Arti Penting Akal

  

Setiap kemulian mempunyai dasar yang menjadi tempat berpijaknya untuk meloncat ke atas, melambung tinggi dan menarik perhatian. Kemulian yang didapatkan seseorang dalam hidupnya pastilah mempunyai titik awal, bisa dari usahanya sendiri, atau ia dapatkan dari warisan orang-orang sebelumnya yang ia lestarikan. Dan dasar untuk mencapai derajat kemuliaan, apapun wujudnya, adalah akal.

   Allah telah menjadikan akal sebagai hal pokok dalam agama Islam. Hal ini bisa kita ketahui dari bagaimana Allah mewajibkan amalan ibadah kepada seorang muslim yang telah sempurna akalnya, dan membebaskan orang yang tidak berakal -baik karena belum sempurna ataupun mengalami kerusakan karena sebab-sebab yang sifatnya medis- dari kewajiban melakukan ritual ibadah seperti sholat, puasa dan lain sebagainya.

   Dalam urusan duniawi pun, akal menjadi kunci kesuksesan setiap individu. Bagaimana seseorang mencapai sukses dan mendapatkan prestasi acap disebabkan oleh kemampuannya mengoptimalkan akal yang telah dianugerahkan Allah padanya. Keberhasilan seorang pengusaha dimulai dari bagaimana akalnya akan memutar modal usaha, mencari peluang, dan merangkul konsumen. Pun kesuksesan siswa dalam mencapai prestasi akademis pasti beriringan dengan usahanya memahami setiap mata pelajaran dengan daya pikir yang dihasilkan dari akal, karena jika hanya berbekal keinginan saja, tanpa upaya, sangat tidak mungkin seorang siswa bisa mencapai prestasi yang gemilang.

   Sayyidina Umar R.A pernah berkata bahwa : “Modal seorang laki-laki adalah akalnya,  kepribadiannya terletak pada agamanya, dan kehormatannya terletak pada etikanya.” Seorang sufi yang bernama Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa seseorang yang oleh Allah telah diberi akal, maka suatu saat akal itu akan bisa menyelamatkannya. Begitu pentingnya peran akal dalam diri manusia, karena dengannya ia bisa membedakan mana yang baik untuk dirinya dan mana yang merupaka keburukan yang harus dihindari.

   Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apa sebenarnya yang disebut sebagai akal itu?

   Para ulama’ berbeda-beda dalam memberikan pengertian terhadap akal. Al-Mawardi, seorang ahli fikih dan hukum pemeritahan Islam, menyatakan bahwa makna kata akal yang benar adalah “pengetahuan pada hal-hal yang bisa terjangkau secara otomatis”. Dan akal terbagi menjadi dua kategori; yang pertama: dihasilkan dari pengalaman panca indra, seperti mengetahui warna dan rasa makanan, dan yang kedua: dihasilkan dari pengalaman jiwa.

   Imam Al-Ghazaly menyatakan bahwa akal sesorang akan terus berkembang dan mencapai titik puncaknya pada usia empat puluh tahun. Kita mendengar kabar tentang Rasulullah SAW yang menerima risalah pada usia tersebut, saat seorang manusia telah mengalami kematangan berfikir melalui tempaan pengalaman hidup. Itulah salah satu sejarah yang bisa menjadi argumen pernyataan Imam Al-Ghazaly di atas.

   Tentunya perkembangan akal juga melalui tahapan usia dan banyak terpengaruh oleh kondisi lingkungan di mana seseorang menjani hidup dan peristiwa-peristiwa yang ia alami. Oleh sebab itulah, merawatnya adalah sebuah hal yang selalu mendesak dilakukan. Dengan kesadaran tentang arti perting akal yang sedemikian pokoknya, diharapkan seorang manusia bisa menjadi pribadi yang bermartabat dan membangun peradaban yang mulia, menjadi khalifah di muka bumi yang menciptakan kebaikan demi kebaikan yang bermanfaat di berbagai sektor, apakah di pendidikan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan. Dikarenakan bila semua sektor tersebut stabil, maka mengurus agama akan semakin mudah.

Disarikan dari:

Kitab Adab Ad-Dunya wa Ad-Din karya Al-Mawardi

Kitab Ihya' 'Ulum Ad-Din karya Imam Al-Ghazaly

al imdad online2

Pengunjung

Kami memiliki 15 guests dan tidak ada anggota yang online

ARTIKEL

Go to Top
Template by JoomlaShine