Berita Ponpes Al-Imdad

 

Dua santri Pondok Pesantren al imdad berhasil meraih prestasi dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Musabaqah yang diadakan pada tanggal 17 hingga 19 April 2018 tersebut diikuti oleh ratusan kontingen dari lima kabupaten/kota di DIY.

Kabupaten Bantul sendiri mampu mempertahankan menjadi juara umum. Di antara para kontingen yang mewakili Bantul adalah dari santri Pondok Pesantren Al Imdad yang berhasil meraih kejuaraan dalam lomba tersebut

Pada cabang Musabaqah Tafsiril Quran Bahasa Inggris, M. Abdu Sykr A’la santri kelas XI Pondok pesantren Al Imdad Pajangan telah berhasil meraih Juara 1, Sementara dalam cabang lain atas nama Fauziyah Childa santri kelas XII pondok Pesantren Al Imdad Pandak Bantul meraih Juara 2 cabang Tafsir Bahasa Arab,

Para peserta mengaku senang ketika diumumkan menjadi juara. “Saya merasa senang atas kejuaraan ini. Dan ini adalah awal saya melangkah, kedepan saya harus bisa lebih baik lagi.” ujar A’la yang memenangkan Musabaqah Tafsir bahasa inggris pertamakali. “Kami patut berterima kasih kepada para Para Pengasuh dan juga para Pembimbing di Pondok Pesantren A-Imdad yang telah rela meluangkan waktunya untuk membimbing an melatih kami guna tampil di ajang ini.” tambahnya.

#Abu kayis

Add a comment

 

Kabupaten Bantul sebagai tuan rumah pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi DIY, pada 17 hingga 19 April 2018.

Sebagai tuan rumah, Bantul melalui kafilahnya mendominasi perolehan kejuaraan di masing-masing cabang MTQ.

Seperti cabang tilawah remaja putri, Bantul menjadi Juara I atas nama Widdat Ulya, Tilawah tartil putra atas nama Dandan Nir Ruasji. Tdak ketinggalan pula cabang tafsir bahasa inggris putra - putri, Bantul juga menjadi juara masing-masing atas nama Mudrikah dan M. Abdu Syakur A'Laa Santri Pondok Pesanten Al-Imdad Pajangan .

Totok Sudarto selaku Asek III Bidang Sumber Daya dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Bantul, mewakili Bupati Bantul dalam penutupannya menyampaikan rasa terimakasih yang tulus kepada putra-putri Bantul yang telah berjuang untk menjadi yang terbaik dalam pelaksanaan MTQ kemarin.

Namun Totok berpesan, capaian ini kiranya tidak berhenti pada euforia prestasi semata, namun juga diiringi dengan pengamalan nilai-nilai kitab suci Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.

"Jangan cuma dibawa atau dihafal, tapi juga diamalkan supaya lebih bermanfaat," kata Totok.

Prestasi putra-putri Bantul ini juga diharapkan Totok semakin melecut generasi muda Bantul untuk juga bisa berprestasi di bidang masing-masing terutama pendidikan.

Add a comment

santri baru 2013

Yogyakarta, NU Online
Sejak dibuka pertengahan April lampau, minat pendaftar di Pesantren Al-Imdad Bantul terus meningkat. Dan istimewanya, calon-calon santri ini tidak hanya datang dari wilayah Kabupaten Bantul, tapi juga dari beberapa daerah lain di Jawa dan Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Walhasil, di penghujung Juni lalu, tercatat 137 lulusan SD/MI dan SMP/MTs mendaftarkan diri sebagai santri.
Silaturrahim yang terjalin baik sungguh merupakan sebuah jalan kebaikan. Mengapa demikian? Betapa tidak. Pengasuh Pesantren Al-Imdad Bantul, KH Habib Abdus Syakur, yang juga Ketua RMI PWNU DIY, adalah bukti nyata. Melalui karyanya, Cara Cepat Bisa Baca Kitab Kuning (Metode 33), Pesantren Al-Imdad Bantul perlahan-lahan mulai dikenal dengan keunggulannya di bidang baca kitab. 

Banyaknya orang yang menggunakan buku karya Habib Abdus Syakur ini telah menarik minat sebagian mereka dan kalangan lain untuk 'berguru langsung pada ahlinya.' Maka tidak mengherankan jika kedua hal ini--Buku Cara Cepat Bisa Baca Kitab Kuning (Metode 33) dan pendidikan di Pesantren Al-Imdad--saling berhubungan.

"Buku Metode 33 saya susun merupakan salah satu usaha untuk lebih mempermudah khalayak yang ingin mampu membaca, menerjemahkan dan memahami kitab kuning/kitab gundul atau buku berbahasa Arab yang tidak ada harakatnya. Dan buku saya berusaha memenuhi kebutuhan praktis santri, pelajar, dan peserta didik yang mau belajar membaca kitab kuning,” ujar Habib terkait karyanya.

Sebagian besar santri baru yang diterima di Pesantren Al-Imdad Bantul memang mengakui jika keinginan untuk menguasai cara baca kitab gundul alias tanpa syakal merupakan motivasi awal mereka untuk mendaftar di Al-Imdad. Hal senada juga disampaikan oleh orangtua dan wali mereka. 

Selanjutnya, selain motivasi tersebut, alasan lain para pelajar tersebut ingin mengenyam pendidikan di Pesantren Al-Imdad adalah kebijakan segenap Pengasuh dan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul yang menerapkan bebas biaya gedung, bebas biaya ngaji, dan bebas biaya asrama. 

"Kita tidak ingin jika keinginan anak untuk belajar dan menjadi cerdas terhambat hanya karena biaya," ujar Habib menjawab pertanyaan sebagian orangtua dan wali santri terkait dengan hal ini. 

"Bagaimanapun juga, tentu ada cara-cara yang bisa diupayakan oleh Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul agar pendidikan gratis betul-betul bisa dijalankan."

Add a comment
Go to Top