Berita Ponpes Al-Imdad

IMG 20190112 WA0046

Bantul- Untuk meningkatkan kemampuan santri menjadi muballighoh dan melatih kemampuan orasi dan public speaking para santri, Sabtu malam( 12/1/ 2019) para santri putri pondok pesantren Al - Imdad, yang bermukim di padukuhan Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul mengikuti kegiatan khitobah, yang di gelar oleh para pengurus pondok pesantren.

Kegiatan khitobah ini rutin dilaksanakan setiap malam ahad, yakni minggu kedua, minggu ketiga dan minggu keempat.

Menurut salah satu pengurus Pondok pesantren Al-Imdad, Siska Maqfiroh, mengatakan kegiatan khitobah di gelar untuk melatih mental para santri, dan menumbuhkan percaya diri mereka, agar ketika mereka berada di lingkungan masyarakat, mereka tidak merasa canggung apabila di minta untuk mengisi ceramah atau pidato.

Siska menambahkan untuk kegiatan khitobah kali ini, tidak hanya sekedar acara pidato saja, melainkan juga menampilkan pertunjukan drama dan pembacaan puisi.

Dalam kegiatan khitobah ini di bagi menjadi 15 kelompok, yakni dalam satu kelompok terdiri dari 11 hingga 15 orang.

Untuk materi Khitobah menyesuaikan dengan tema yang ada, untuk tema kali ini mengusung tema keutamaan bismillah. Selain itu disini santri juga di latih untuk bisa membuat tema sendiri yang nantinya akan ditampilkan di depan teman-temannya.

Siska mengharapkan dengan rutin nya pelaksanaan kegiatan khitobah dapat membuat santri bisa lebih percaya diri dalam mengekspresikan pidato nya, karya nya di depan teman-teman nya dan di masyarakat.

Khitobah merupakan suatu ucapan dengan memperhatikan susunan kata yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak, atau cara menyampaikan pesan dakwah dalam bentuk pidato yang bertujuan untuk memberikan kesan yang positif bagi pendengar.

Add a comment

metode 33

Buku Cara Cepat dan mudah Membaca Kitab Kuning Metode 33 (tiga tiga) adalah sebuah buku karya KH. Dr. Habib Syakur pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad yang menawarkan para santri untuk dapat membaca kitab kuning atau kitab gundul secara cepat dan praktis.

