Berita Ponpes Al-Imdad

PSB 1

 

PSB 2

Bantul, Respon masyarakat untuk menyekolahkan putra putrinya di Pondok Pesantren masih sangat tinggi, hal ini terlihat dari antusiasme orang tua dan murid dalam mendaftarkan diri pada Penerimaan Santri Baru (PSB) Pondok Pesantren Al- Imdad Bantul, yang terletak di dusun Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul. Hari Kamis Pagi( 07/03/2019) di Pondok Pesantrean Al- Imdad komplek putri telah berlangsung tes seleksi PSB tahap kedua untuk Gelombang I dan prestasi tahun pelajaran 2019/2020. Sebuah kegiatan yang selalu rutin di gelar setiap tahunnya. Peserta tes seleksi PSB diikuti oleh 93 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTS), dan 137 siswa Sekolah Dasar (SD) dari berbagai daerah, serta para orang tua siswa yang ikut mendampingi putra putrinya.

Adapun tes seleksi PSB kali ini, calon santri mengikuti tes baca tulis Arab, Potensi Akademik, dan Wawancara.

Pengumuman hasil tes seleksi PSB Gelombang I akan di umumkan pada Hari Senin, (11/03/2019) di website Pondok Pesantrean AL- Imdad, AL-Imdad.org

Add a comment
Peran Seni dan Sastra dalam Islam
Oleh: Hanif Hilmi Ali
Salah satu cara untuk mengekspresikan imajinasi dan menumbuhkan kreativitas manusia yaitu seni. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata seni memiliki arti “keahlian” dan “kesanggupan”. keahlian seseorang yang dapat membuat sesuatu memiliki nilai. Sedangkan menurut J.J Hogman seni mempunyai tiga poin yaitu ideas, activities, dan artifact. Dari pengertian di atas bisa kita simpulkan bahwa seni adalah hasil pemikiran manusia yang mempunyai nilai, norma, dan gagasan.
Seni bermacam-macam bentuknya, antara lain seni rupa, seni pertunjukan, seni lukis, dan seni sastra. Kebanyakan manusia menganggap bahwa ilmu sastra adalah ilmu tersendiri dan bukan termasuk dari seni. Namun anggapan itu kurang tepat karena sastra termasuk bagian dari seni. Permasalahannya, mengapa seni dan sastra selalu dipisahkan, padahal sastra adalah bagian dari seni? Karena seni terlalu global untuk dipelajari sehingga sastra memisahkan diri dengan memperdalam isinya. Namun seni dan sastra sangat berkaitan.
 Sastra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa). Pekerjaan manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu berkaitan dengan seni maupun sastra. Namun kebanyakan manusia  tidak merasakan bahwa apa yang dia lakukan menggunakan seni dan sastra. Contoh sederhananya, yaitu manusia dalam berbicara menggunakan bahasa masing-masing daerah, bahkan setiap daerah juga mempunyai logat dalam berbicara. Seperti ungkapan sastrawan Indonesia, Sapardi Djoko Damono bahwa kehidupan sastra menampilkan gambaran , dan kehidupan itu sendiri adalah realitas sosial.
Dalam peradaban islam, seni dan sastra sangat mempengaruhi perkembangan dan perluasan daerah-daerah islam. Pada masa bani Abbasiyah, tepatnya pada kepemimpinan Harun Ar Rasyid dan putranya, Al Makmun seni dan sastra mulai berkembang dengan lahirnya seniman dan sastrawan, seperti Badi Al Zaman, Al Tsa’labi, dan Al Hariri. Seni dan sastra pada waktu itu digunakan untuk menyebarkan agama Islam dengan membuat syair, puisi, prosa, bahkan langsung dengan perkataan. Orang yang melihat pada waktu itu merasakan betapa indahnya susunan kata dan makna di setiap lariknya. Kemudian seni dan sastra menjadi kunci dalam dakwah penyebaran agama islam. Dengan berjalannya waktu, orang-orang mulai memperdalam ilmu seni dan sastra, dengan mempelajari kitab-kitab karya para ulama, seperti Balaghoh, Badi’, dan masih banyak lagi. Sehingga dalam memperdalam isi kandungan Al-Qur’an, orang islam lebih mudah mengenali bahasa-bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an karena mereka juga tahu bahwa tingkat kesastraan dalam Al-Qur’an sangatlah tinggi.
Di Indonesia sendiri seni dan sastra juga sangat berpengaruh terhadap penyebaran agama islam, apalagi seni yang digunakan oleh walisongo untuk menyebarkan agama islam di Jawa. Sunan Kalijaga menggunakan wayang dalam penyebarannya, sehingga orang yang melihat merasa tertarik dan menikmati tontonan tersebut. Orang-orang juga tidak merasa terbebani dengan ajaran islam karena seni juga mempunyai fungsi untuk menghibur seseorang dengan ide-ide tertentu. Sunan Kalijaga bukan hanya menggunakan seni dalam menyebarkan dakwahnya, tapi juga menggunakan sastra. Ketika kita mendengarkan dalang yang sedang memainkan wayang dengan kata-kata yang diucapkan oleh sang dalang, kita akan manangkap beberapa kata yang indah dan enak didengar. Itulah peran sastra yang digunakan oleh sunan Kalijaga, sehingga orang-orang pada masa itu pasti banyak yang tertarik dengan ajaran islam. Pastilah walisongo pada saat itu menggunakan peran seni dan sastra, baik seni musik, seni tari, dan seni sastra.
Di zaman milenial ini, seni dan sastra bukan hanya digunakan sebagai dakwah penyebaran islam karena di Indonesia mayoritas islam. Banyak yang membuat karya seni dan sastra bercorak islami bertujuan untuk meningkatkan rasa cinta kepada islam dan juga mengungkapkan bahwa seni dan sastra sebenarnya luas. Karya seni dan sastra dapat berupa novel, puisi, prosa, cerpen, dan film. Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta, Negeri 5 Menara, 99 Cahaya Langit Eropa, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dan Hafalan Salat Delisa merupakan beberapa novel yang bercorak islami yang menjadi novel terlaris di Indonesia. Dari semua novel tersebut diimplementasikan dan diaplikasikan menjadi sebuah seni yaitu film. Pembaca akan menilai isi dari sebuah novel itu dan akan mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda, namun mempunyai unsur persamaan dalam hal corak islami. Kita akan mencoba menelaah dari salah satu novel yang bercorak islami dan akan melihat peran seni dan sastra dalam islam. Dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy membahas tentang pernikahan dalam islam, dan bagaimana pernikahan dalam islam ketika laki-laki mencintai perempuan yang berbeda agama, sehingga pembaca mempunyai pandangan mengenai tentang pernikahan dalam islam dan berujung untuk mencari tahu hukum-hukum pernikahan dalam islam. Dari novel dan film tersebut, sangatlah jelas peran seni dan sastra dalam islam, membuat pembaca terus memperdalam kajian ilmu-ilmu islam. Selain itu, pembaca juga lebih mudah mengenal islam lewat sastra. Selain novel, sastra yang beraliran puisi bercorak islami juga sangat banyak, para tokoh seniman dan sastrawan juga menyebar di seluruh Indonesia, diantaranya adalah KH. Musthofa Bisri, Emha Ainun Najib, Acep Zam Zam Noor, Zawawi Imron, dan masih banyak lagi.
Dari keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa peran seni dan sastra dalam islam dari masa ke masa baik dunia maupun Indonesia adalah untuk menyebarkan ajaran Islam, dan cara untuk menggali lebih dalam tentang agama Islam dengan lantaran buku-buku sastra dan berbagai macam seni sehingga seseorang lebih mudah untuk mengenal seni dan sastra. 
 
