PENERIMAAN SANTRI BARU TAHUN 2020/2021

 

ALUR PENDAFTARAN SYARAT-SYARAT PENDAFTARAN PERSIAPAN SEBELUM MENDAFTAR 

 

  1. MEMBUAT AKUN

  2. LOGIN / DAFTAR

  3. MELENGKAPI DATA

  4. CETAK BUKTI PENDAFTARAN                                  

                           

                                                                                         

   1. Berumur Maksimal 14 Th untuk  MTs   

   2. Berumur Maksimal 17 Th untuk MA   

   3. Sehat Jasmani dan Rohani

   4. Mengisi Formulir Pendaftaran online

   5. Mengikuti Tes dan Wawancara                  

        calon Santri dan Wali Santri                                         

   1. Siapkan Nomor  (NISN)

   2. Siapkan Nomor Induk Keluarga (NIK)

   3. Siapkan File Scan Foto Calon Santri                          

   4. Siapkan Nomor HP Orang Tua

 

    

WAKTU PENDAFTARAN PELAKSANAAN TES DAN WAWANCARA PENGUMUMAN HASIL SELEKSI

  Gelombang 1 : Desember s/d Januari 2020                                                                                                                               

TES DAN WAWANCARA GELOMBANG PERTAMA AKAN DILAKSANAKAN BERSAMA PADA AKHIR JANUARI/AWAL FEBRUARI

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI AKAN DIUMUMKAN 3 HARI SETELAH TES DAN WAWANCARA                                       

   

 

DAFTAR MTS   

DISINI  

                                                 

 DAFTAR MA   

DISINI 

 

Profile

Sastra merupakan salah satu macam seni yang menitik beratkan pada bahasa dan kata. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu menggunakan sastra dalam berbicara, namun hal itu tidak disadarinya. Ungkapan di atas adalah pengertian secara umum. Jika dilihat lebih dalam lagi bahwa sastra merupakan kata-kata yang lahir dari imajinasi dan hati nurani manusia kemudian menjadi sebuah karya. Seseorang yang mendalami sastra akan lebih memiliki keberanian dalam berucap. Misalnya pada zaman Umar bin Khattab, sastra sangat berpengaruh dalam menumbuhkan semangat dan sifat kepahlawanan. 

Sastra di Indonesia memiliki sepuluh urutan waktu atau masa yaitu masa Angkatan Pujangga Lama, Angkatan Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 1945, Angkatan 1950-1960-an, Angkatan 1966-1970-an, Angkatan 1980-1990-an, Angkatan Reformasi, dan Angkatan 2000-an. Pada tulisan ini tidak akan menjelaskan satu per satu masa sastra di Indonesia, tetapi lebih menekankan pada peran sastra bagi masyarakat dan khususnya pondok pesantren.

Pondok pesantren merupakan gabungan dari dua kata yang memiliki makna sendiri-sendiri. Pada dasarnya, Pondok adalah tempat penginapan atau tempat menginap, sedangkan Pesantren yaitu tempat untuk belajar. Jadi, Pondok Pesantren ialah sebuah tempat untuk menimba ilmu seseorang dan disediakan juga untuk menginap. Seseorang yang belajar di pondok pesantren biasa disebut dengan “Santri”. Pada mulanya, pondok pesantren hanya menyediakan pelajaran-pelajaran agama yang berupa kitab kuning. Kemudian, dengan berjalannya waktu, pendidikan di pondok pesantren tidak hanya mempelajari ilmu agama, akan tetapi juga mempelajari ilmu-ilmu formal. Oleh karena itu, pemikiran santri mampu bertambah luas.