KH Dr Habib Syakur merumuskan sebuah metode yang diberinama “Metode 33” (tiga tiga) yang diperuntukkan bagi yang ingin dapat membaca kitab kuning dengan cepat. Metode ini dituangkan dalam bukunya “Cara Cepat Membaca Kitab Kuning Metode 33” yang dibedah dalam diskusi di sela-sela acara Mufakat IV Tingkat Nasional di Pancor, Lombok, NTB, Rabu (20/7/2011) malam.
KH. Habib A. Syakur meyakinkan bahwa belajar Bahasa Arab itu sebetulnya mudah. Melalui bukunya ini, pengasuh Pondok Pesantren al-Imdad Jogjakarta ini menjamin tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa membaca kitab kuning.
Bagi KH. Habib A. Syakur, membaca merupakan salah satu keahlian berbahasa. Setidaknya terdapat empat maharah al-lughawiyyah (keahlian berbahasa), yaitu maharah al-istima’ (keahlian mendengar), maharah al-kalam (keahlian berbicara), maharah al-qira’ah (keahlian membaca), dan maharah al-kitabah (keahlian menulis). Syakur mengakui bahwa bukunya ini hanya membidik satu dari empat maharah itu, yaitu maharah al-qira’ah.
Namun, kata KH. Habib A. Syakur, bukan berarti keahlian lain tidak penting. Untuk memahami dan mendalami Bahasa Arab secara komprehensif, keempat maharah itu harus dikuasai. “Buku saya hanya memberikan kebutuhan praktis santri, pelajar, dan peserta didik yang mau belajar membaca kitab kuning,” tandasnya.
KH. Habib A. Syakur menegaskan, bahasa bukanlah ilmu, melainkan seni. Yang dibutuhkan hanyalah latihan dan kebiasaan. “Ibarat orang yang mau belajar mengemudikan mobil, yang dibutuhkan adalah cara atau metodenya, bukan malah diajari cara membengkel mobil, seperti yang selama ini berlaku di pesantren-pesantren. Akibatnya salah sasaran,” katanya.
Bagi yang tertarik dan mau belajar membaca kitab kuning secara praktis, kata Syakur, setidaknya harus memperhatikan tiga hal, yakni kosakata, kaidah, dan latihan. “Kaidah yang diberikan jangan terlalu banyak. Cari susunan Bahasa Arab yang paling mudah dan sering digunakan. Juga susunan atau tata bahasa yang sama dengan susunan bahasa Indonesia,” imbuhnya.
Ketiga hal itu harus dibaca dan dilulang-ulang minimal sehari dalam tiga minggu. Karena itulah buku ini disebut “metode 33”. Di samping karena di dalamnya memuat 33 tahapan yang harus ditempuh dalam belajar membaca kitab kuning.
Melalui metode yang diciptakannya ini, Syakur menegaskan bahwa buku ini bukan berarti mau menghilangkan pembelajaran yang selama ini sudah ada, melainkan hanya mendasari pembelajaran yang sudah berlaku agar lebih cepat. “Saya menjamin tidak mengganggu konsep nahwu yang selama ini berlaku. Nahwu itu bengkel. Saya hanya menawarkan caranya saja,” katanya.
Namun, Syakur mengingatkan, kuncinya adalah motivasi. ia mengaku bahwa buku yang ditulisnya hanya menawarkan kemampuan bukan keahlian. “Agar lebih tahqiq dan mahir berbahasa Arab tentunya dibutuhkan latihan dan pembelajaran yang lebih tekun dan lebih serius lagi,” pungkasnya

Bagaimana mempelajari Metode 33 ini?

Metode Kitab ini bisa di download di bawah ini:

Pelajaran Pertama

Pelajaran 2

Pelajaran 3

Pelajaran 4

Pelajaran 5

Pelajara…………..

Belajar Kitab Online fia Facebook Klik disini

Add a comment

METODE 33

Buku Cara Cepat dan mudah Membaca Kitab Kuning Metode 33 (tiga tiga) adalah sebuah buku karya KH. Dr. Habib Syakur pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad yang menawarkan para santri untuk dapat membaca kitab kuning atau kitab gundul secara cepat dan praktis.