Add a comment

KH MUSTOFA BISRI

Haul ke-24 Almaghfurlah KH. Humam Bajuri dilangsungkan pada 27 Oktober 2018/ 27 Muharom 1440 H.

Beberapa rangkaian acara pada haul tahun ini, diantaranya: majlis semaan Qur’an komplek putra dan komplek putri yang dilaksanakan pada hari jum'at 26 Oktober 2018 , Majlis Pembacaan Sholawat serta pembacaan manaqib Mbah KH. Humam Bajuri oleh KH. Mulyanto  Salah satu Santri Mbah Humam angkatan tertua dilaksanakan pada 25/10, ziarah makam KH Humam Bajuri pada Sabtu sore (27/10), pukul 16.00, dan puncak haul dan Haflah Khotmil Qur'an pada malam harinya selepas maghrib.

Haflah Khotmil Qur'an diikuti oleh 97 peserta terdiri, 1 peserta 39 juz bil hifdzi, 29 peserta 30 juz bin Nadzri, dan 66 peserta juz 30 bil hifdzi.

Acara puncak haul  dan Haflah Khotmil Qur'an ini  dihadiri oleh keluarga besar Pondok Pesantren Al Imdad, alumnus dan santri, para pejabat dan para Ulama' Kab. Bantul juga dihadiri oleh KH. Musthofa Bisri dari Rembang  

Add a comment

Penerapan e-money pada Santri di Pondok Pesantren Al imdad

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa banyak pengaruh terhadap perubahan perilaku dan kebiasaan masyarakat. Hal ini membuat masyarakat membutuhkan sesuatu yang cepat, mudah untuk setiap kegiatan. Untuk masyarakat, program ini diharapkan mampu membantu efektivitas dan keamanan sistem pembayaran mereka dalam berbelanja. Dengan membawa uang cash di pusat perbelanjaan, sedangkan kondisinya ramai dan berdesakan, hal tersebut sangat mungkin dimanfaatkan oleh oknum tanda petik untuk menerkam isi dompet mereka sewaktu-waktu.