Dalam hal ini, sedikit demi sedikit sastra mulai masuk dalam kehidupan santri. Aliran-aliran sastra seperti puisi, cerpen, novel, esai, dan lain-lain mulai diminati oleh beberapa santri. Peminatan ini dikarenakan terdapat kebebasan belajar dan membaca bagi santri. Bukan hanya kitab kuning saja yang dipelajarinya, namun buku-buku juga dipersilahkan untuk dibaca. Selain itu, kreatifitas dan produktivitas santri berkembang dengan pesat, bahkan bakat yang tadinya terpendam dalam diri santri menjadi terlihat dengan melahirkan karya-karyanya. Sifat optimis inilah yang harus dipertahankan dan jangan sampai ada hal-hal yang mengakibatkan mental santri dalam berkarya itu luntur.

Misalnya di Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, di sana memiliki sebuah Sanggar yang digunakan sebagai tempat atau wadah untuk santri terutama bagi mereka yang memiliki minat atau bakat dalam hal seni dan sastra. Tempat ini layaknya komunitas-komunitas sastra yang ada di luar pondok pesantren. Para santri juga dibimbing untuk melahirkan sebuah karya yang mereka inginkan baik berupa puisi, cerpen, atau lainnya. Maka dari itu, tidak dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren hanya fokus pada ilmu agama saja tapi lebih jauh dari itu. Mungkin bisa diambil contoh juga bahwa banyak sekali sastrawan di Indonesia yang lulusan dari pondok pesantren seperti KH. Musthofa Bisri atau biasa dipanggil dengan Gus Mus, Zawawi Imron, Emha Ainun Najib, dan masih banyak lagi.

Selanjutnya, di masa modern ini mulai muncul juga bahwa karya sastra dari kalangan pesantren dijadikan sebuah perlombaan. Terdapat beberapa jenis perlombaan yang sering digunakan dalam kalangan pesantren baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional yaitu pembacaan dan cipta puisi, pembuatan cerpen, dan karya-karya lainnya. Hal ini membuktikan bahwa semangat seorang santri di bidang sastra sangat tinggi. Rasa semangat inilah melahirkan pemikiran yang kritis terhadap karya sastra. Misalnya puisi, puisi menjadi sesuatu yang dapat dirasakan dan dipikirkan, sekaligus merangsang kualitas penalaran untuk mencoba memahaminya secara menyeluruh dan lengkap.

Seni sastra tidak hanya berperan dalam hal meningkatkan pemikiran santri, akan tetapi juga dapat sebagai media dakwah. Sebagai buktinya ketika mengingat perjuangan para walisongo dalam menyebarkan agama Islam. Sunan Kalijaga menggunakan wayang dalam menyebarkan agama Islam, sehingga orang yang melihat merasa tertarik dan menikmati adegan tersebut. Orang-orang juga tidak merasa terbebani dengan ajaran islam karena seni mempunyai fungsi untuk menghibur dengan ide-ide tertentu. Sunan Kalijaga bukan hanya menggunakan seni dalam berdakwah, akan tetapi juga menggunakan sastra. Pada saat dalang sedang memainkan wayang dengan kata-kata yang diucapkan olehnya, dapat ditangkap beberapa kata yang indah dan enak didengar. Seperti itulah peran sastra yang digunakan oleh sunan Kalijaga.

Bagi seorang santri pun mampu menyebarkan ilmu-ilmu agama dengan bentuk sastra seperti cerpen atau novel, sehingga menarik dan membuat penasaran bagi pembaca. Jadi, kesimpulannya bahwa peran sastra dalam pondok pesantren sangat besar. Menumbuhkan semangat membaca dan berkarya bagi seorang santri. Melahirkan imajinasi yang bermanfaat dan mudah dipahami bagi orang lain.