KH Dr Habib Syakur merumuskan sebuah metode yang diberinama “Metode 33” (tiga tiga) yang diperuntukkan bagi yang ingin dapat membaca kitab kuning dengan cepat. Metode ini dituangkan dalam bukunya “Cara Cepat Membaca Kitab Kuning Metode 33” yang dibedah dalam diskusi di sela-sela acara Mufakat IV Tingkat Nasional di Pancor, Lombok, NTB, Rabu (20/7/2011) malam.
KH. Habib A. Syakur meyakinkan bahwa belajar Bahasa Arab itu sebetulnya mudah. Melalui bukunya ini, pengasuh Pondok Pesantren al-Imdad Jogjakarta ini menjamin tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa membaca kitab kuning.
Bagi KH. Habib A. Syakur, membaca merupakan salah satu keahlian berbahasa. Setidaknya terdapat empat maharah al-lughawiyyah (keahlian berbahasa), yaitu maharah al-istima’ (keahlian mendengar), maharah al-kalam (keahlian berbicara), maharah al-qira’ah (keahlian membaca), dan maharah al-kitabah (keahlian menulis). Syakur mengakui bahwa bukunya ini hanya membidik satu dari empat maharah itu, yaitu maharah al-qira’ah.
Namun, kata KH. Habib A. Syakur, bukan berarti keahlian lain tidak penting. Untuk memahami dan mendalami Bahasa Arab secara komprehensif, keempat maharah itu harus dikuasai. “Buku saya hanya memberikan kebutuhan praktis santri, pelajar, dan peserta didik yang mau belajar membaca kitab kuning,” tandasnya.
KH. Habib A. Syakur menegaskan, bahasa bukanlah ilmu, melainkan seni. Yang dibutuhkan hanyalah latihan dan kebiasaan. “Ibarat orang yang mau belajar mengemudikan mobil, yang dibutuhkan adalah cara atau metodenya, bukan malah diajari cara membengkel mobil, seperti yang selama ini berlaku di pesantren-pesantren. Akibatnya salah sasaran,” katanya.
Bagi yang tertarik dan mau belajar membaca kitab kuning secara praktis, kata Syakur, setidaknya harus memperhatikan tiga hal, yakni kosakata, kaidah, dan latihan. “Kaidah yang diberikan jangan terlalu banyak. Cari susunan Bahasa Arab yang paling mudah dan sering digunakan. Juga susunan atau tata bahasa yang sama dengan susunan bahasa Indonesia,” imbuhnya.
Ketiga hal itu harus dibaca dan dilulang-ulang minimal sehari dalam tiga minggu. Karena itulah buku ini disebut “metode 33”. Di samping karena di dalamnya memuat 33 tahapan yang harus ditempuh dalam belajar membaca kitab kuning.
Melalui metode yang diciptakannya ini, Syakur menegaskan bahwa buku ini bukan berarti mau menghilangkan pembelajaran yang selama ini sudah ada, melainkan hanya mendasari pembelajaran yang sudah berlaku agar lebih cepat. “Saya menjamin tidak mengganggu konsep nahwu yang selama ini berlaku. Nahwu itu bengkel. Saya hanya menawarkan caranya saja,” katanya.
Namun, Syakur mengingatkan, kuncinya adalah motivasi. ia mengaku bahwa buku yang ditulisnya hanya menawarkan kemampuan bukan keahlian. “Agar lebih tahqiq dan mahir berbahasa Arab tentunya dibutuhkan latihan dan pembelajaran yang lebih tekun dan lebih serius lagi,” pungkasnya

Add a comment

kh humam bajuri1

Banyak sekali keistiqomahan-keistiqomahan yang ada didalam pribadi Simbah KH.Humam Bajuri, tai dibawah ini adalah salah satu keistiqomahan beliau, hal ini diutarakan langsung oleh KH.Henri Sutopo Krapyak , salah seorang santri beliau , yakni Saat Simbah KH.Humam Bajuri Takziyah di Lasem...saya nderekke Mbah Kyai Humam beserta rombongan Kyai2 sepuh lainnya...

Selesai Tahlil Mbah Kyai Humam kelihatan gelisah mendekati saya sambil ngendiko kalau Beliau pingin segera kundur ke Jogja mendahului para Kyai lainnya...

Ketika saya tanya kenapa tergesa  pulang apa ada kepentingan mendesak...Beliau menjelaskan kalau besok Subuh harus sudah sampai di Ndalem Bantul karena punya Kajian Rutin bakda Subuh di Masjid Kauman yang tidak bisa ditinggalkan.

Saya matur mbok sekali kali libur kan nggak apa-apa toh Jamaah bisa memaklumi.

Beliau kelihatan kurang berkenan dengan dengan usulan saya...dan nada agak tinggi ngendiko pokoknya harus pulang secepatnya...sambil menjelaskan bahwa Pengajian rutin bakda Subuh itu sdh berjalan lama dan dalam satu Tahun bisa dikata liburnya cuma dua kali...yaitu Malam Idul fitri dan malam idul adha...

Akhirnya saya berusaha mencari Mobil yang bisa kembali duluan ke Jogja untuk nderekke Mbah Kyai Humam yang berupaya untuk tetap bisa mengajar Ngaji bakda Subuh yang tidak karena Absen sidik jari dan bukan karena bisyaroh honor...

Sebuah keteladanan dalam istiqomah dedikasi Ilmu yang luar biasa...

Allohummaghfirlahu...