Begitupun, KH. Ahmad Murod S. Ag salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Al Imdad, beliau kemudian menerapkan sistem pembayaran berbasis teknologi tersebut yang diadopsi menjadi sistem pembayaran elektronik di koperasi Pondok Pesantren Al Imdad  yang berada di Ds. Kauman , Wijirejo, Pandak, Bantul (Komplek 1) dan di Ds. Kedung, Guwosari, Pajangan, Bantul (Komplek 2). Karena menurut beliau, sistem pembayaran ini menawarkan berbagai keuntungan yang saat ini sedang dibutuhkan oleh masyarakat di era globalisasi dan sebagai upaya peningkatan ekonomi di Pondok Pesantren Al Imdad Bantul.

Sistem pembayaran inipun berkembang menjadi Electronic Payment System, dan salah satunya adalah Electronic Money (e-money). Dampak positif dari diterapkannya e- money di Koperasi Pondok Pesantren Al Imdad, ekonomi Pondok Pesantren Al Imdad lebih meningkat, dan E-money dinilai lebih efisien di banding membawa  uang cash yang tingkat resiko keamanan lebih tinggi bagi santri. Untuk itu, Pondok  Pesantren Al Imdad juga melarang Santri membawa uang cash untuk mengurangi resiko kehilangan dan mengganti E-money dalam bentuk Brizzi  untuk sistem transaksi di Koperasi Pondok. Kelebihan dengan di gunakannya e-money ini, bisa menutupi kesenjangan sosial-ekonomi antar santri. Karena, mereka tidak akan bisa melihat jumlah  saldo Brizzi milik temannya. Untuk resiko kehilangan  juga sangat kecil sekali kemungkinan, karena Brizzi atau e-money yang mereka gunakan juga termasuk Kartu santri, terdapat foto dan data pribadi pemilik.

Dibawah ini salah satu contoh bentuk e-money yang juga menjadi Kartu Tanda Santri (KTS) PONPES AL-IMDAD

 WhatsApp Image 2019 01 20 at 11.29.35           WhatsApp Image 2019 01 21 at 10.51.12

Add a comment

IMG 20190112 WA0046

Bantul- Untuk meningkatkan kemampuan santri menjadi muballighoh dan melatih kemampuan orasi dan public speaking para santri, Sabtu malam( 12/1/ 2019) para santri putri pondok pesantren Al - Imdad, yang bermukim di padukuhan Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul mengikuti kegiatan khitobah, yang di gelar oleh para pengurus pondok pesantren.

Kegiatan khitobah ini rutin dilaksanakan setiap malam ahad, yakni minggu kedua, minggu ketiga dan minggu keempat.

Menurut salah satu pengurus Pondok pesantren Al-Imdad, Siska Maqfiroh, mengatakan kegiatan khitobah di gelar untuk melatih mental para santri, dan menumbuhkan percaya diri mereka, agar ketika mereka berada di lingkungan masyarakat, mereka tidak merasa canggung apabila di minta untuk mengisi ceramah atau pidato.

Siska menambahkan untuk kegiatan khitobah kali ini, tidak hanya sekedar acara pidato saja, melainkan juga menampilkan pertunjukan drama dan pembacaan puisi.

Dalam kegiatan khitobah ini di bagi menjadi 15 kelompok, yakni dalam satu kelompok terdiri dari 11 hingga 15 orang.

Untuk materi Khitobah menyesuaikan dengan tema yang ada, untuk tema kali ini mengusung tema keutamaan bismillah. Selain itu disini santri juga di latih untuk bisa membuat tema sendiri yang nantinya akan ditampilkan di depan teman-temannya.

Siska mengharapkan dengan rutin nya pelaksanaan kegiatan khitobah dapat membuat santri bisa lebih percaya diri dalam mengekspresikan pidato nya, karya nya di depan teman-teman nya dan di masyarakat.

Khitobah merupakan suatu ucapan dengan memperhatikan susunan kata yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak, atau cara menyampaikan pesan dakwah dalam bentuk pidato yang bertujuan untuk memberikan kesan yang positif bagi pendengar.

Add a comment

Subkategori

VISI PONDOK PESANTREN AL IMDAD

 “SANTRI SALIH”

  • Santun

  • Agamis

  • Nasionalis

  • Terampil

  • Ramah

  • Inovatif dan

  • Sadar Lingkungan Hidup

 

 "MISI"

  1. Mendidik santri menjadi pribadi yang santun di manapun dan kapanpun

  2. Menghantarkan santri berilmu ke-Islam-an yang luas dan mendalam berdasar pada tradisi para ‘Ulama Negeri.

  3. Menghantarkan santri berwawasan kebangsaan yang kuat.

  4. Menghantarkan santri menjadi pribadi yang mandiri dan terampil

  5. Menumbuhkembangkan sikap ramah santri baik kepada sesama manusia maupun kepada lingkungan.

  6. Menghantarkan santri yang memiliki  pengembangan keIslaman di berbagai bidang

  7. Meningkatkan wawasan ke-Islam-an dan keilmuan yang berbasis pada lingkungan hidup.

 INFO PENDAFTARAN

 

ayo mondok

ARTIKEL

FOTO

        8da39a52 2255 4bb0 88be 0d4328016e3b         IMG 0192    paduan suara mts2

Go to Top
Template by JoomlaShine