ma’idah: 54, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agama Islam maka kelak Allah akan datangkan suatu kaum yang Allah cintai dan mereka pun mencintai Allah, yaitu mereka yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin lainnya, bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir, dan berjihad di jalan Allah, serta tidak gentar dan takut terhadap celaan orang-orang yang mencelanya.”
Berdasarkan ayat di atas, ada 4 perbuatan yang digolongkan kepada orang-orang yang mencintai Allah SWT, yaitu:
a. Bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin.
b. Bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir.
c. Berjihad di jalan Allah.
d. Tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela.
Di ayat lain Allah juga menjelaskan bahwa jika kita ingin merasakan cinta-Nya dan mendapatkan kasih sayang-Nya maka kita harus bersedia dan tulus mengikuti Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman di  dalam Q.S Ali Imran ayat 31 :
“Katakanlah olehmu (Muhammad), jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah Aku (muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan memberikan ampunan atas dosa-dosa kalian. “
Kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah karena beliau merupakan hamba Allah yang telah diangkat menjadi kekasih-Nya, dan seorang yang benar-benar dapat mencintai Allah dengan sepenuhnya, sehingga jika kita mengikuti sunnah-sunnahnya maka kita digolongkan sebagai orang yang mencintai Allah.
Di dalam ilmu tasawuf, konsep cinta atau mahabbah itu merupakan  tingkatan tertinggi dalam spiritual peribadatan seseorang. Rabi’ah Al-adawiyah misalnya, seorang wanita yang memperkenalkan konsep mahabbah ke seluruh umat muslim, beliau membuktikan rasa cintanya kepada Allah dengan melakukan ibadah yang begitu luar biasa. Beliau mengatakan bahwa ia beribadah kepada Allah bukan karena mengharapkan imbalan surga atau karena takut akan siksa neraka, melainkan karena memang betul-betul cintanya begitu tulus kepada Allah SWT. Karena ia beranggapan bahwa orang yang beribadah karena mengharapkan balasan surga atau takut neraka itu merupakan tanda ketidak-ikhlasan seorang muslim, berarti  jika balasan surga atau neraka itu tidak ada maka apakah orang-orang itu masih mau beribadah?
Begitu banyak kisah-kisah menakjubkan dari Rabi’ah Al-adawiyah yang menunjukkan betapa besarnya cintanya kepada Allah SWT, hingga ada riwayat yang menyatakan bahwa Rabi’ah tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya lantaran begitu cintanya kepada Allah SWT. Ketika ia ditanya alasan kenapa tidak ingin menikah, ia menjawab karena jikalau ia menikah, ia takut cintanya kepada Allah akan terbagi dan tidak utuh lagi, dan ia juga takut jikalau nikah akan melalaikannya dari beribadah kepada Allah SWT.
Selain itu, juga ada beberapa kiat untuk meraih mahabbatullah atau cintanya Allah SWT, yaitu:
1. Untuk meraih cinta Allah maka seseorang harus benar-benar beriman kepada Allah SWT dan membenarkan segala ajaran-ajaran-Nya. Kita harus meyakini  bahwa segala sesuatu yang diperintahkan Allah itu terdapat kebaikan dan kemaslahatan didalamnya, serta kita juga harus yakin bahwa segala sesuatu yang dilarangnya itu terdapat keburukan dan kerusakan di dalamnya. Dan cinta memang harus dilandasi dengan kepercayaan, tanpa adanya kepercayaan maka cinta akan sulit muncul.
2. Untuk meraih cinta Allah seseorang juga harus mengenal Allah lebih jauh, dalam istilah tasawuf disebut ma’rifatullah. Jika kita sungguh-sungguh telah mengenal Allah, bahwa Allah maha pengasih dan pemberi rahmat, dan kita mengetahui bahwa nikmat dan karunia Allah begitu banyak dicurahkan kepada kita, maka dengan itu akan timbul kesadaran supaya kita lebih semangat dalam beribadah kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukur kita terhadap nikmat dan karunia-Nya tersebut. Cinta memang butuh perkenalan, tanpa mengenali sesuatu yang akan dicinta, mana mungkin rasa cinta itu akan timbul, makanya dalam istilah sosial ada ungkapan yang berbunyi “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”.
3. Untuk meraih cinta Allah seseorang juga harus menebar cinta dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah, tanpa harus membeda-bedakan ras, suku , bangsa ataupun agama. Tidaklah dikatakan cinta Allah bagi seseorang yang masih suka menimbulkan permusuhan dan perkelahian antar sesama manusia. Hidup dengan cinta itu begitu indah, maka berusahalah menebarkan cinta kepada sesama makhluk-Nya.
PENGARUH CINTA ALLAH DALAM BERIBADAH
Allah menciptakan manusia tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Dalam melakukan ibadah tersebut maka sebaiknya kita menghadirkan rasa cinta kita kepada-Nya, agar ibadah yang kita lakukan terasa lebih nikmat, karena biasanya segala sesuatu yang didasarkan dengan cinta maka hasilnya pasti akan lebih baik. Jika kita mencintai Allah maka pastilah kita akan berusaha melakukan ibadah yang sesuai dengan ridha-Nya, sama halnya  seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada seorang gadis, pastilah pemuda ini rela melakukan apa saja yang diridhai dan diingini oleh gadis tersebut.
Menghadirkan rasa cinta kepada Allah saat beribadah tentu saja sangat berpengaruh terhadap kualitas ibadah tersebut. Ibadah yang dilandasi dengan cinta sangat berbeda dengan ibadah yang tidak dilandasi dengan cinta. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, jika kita mencintai Allah maka otomatis dorongan dan motivasi untuk beribadah secara maksimal akan lebih kuat, dan apa saja yang menjadi penghalang dalam beribadah maka akan dapat dikalahkan oleh rasa cinta tersebut.
Dalam menyikapi pengaruh cinta dalam beribadah ini, para ahli sufi telah mengelompokkan beberapa tipe dalam beribadah kepada Allah berdasarkan motivasinya dalam ibadah tersebut, diantaranya adalah:
1. Ibadah dengan perumpaan budak. Kita tahu bahwa budak memiliki mental yang penakut. Ia mau bekerja karena takut akan dimarahi oleh majikannya. Dan jika kita beribadah kepada Allah hanya karena takut akan murka-Nya, maka tak ada bedanya kita dengan budak yang motivasi ibadahnya itu hanya lantaran takut akan siksa dan azab dari sang Tuan.
2. Ibadah dengan perumpaan kuli. Setiap melakukan pekerjaan ia selalu ingin mendapatkan upah atau gaji secepatnya. Ia hanya mau bekerja dengan maksimal jika majikannya mau membayar gajinya tepat waktu, dan jika majikannya terlambat atau tidak membayarkan gajinya, maka biasanya ia langsung berubah menjadi malas dan bekerja asal-asalan. Begitu juga halnya dengan beribadah, ada orang yang beribadah kepada Allah lantaran ingin mendapatkan balasan atau bayaran secepatnya berupa kekayaan. Ia tidak memikirkan bahwa balasan Allah di akhirat lebih besar ketimbang balasan di dunia. Maka tidak sedikit orang yang memiliki tipe ibadah seperti ini ketika ia telah berusaha beribadah dengan maksimal, namun akhirnya Allah belum mengabulkan doa atau ibadahnya, ternyata hidupnya masih tetap dalam keadaan kekurangan maka ia akan berputus asa dan berhenti beribadah, bahkan sampai memaki-maki Allah.
3. Ibadah dengan perumpaan pedagang. Dalam bekerja, pedagang hanya memiliki satu tujuan yaitu mencari keuntungan. Dalam beribadah juga seperti itu, setiap ia ingin beribadah maka terlebih dahulu ia memikirkan untung ruginya. Tipe seperti ini tidak ada salahnya, di dalam Al-quran juga banyak ayat-ayat yang menjelaskan bahwa setiap amal ibadah yang baik maka akan mendapat pahala atau surga. Namun, bagi kaum sufi tipe ini mengurangi tingkat keikhlasan seseorang.
4. Ibadah dengan mentalitas syukur atau berterima kasih. Tipe ini merupakan tipe ibadah yang cukup baik, karena seseorang beribadah disebabkan karena ia merasa bahwa betapa banyak karunia Allah yg diberikan kepadanya sehingga ia ingin membalas semua itu dengan cara bersyukur dan melakukan ibadah kepada Allah dengan semaksimal mungkin. Dan ia tidak pernah memikirkan balasan apa yang akan diberikan Allah kepadanya yang penting baginya hanyalah bersyukur dengan ibadah yang dilakukannya tersebut.
5. Ibadah dengan perasaan cinta kepada Allah SWT. Tipe inilah yang banyak digunakan oleh para kaum sufi, terutama bagi Rabi’ah Al-adawiyah. Ia menganggap bahwa rasa cinta akan menimbulkan keikhlasan yang luarbiasa, sehingga jika ia beribadah ia tidak pernah memikirkan atau menghitung-hitung berapa besar pahala yang akan ia dapat. Sekalipun balasan surga atau pahala itu tidak ada maka ia akan tetap terus beribadah, karena landasan ia beribadah ialah rasa cinta kepada Allah yang begitu luar biasa.