Oleh: Hanif Hilmi Ali

LOGOO0

 

SUISFO AL IMDAD

 

SISTEM INFORMASI AKADEMIK 

 

PONDOK PESANTREN AL IMDAD

 

cartoon bear       cartoon cat      cartoon elephant          cartoon penguin

 

 

Literasi dalam dunia Islam telah hidup semenjak agama ini hadir pertama kali dengan wahyu perintah membaca pada Q.S Al-'Alaq. Di tengah-tengah dinamika penulisan al-Qur'an sejak masa Nabi SAW hingga kekhalifahan Utsman bin 'Affan RA, periwayatan hadits juga menorehkan sejarah literasinya sendiri yang sama saja terus berkembang dan berkelanjutan hingga hari ini. Munculnya bidah-bidah dalam hal keilmuan Islam, yang bermuara pada Qur'an-Hadits dan Tarikh Islam, mencapai titik mengagumkan dengan keberadaan lebih dari 20 disiplin pelajaran baru seperti yang diceritakan dua sejarawan kontemporer; Fuad Sezgin dari Turki dan Carl Brockelmann seorang orientalis berkebangsaan Jerman, dalam persaingan karya tulis mereka berdua. Sezgin selama 15-san tahun menulis Tarikh at-Turats al-'Arabi untuk menyusul Geschichte der Arabischen Schrifttums-nya Brockelmann, yang sama-sama merekam perjalanan literasi Islam. Rasulullah SAW pernah terindikasi menyampaikan anjuran agar umat Islam mengikat ilmu dengan tulisan, dan barangkali itulah motif para sarjana Islam menulis —selain juga karena mengangkat pamor dan prestise. Sumber-sumber ilmu Islam yang dikerjakan para ulama dari masa ke masa, kini telah berevolusi; dari bentuk kuno, tradisional, print out menjadi naskah digital dan bahkan kiwari telah ditranskrip berupa berbagai perangkat lunak komputer yang instan. Maktabah Syamilah, atau Shamela, menjadi juara —karena lebih lengkap dan mumpuni—diantara aplikasi-aplikasi lain, semisal, software ilmu tafsir dan hadits Mausu'ah at-Tafasir wa 'Ulum al-Qur'an dan Mausu'ah al-Hadits as-Syarif. Dari Indonesia sendiri, ada aplikasi Qur'an Kemenag yang memuat mushaf sekaligus tafsirnya, dibuat oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama RI. Ada juga ensiklopedi hadits, Lidwa, dari Lembaga Ilmu dan Dakwah Publikasi Sarana Keagamaan. Pusat Kajian Hadits di Jakarta juga menciptakan perpustakaan Islam digital. Pun begitu, Syamilah lebih familier digunakan. Para kyai dan santri lebih mengandalkannya, dibanding yang lain, ketika mencari landasan "Bahtsul Masail". Sebagian pesantren bahkan memodifikasi Syamilah dengan menambah hasil kajian mereka sendiri ke dalam daftar isi aplikasi, lalu menyebarkannya. Berawal dari Kalangan Ilmiah Daring Digitalisasi sumber-sumber tulisan Islam —atau terkenal sebagai kitab kuning di kuping Indonesia— seperti Maktabah Syamilah belum banyak diteliti sejarahnya. Benar ada sebuah jurnal yang digarap sekelompok penulis barat berjudul "Shamela: A Large-Scale Historical Arabic Corpus", pun demikian, karya Yonatan Belinkov dkk tersebut tidak menjelaskan bagaimana latar belakang komputerisasi turats elektronik tersebut. Berawal dari ketersedian jaringan informasi internet, muncul grup diskusi pemikiran tentang ajaran dan isu keislaman. Halaman situs yang dibuat laiknya media sosial tatap muka bernama Multaqā Ahl al-Hadits (forum pengkaji hadits) menjadi primadona kalangan akademikus Islam. Walaupun dengan nama ahli hadits, situs tersebut di dalamnya tiada lain kecuali diskusi dan perdebatan seputar berbagai isu-isu