Berita MA AL-Imdad

jjjj

Buku Cara Cepat dan mudah Membaca Kitab Kuning Metode 33 (tiga tiga) adalah sebuah buku karya KH. Dr. Habib Syakur pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad yang menawarkan para santri untuk dapat membaca kitab kuning atau kitab gundul secara cepat dan praktis.

KH Dr Habib Syakur merumuskan sebuah metode yang diberinama “Metode 33” (tiga tiga) yang diperuntukkan bagi yang ingin dapat membaca kitab kuning dengan cepat. Metode ini dituangkan dalam bukunya “Cara Cepat Membaca Kitab Kuning Metode 33” yang dibedah dalam diskusi di sela-sela acara Mufakat IV Tingkat Nasional di Pancor, Lombok, NTB, Rabu (20/7/2011) malam.
KH. Habib A. Syakur meyakinkan bahwa belajar Bahasa Arab itu sebetulnya mudah. Melalui bukunya ini, pengasuh Pondok Pesantren al-Imdad Jogjakarta ini menjamin tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa membaca kitab kuning.
Bagi KH. Habib A. Syakur, membaca merupakan salah satu keahlian berbahasa. Setidaknya terdapat empat maharah al-lughawiyyah (keahlian berbahasa), yaitu maharah al-istima’ (keahlian mendengar), maharah al-kalam (keahlian berbicara), maharah al-qira’ah (keahlian membaca), dan maharah al-kitabah (keahlian menulis). Syakur mengakui bahwa bukunya ini hanya membidik satu dari empat maharah itu, yaitu maharah al-qira’ah.
Namun, kata KH. Habib A. Syakur, bukan berarti keahlian lain tidak penting. Untuk memahami dan mendalami Bahasa Arab secara komprehensif, keempat maharah itu harus dikuasai. “Buku saya hanya memberikan kebutuhan praktis santri, pelajar, dan peserta didik yang mau belajar membaca kitab kuning,” tandasnya.
KH. Habib A. Syakur menegaskan, bahasa bukanlah ilmu, melainkan seni. Yang dibutuhkan hanyalah latihan dan kebiasaan. “Ibarat orang yang mau belajar mengemudikan mobil, yang dibutuhkan adalah cara atau metodenya, bukan malah diajari cara membengkel mobil, seperti yang selama ini berlaku di pesantren-pesantren. Akibatnya salah sasaran,” katanya.
Bagi yang tertarik dan mau belajar membaca kitab kuning secara praktis, kata Syakur, setidaknya harus memperhatikan tiga hal, yakni kosakata, kaidah, dan latihan. “Kaidah yang diberikan jangan terlalu banyak. Cari susunan Bahasa Arab yang paling mudah dan sering digunakan. Juga susunan atau tata bahasa yang sama dengan susunan bahasa Indonesia,” imbuhnya.
Ketiga hal itu harus dibaca dan dilulang-ulang minimal sehari dalam tiga minggu. Karena itulah buku ini disebut “metode 33”. Di samping karena di dalamnya memuat 33 tahapan yang harus ditempuh dalam belajar membaca kitab kuning.
Melalui metode yang diciptakannya ini, Syakur menegaskan bahwa buku ini bukan berarti mau menghilangkan pembelajaran yang selama ini sudah ada, melainkan hanya mendasari pembelajaran yang sudah berlaku agar lebih cepat. “Saya menjamin tidak mengganggu konsep nahwu yang selama ini berlaku. Nahwu itu bengkel. Saya hanya menawarkan caranya saja,” katanya.
Namun, Syakur mengingatkan, kuncinya adalah motivasi. ia mengaku bahwa buku yang ditulisnya hanya menawarkan kemampuan bukan keahlian. “Agar lebih tahqiq dan mahir berbahasa Arab tentunya dibutuhkan latihan dan pembelajaran yang lebih tekun dan lebih serius lagi,” pungkasnya

Add a comment

IMG 3911 Copy Copy Copy 2

TAHUN 2018 TELAH MENINGGALKAN KITA DAN TAHUN 2019 TELAH NGHADANG KITA

Add a comment

18 April 2016
Bantul, NU Online.
Sejak awal berdirinya, Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Al-Imdad Bantul terus menorehkan prestasi. Mulai dari Lomba Kader Kesehatan, Lomba Hadroh Kreatif, Aksioma (Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah) hingga MQK, Pospeda, dan MTQ.