Muhammad Bahrudin Syafi'i, Alumni MA Unggulan Al-Imdad Bantul dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, sekarang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menetap di LSQ Ar-Rohmah Bantul. Satu dari beberapa santri alumni #AmazingAlimdad yang menerima Program PBSB Kemenag RI 2016.

Add a comment

ARTIKEL

KARYA SANTRI

Login

Pengunjung

Kami memiliki 19 guests dan tidak ada anggota yang online

 

INFORMASI AKADEMIK LEMBAGA PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN AL IMDAD

      icon akademiccc p      icon info siswa     icon info guru     

ICON KEUANGAN

                        

      AKADEMIK      

  HALAMAN SISWA     HALAMAN GURU   
       KOPERASI     
 PENDAFTARAN 

 

KABAR MTS

KABAR MA-U AL IMDAD

METODE 33

02 Januari 2019

Buku Cara Cepat dan mudah Membaca Kitab Kuning Metode 33 (tiga tiga) adalah sebuah buku karya KH. Dr. Habib Syakur pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad yang menawarkan para santri untuk dapat membaca...

TAHUN BARU

31 Desember 2018

TAHUN 2018 TELAH MENINGGALKAN KITA DAN TAHUN 2019 TELAH NGHADANG KITA

Soal Kesehatan, Santri Ini Taklukkan 102 Santriwati Bantul

22 Maret 2018

Nur Laily Fauziah, santri Pesantren Al-Imdad Bantul menjadi yang terbaik dalam Lomba Kader Poskestren Santri Siaga 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Rabu (13/4). Melewati tiga babak sengit,...

Dalam Keterbatasan, Dua Santri Rajai Hasil UAMBN Se-DIY

22 Maret 2018

18 April 2016Bantul, NU Online.Sejak awal berdirinya, Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Al-Imdad Bantul terus menorehkan prestasi. Mulai dari Lomba Kader Kesehatan, Lomba Hadroh Kreatif, Aksioma (Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah)...

FOTO

            kirab mts     IMG 0192    paduan suara mts2

Login

Go to Top
Template by JoomlaShine