Islam, terutama Qur'an-Hadits dan hukum fiqh. Tentu saja bahasa yang digunakan ialah Arab, bukan terjemah bahasa lain. Multaqā Ahl al-Hadits merupakan situs islami pertama yang didedikasikan untuk para pengkaji dan ahli ilmu syariat, anggotanya tidak terbatas dari Timur Tengah, namun seantero dunia termasuk Indonesia. Siapapun bisa masuk mendaftarkan diri untuk terlibat langsung dalam forum daring tersebut. Aturan utama dalam keterlibatan di dalamnya didasarkan pada keikhlasan demi Allah SWT semata. Pada tahun 2007, salah seorang anggota forum, Aissam Bachir, membuat pernyataan di situs Multaqā bahwa Maktabah Syamilah muncul pertama kali dalam forum kajian tersebut, bahkan ia menyebut juga tentang ketenaran kitab-kitab pdf yang benar-benar bermula dari media diskusi daring tersebut. Maktabah Syamilah sendiri di-launching pada April 2005 untuk versi pertama, yang berupa aplikasi offline, terbatas pada sistem operasi Windows. Selanjutnya pada 2006 hingga 2008 dikembangkan agar bisa pengguna leluasa untuk mengatur opsi kitab dan mempermudah menyalin naskah dengan ketersediaan tombol khusus. Semuanya dipersembahkan secara gratis (majani). Dengan berkembangnya ponsel pintar, semacam iPhone dan Android, pihak Syamilah memperluas pemrograman aplikasinya agar bisa terbaca dalam iOS-nya Apple dan OS Android pada tahun 2012, tetap dengan karakter bebas harga bahkan tanpa iklan layaknya apps yang biasa ditemukan di apps-store. Sebelumnya pada tahun yang sama telah dirilis Maktabah Syamilah yang bersifat daring tanpa harus mengunduh aplikasi. Konten kitab yang dikandung Syamilah mencapai lebih dari 6100 judul. Informasi mengenai hal itu dan panduan aplikasi disampaikan secara resmi dalam situs sekaligus peranti daring mereka. Perpustakaan lain yang punya relasi dengan Syamilah ialah Waqfeya Syamilah dan Al-Meshkat. Pengoprasian Syamilah cukup mudah —tentunya bagi kalangan terpelajar referensi Arab gundul semisal lulusan UIN atau pesantren— hanya dengan mengetik kata kunci dan memfilter kitab apa saja, dan disiplin ilmu yang akan disinggung, dan wus, akan muncul pembahasan sesuai yang diketikkan di kolom pencarian, dari kitab-kitab yang dituju. Tak kurang puluhan cabang pengetahuan, dari Akidah, Tafsir, Hadits, Ilmu Qur'an-Hadits, Ushul dan Qawaidul Fiqh, Tarikh, Nahwu, Shorof, Balaghah, Tasawuf, hingga Kesehatan dan Geografi, tersedia di dalam Syamilah secara skala besar. Dari ribuan judul yang tersedia, jika dikalilipatkan dengan volume berbagai kitab berjilid, tentu bisa mencapai ratusan ribu eksemplar cetakan, yang untuk menampungnya sebagai perpustakaan fisik, akan butuh gedung luas dan bertingkat. Harus menyediakan ruang memori hardisk tak kurang dari 90 hingga 250 GB, untuk versi unduhan sangat lengkap, agar bisa menjalankan aplikasi itu di komputer. Akan tetapi, rata-rata pengguna memakai ukuran minimal 15,4 GB, yang mana sudah cukup lengkap dan bisa diandalkan untuk kebutuhan referensi standar para kyai dan dosen. Sementara untuk versi Android dan iOS, pengguna bisa memilih dan gonta-ganti file kitab yang ingin dicantumkan dalam daftar isi aplikasi, agar menyesuaikan kapasitas memorinya. Bagi pengkaji hadits, Syamilah juga dapat digunakan untuk menilai kekuatan sahih dan tidaknya sebuah hadits (takhrij). Tugas