 

Sumber : KH. HENRI SUTOPO KRAPYAK

IMG 3396

Dzurriyah PONPES AL IMDAD bersama KH MUSTOFA BISRI dalam rangka HAUL ALMAGHFURLAH KH. HUMAM BAJURI ke 23 di Kedung Guwosari Pajangan Bantul

Add a comment

IMG 0180

MAKNA IDUL FITRI

Terdapat beberapa pendapat dalam memaknai Kata Iedul Fitri, yang merupakan hari raya umat Islam di seluruh dunia. Jika dilihat dari segi bahasanya, Iedul Fitri terdiri dari dua kata yaitu
( عيد ) dan ( فطر ). Dan masing-masing dari kata ini memiliki maknanya tersendiri :
1. ( عيد ) berasal dari kata ( عاد – يعود ) yang berarti kembali. Namun ada juga yang menterjemahkan Ied ini sebagai hari raya, atau hari berbuka. Pendapat yang kedua ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ – رواه ابن ماجه
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Idul Fitri adalah hari dimana kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari dimana kalian berkurban.” (HR. Ibnu Majah)

2. ( الفطر ) artinya adalah “berbuka” yang berasal dari kata ( أفطر ) yang memang secara bahasa artinya berbuka setelah berpuasa. Namun disamping itu, ada juga yang menerjemahkan fitri dengan “fitrah”, yang berarti suci dan bersih. Pendapat yang kedua ini berdasarkan pendapatnya pada hadits Rasulullah SAW :
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ – رواه البخاري
Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang anak dilahirkan, melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih/ suci). Orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari)
Dari maknanya ini, dapat disimpulkan adanya dua makna dalam menerjemahkan Iedul Fitri, yaitu :
1. Iedul Fitri diterjemahkan dengan kembali kepada fitrah atau kesucian, karena telah selesai melaksanakan Ibadah Puasa sebulan penuh di bulan ramadhan. Sehingga ia mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.
2. Iedul Fitri diterjemahkan dengan hari raya berbuka, dimana setelah sebulan penuh ia berpuasa, menjalan ibadah puasa karena Allah SWT, pada hari Idul Fitri ini ia berbuka dan tidak berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT.

Kedua makna tersebut saling melengkapi dan tidak bertentangan sama sekali. Sehingga Iedul Fitri adalah hari raya umat Islam yang dianugerahkan oleh Allah SWT di mana manusia yang melaksanakan Ibadah Puasa dikembalikan pada fitrahnya dengan mendapatkan ampunan dari Allah SWT, sekaligus sebagai hari bergembiranya kaum muslimin dimana diperintahkan untuk makan dan minum sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. Oleh karena itulah, muncullah doa yang dibacakan sesama kaum muslimin pada hari raya idul fitri ketika berjabat tangan dan saling memaafkan, yaitu :
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang. Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita semua.

 
 
 
Add a comment

Subkategori

VISI PONDOK PESANTREN AL IMDAD

 “SANTRI SALIH”

  • Santun

  • Agamis

  • Nasionalis

  • Terampil

  • Ramah

  • Inovatif dan

  • Sadar Lingkungan Hidup

 

 "MISI"

  1. Mendidik santri menjadi pribadi yang santun di manapun dan kapanpun

  2. Menghantarkan santri berilmu ke-Islam-an yang luas dan mendalam berdasar pada tradisi para ‘Ulama Negeri.

  3. Menghantarkan santri berwawasan kebangsaan yang kuat.

  4. Menghantarkan santri menjadi pribadi yang mandiri dan terampil

  5. Menumbuhkembangkan sikap ramah santri baik kepada sesama manusia maupun kepada lingkungan.

  6. Menghantarkan santri yang memiliki  pengembangan keIslaman di berbagai bidang

  7. Meningkatkan wawasan ke-Islam-an dan keilmuan yang berbasis pada lingkungan hidup.

  

INFO PENDAFTARAN

  

 

AL IMDAD45

 

Kalendar

« January 2019 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31      

FOTO

     8da39a52 2255 4bb0 88be 0d4328016e3b    IMG 0192

Go to Top
Template by JoomlaShine