Yang terkini, MA berbasis pesantren ini berhasil menempatkan dua santrinya di posisi tertinggi hasil Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) MA 2016 DI Yogyakarta, atas nama Ananta Prayoga Hutama Syam dan Ahmad Fahmi.



Dengan menjalankan prinsip “Berprestasi dalam Keterbatasan”, madrasah yang bernaung di bawah Yayasan Pondok Pesantren Al-Imdad ini terus berjuang mewujudkan keunggulan-keunggulan yang diharapkan menjadi bekal bagi siswa-siswi dalam menghadapi masa depan—tahfidzul qur’an, baca kitab kuning, muhadatsah (percakapan bahasa Arab), conversation (percakapan bahasa Inggris), dan karya tulis. Prinsip tersebut dikumandangkan agar siswa-siswi MA Unggulan Al-Imdad, yang juga santri di Pondok Pesantren Al-Imdad, tidak memandang rendah potensi yang ada dalam diri mereka.

Sebagai siswa-siswi dari sebuah madrasah yang baru lahir, barangkali wajar jika mereka kemudian merasa tak mampu bersaing dengan madrasah-madrasah lain yang lebih dahulu lahir dan mapan. Namun, segenap guru dan karyawan, bahkan pengasuh, terus memompakan semangat dan kepercayaan diri atas mereka melalui beragam cara. Mulai dari yel-yel “Aku harus bisa! Aku pasti bisa! Al-Imdad luar biasa!” hingga melekatkan hashtag #AmazingAlimdad dalam keseharian mereka.

Perjuangan. Ya, perjuangan. Barangkali satu kata inilah yang perlu Anda tanamkan dalam benak saat ingin memahami MA Unggulan Al-Imdad. Betapa tidak? Perjuangan benar-benar telah menjadi ‘makanan’ para stakeholder di sana—mulai dari siswa, karyawan, guru hingga wali siswa. Bayangkan saja bagaimana para siswa dan guru yang harus menjalani proses kegiatan belajar mengajar dengan lesehan di mushala berdinding gedhek (anyaman bambu) atau di teras ndalem pengasuh.

Selain itu, sebagai santri, siswa-siswi MA Unggulan Al-Imdad juga harus prihatin. Mereka sudah harus bangun sebelum adzan Shubuh berkumandang untuk memulai kegiatan. Tahajjud, jama’ah sholat Shubuh, setoran hafalan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, tashrifan, vocabulary, serta sorogan kitab kuning adalah ‘sarapan’ utama mereka sebelum masuk madrasah. Kegiatan di madrasah sendiri, yang berlangsung mulai dari pukul 07.00 WIB hingga 14.45 WIB, amatlah sangat menguras energi. Lantas, kegiatan ekstra kurikuler yang menantang juga harus mereka hadapi di sore hari.

Tidak berhenti di situ, tanggung jawab sebagai santri harus mereka lanjutkan dengan kembali melakukan setoran bejibun hafalan dan atau sorogan Al-Qur’an selepas jama’ah shalat Maghrib. Selepas Isya, bandongan beragam kitab klasik khas pesantren sudah menanti. Jam 21.00 WIB, saat remaja seusia mereka bisa menikmati beragam hiburan, mereka justru harus musyawarah terkait pelajaran di madrasah keesokan hari. Barulah jam 10 malam mereka bisa menikmati indahnya mimpi. Dan satu hal lagi, mereka menjalani itu semua tanpa diizinkan membawa hape atau menonton televisi.

