Tok...tok..tok... mengetuk pintu dalem kyai “Assalamualaikum”

“walaikumsalam, ehh mas Hamzah” jawab Aisyah

Hilang semua apa yang ada dipikiran Hamzah, entah karena grogi bertemu sama Aisyah atau memang tidak pernah bertemu perempuan

“Pak kyai ada neng?” tanya Hamzah

“Ohh ya sebentar ya mas, silahkan masuk nanti saya panggilkan abah”

Rasa deg-degan terus saja berlangsung, gemetar kaki Hamzah, apa aku suka sama mbak Aisyah?ohh rasanya tidak mungkin aku hanya santri ndeso kok, pikir Hamzah

“Hamzah, ada apa Zah?”

“Mau izin pulang pak kyai, kemaren ditelfon sama simbok, disuruh pulang sebentar”

“Ohh ya, jangan lama-lama lho ya, disini juga jaga pondok,kan santri pada pulang, nanti yang jaga siapa? Iya kan?”

“Iya kyai”

Izin sudah, sekarang tinggal menyiapkan barang-barang yang harus dibawa kerumah, pondok dengan rumah Hamzah mungkin berjarak 50 KM, kota memang sangat ramai,kendaraan-kendaraan mondar-mandir melintasi jalan raya hingga menyebabkan macet, bus jurusan kampung siap dikendarai oleh Hamzah, sekitar 1 jam setengah yang akan ditempuh oleh Hamzah disaat perjalanan.

“Assalamualaikum pak,mbok”

“Walaikumsalam Hamzah” jawab simbok dengan penuh dengan kerinduan

Suasana yang sangat menyenangkan bagi santri yang jarang pulang kemudian bertemu dengan orang tuanya, ngobrol kesana kemari di ruang tamu rumahnya yang bertembok kayu, bisa dikatakan rumah tradisional orang kampung. Mata menatap ke arah pemandangan yang sangat realistis indahnya, sungguh kenikmatan kampung yang murni, tak ada asap, sunyi, sepi, sejuk.

“Hamzah, kok melamun ki lho” sahut simbok

“Hamzah Cuma kangen mbok sama kampung, sudah berapa tahun tidak pulang bertemu bapak sama simbok” senyum Hamzah “Ohh iya, simbok mau bicara apa?sepertinya sangat penting?” tanya Hamzah

“ begini lho Zah, simbok sama bapak kan sudah tua, Hamzah juga sudah sarjana, berapa umur kamu coba? Lha simbok sama bapak pingin gendong cucu, kapan kamu mau nikah, Siti teman dekatmu dari dulu simbok rasa cocok buat kamu, dulu kamu juga pernah bilang kalau suka kan?”

Dunia terasa berputar menurut Hamzah, kepala seperti ditimpa oleh batu yang sangat besar jatuh dari langit, kebingungan, keresahan dan semua rasa bercampur jadi satu dibenak Hamzah, mau jawab apa, belum ada jawaban dan memang tidak persiapan untuk soal seperti ini.

“iya mbok, Hamzah memang sudah cukup umur untuk nikah, tapi Hamzah belum menemukan, emm ya simbok jangan khawatir ya, nanti Hamzah pikir-pikir di pondok masalah seperti itu”

1 minggu sudah Hamzah tinggal di rumah melepas rindu, dan Hamzah pergi ke pondok membawa beban dan senang, selalu kefikiran kata-kata simbokya.

Kumpul-kumpul dengan temannya, belajar, ngaji, dan menjaga pondok itu pekerjaan sehari-hari Hamzah, tapi sayangnya dia sudah tidak maksimal melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, H-3 sebelum liburan selesai Hamzah dipanggil pak kyai untuk membicarakan santri-santrinya setelah sampai di pondok.

“Bagaimana Zah, sudah siap pondok untuk menapung santri lagi?”

“InsyaAllah sudah pak kyai, saya dan teman-teman sudah menyiapkan semuanya”

“Ya bagus, jadi begini Zah, besok orang tuamu suruh ke rumahku ya, aku jodohkan kamu sama si Aisy, dia sudah cerita semua tentangmu, dia juga cocok dengan kamu”

Jantung Hamzah terasa akan copot mendengarkan perkataan pak kyai, pikiran kemana-mana, apakah ini mimpi, hal yang mustahil menurut Hamzah sekarang menjadi fakta di depan mata.

“Maaf kyai, bukannya saya lancang, tetapi saya tidak pantas buat mbak Aisy, saya belum bisa apa-apa kyai” jawab Hamzah

“Pantas itu bukan kamu yang menilai, aku sudah menilai kamu cukup untuk menggantikan aku mengasuh pondok ini, apakah kamu menolak perintahku Zah?”

Hamzah tidak bisa menjawab kecuali menerima perintah kyai nya.

“iya kyai, saya insyaAllah mau melaksanakan perintah kyai”

Suasana pondok sangat ramai dipenuhi dengan para tamu undangan, tapi buat Hamzah sangat berat menanggung amanah dari sang kyai, walaupun Hamzah sangat mencintai  Aisyah begitu juga sebaliknya.

Tapi untuk menjadi manusia itu butuh proses yang sangat lama, itulah yang disebut usaha, akhirnya Hamzah menjadi pengasuh pondok pesantren Al-Anwar.

 

Selesai...

terimakasih atas partisipasinya, silahkan coment untuk memberi saran dan kritiknya

tunggu kelanjutan cerpen selanjutnya...

al imdad online2

Pengunjung

Kami memiliki 9 guests dan tidak ada anggota yang online

ARTIKEL

Go to Top
Template by JoomlaShine