selanjutnya, bagi pengguna, ketika telah menemukan materi bahasan dari sumber-sumber yang tersedia ialah menelaahnya dengan teliti satu persatu. Pihak di Belakang Layar dan Tandingannya Dari situs resminya, nama-nama yang diperlihatkan hanya terbatas pada beberapa individu. Ada Othman Taha (Utsman Toha), seorang kaligraf asal Suriah yang menetap di Saudi, sebagai kreator yang menuliskan nama Maktabah Syamilah dengan gaya naskhi. Rancangan-rancangan yang lain dikerjakan oleh sebagian anggota Multaqā. Abu Khaled As-Sulami dan beberapa nama lain disebut oleh situs Maktabah Syamilah, mereka merupakan para pentolan yang digelari sebagai Masyāyikh dan pengurus Multaqā. Keterkaitan Maktabah Syamilah dengan Multaqā adalah sinyal kuat bahwa kontribusi pembuatan aplikasi tersebut dijabani oleh orang-orang Multaqā yang kebanyakan berasal dari kota Madinah. Jika ditelisik lebih lanjut dalam aplikasi Syamilah yang tersedia di ponsel pintar, akan ditemukan informasi keterlibatan Biro Dakwah Islam Ar-Rawdah, sebuah kerjasama badan amal yang bergerak dalam islamisasi, yang berkantor di Riyadh, Arab Saudi. Sebagian kalangan meragukan keberadaan Syamilah sebagai platform yang mengandung pengaruh ideologi Wahabi. Demikian tidak seutuhnya salah, karena memang kitab-kitab karya Ibnu Taimiyah dan Al-Bani secara khusus mendapat lis tersendiri yang juga menonjol di antara yang lain. Karya Bin Baz juga banyak tercantum dalam beberapa cabang ilmu. Nama-nama tersebut acap diidentikkan dengan kandungan ideologi Wahabi. Di sisi lain, Syamilah sebenarnya juga memuat karya ulama Asy'ariyah dan ulama sufi seperti Al-Ghazali dan yang lainnya, yang memuat konsep tauhid yang sama sekali berbeda dari Salafi-Wahabi. Untuk referensi hasil karya ulama Syi'ah dan Ahmadiyah sama sekali tidak ada, yang ada justru kitab-kitab yang berlawanan dengan dua kelompok tersebut. Jika toh ada, minimal hanya karya ulama yang disinyalir bahwa pengarangya berafiliasi ke mazhab Syi'ah. Menurut penelusuran kami, bila ingin mendapatkan aplikasi serupa dengan Syamilah tapi berisi karya ulama Syi'ah, hingga artikel ini ditulis, siapapun dapat menemukannya di beberapa akun medsos dan situs blog, yang menjualnya atau menyediakan secara gratis. Sepertinya itu dibuat untuk menyaingi Syamilah. Akan halnya tuduhan bahwa orang-orang Salafi-Wahabi telah merubah konten yang terdapat dalam kitab-kitab di dalam Syamilah, seperti yang sering dipahami, pengguna dipersilakan dan dapat langsung kroscek ke kitab versi cetak. Syamilah telah melengkapi keistimewaan aplikasinya dengan tanda kitab muwāfiq lil mathbū' (penomoran halaman sesuai versi cetak), untuk kepentingan verifikasi. Abdul Halim, seorang dosen IAIN Surakarta, dalam bukunya Wajah Al-Qur'an di Era Digital (2018), "meskipun dikatakan oleh sebagian kalangan bahwa piranti ini dibuat oleh kalangan Salafi-Wahabi yang memuat ajaran-ajaran mereka, namun tidak menutup kemungkinan aplikasi ini (Syamilah) sangat berguna bagi kalangan akademisi". Di era kemajuan dan keterbukaan informasi, siapapun hampir mustahil bisa menghalangi siapapun untuk membaca karya siapapun.

Pengunjung

Kami memiliki 246 guests dan one member yang online

  • rardGrefs
 

FOTO

            kirab mts     IMG 0192    paduan suara mts2

Go to Top
Template by JoomlaShine