Perjuangan dan prihatin. Sepasang kata yang selalu menghiasi dinding-dinding pesantren sejak zaman baheula. Sepasang kata ini pula yang diyakini masyarakat pesantren sebagai rumus mendapatkan berkah. Seringkali memang formula perjuangan plus prihatin sama dengan berkah ini tak mudah dipahami begitu saja. Orang barat bilang, “Seeing is believing” atawa dalam bahasa kita, “Dengan melihat sendirilah baru kau bisa mempercayainya”.

Pepatah barat di atas mungkin ada benarnya. Berkaca pada apa yang telah diraih dua siswa MA Unggulan Al-Imdad yang juga santri di Pondok Pesantren Al-Imdad ini, sadarlah kita bahwa gerakan #AyoMondok yang dicanangkan oleh Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama bukanlah ajakan yang didorong oleh kepentingan sesaat. Gerakan #AyoMondok itu adalah representasi dari keberhasilan pesantren dalam membuktikan diri bahwa mereka adalah yang terbaik. Tidak hanya itu, madrasah dan pesantren juga hingga kini terus membuktikan bahwa mereka benar-benar telah teruji. Sehingga, meskipun kerap dipandang sebelah mata, keberadaan pesantren tak akan pernah lekang oleh zaman dan justru terus relevan.

Muhammad Yusuf Anas, mengabdi di MA Unggulan Al-Imdad dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul

Add a comment

Nur Laily Fauziah, santri Pesantren Al-Imdad Bantul menjadi yang terbaik dalam Lomba Kader Poskestren Santri Siaga 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Rabu (13/4). Melewati tiga babak sengit, Nur Laily berhasil menyisihkan 102 peserta dari pesantren-pesantren seantero Bantul.


Di babak pertama, Nur Laily yang juga tercatat sebagai siswi MA unggulan Al-Imdad itu harus menjawab 50 soal tertulis. Ia berhasil terpilih bersama sembilan peserta lain untuk maju ke babak kedua, babak wawancara. Di babak ini, para peserta harus menghadapi cecaran pertanyaan dari dewan juri terkait lima materi uji seperti Lima Tatanan PHBS, Persiapan Pra Nikah, Pesantren Berwawasan Lingkungan, Bahaya NAPZA dan Kawasan Dilarang Merokok, serta Kesehatan Reproduksi Remaja dan IMS.


Di babak ini, Nur Laily kembali mampu menundukkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dewan juri. Ia pun menjadi sebagai salah satu dari lima peserta yang berhak maju ke babak ketiga, praktik kultum kesehatan. Pada putaran ini peserta harus menyampaikan kultum dengan satu materi dari lima tema yang sudah disediakan panitia, yaitu PHBS, NAPZA, Pesantren Berwawasan Lingkungan, Peran Aktif Remaja dalam Mewujudkan Kawasan Dilarang Merokok, dan Kesehatan Reproduksi Remaja.

Peserta di babak ini tidak bisa serta-merta membawakan kultum dengan tema yang ia inginkan. Mereka harus memilih nomor undian yang merepresentasikan tema. Saat diundi, Nur Laily Fauziah mendapatkan tema NAPZA. Di akhir lomba, ia pun berhasil menjadi yang terbaik.

Kepala Sub Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dr Guppianto Susilo mengatakan, “Lomba Kader Poskestren dengan tema Santri Sehat ini kita harap mampu meningkatkan pengetahuan anak-anak remaja kita di pesantren. Dengan harapan kelak mereka akan menyebarkan pengetahuan tersebut saat kembali ke masyarakat nantinya.” 

Add a comment

 INFO PENDAFTARAN

 

ayo mondok

ARTIKEL

FOTO

        8da39a52 2255 4bb0 88be 0d4328016e3b         IMG 0192    paduan suara mts2

Go to Top
Template by JoomlaShine