santri baru 2013

Yogyakarta, NU Online
Sejak dibuka pertengahan April lampau, minat pendaftar di Pesantren Al-Imdad Bantul terus meningkat. Dan istimewanya, calon-calon santri ini tidak hanya datang dari wilayah Kabupaten Bantul, tapi juga dari beberapa daerah lain di Jawa dan Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Walhasil, di penghujung Juni lalu, tercatat 137 lulusan SD/MI dan SMP/MTs mendaftarkan diri sebagai santri.
Silaturrahim yang terjalin baik sungguh merupakan sebuah jalan kebaikan. Mengapa demikian? Betapa tidak. Pengasuh Pesantren Al-Imdad Bantul, KH Habib Abdus Syakur, yang juga Ketua RMI PWNU DIY, adalah bukti nyata. Melalui karyanya, Cara Cepat Bisa Baca Kitab Kuning (Metode 33), Pesantren Al-Imdad Bantul perlahan-lahan mulai dikenal dengan keunggulannya di bidang baca kitab. 

Banyaknya orang yang menggunakan buku karya Habib Abdus Syakur ini telah menarik minat sebagian mereka dan kalangan lain untuk 'berguru langsung pada ahlinya.' Maka tidak mengherankan jika kedua hal ini--Buku Cara Cepat Bisa Baca Kitab Kuning (Metode 33) dan pendidikan di Pesantren Al-Imdad--saling berhubungan.

"Buku Metode 33 saya susun merupakan salah satu usaha untuk lebih mempermudah khalayak yang ingin mampu membaca, menerjemahkan dan memahami kitab kuning/kitab gundul atau buku berbahasa Arab yang tidak ada harakatnya. Dan buku saya berusaha memenuhi kebutuhan praktis santri, pelajar, dan peserta didik yang mau belajar membaca kitab kuning,” ujar Habib terkait karyanya.

Sebagian besar santri baru yang diterima di Pesantren Al-Imdad Bantul memang mengakui jika keinginan untuk menguasai cara baca kitab gundul alias tanpa syakal merupakan motivasi awal mereka untuk mendaftar di Al-Imdad. Hal senada juga disampaikan oleh orangtua dan wali mereka. 

Selanjutnya, selain motivasi tersebut, alasan lain para pelajar tersebut ingin mengenyam pendidikan di Pesantren Al-Imdad adalah kebijakan segenap Pengasuh dan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul yang menerapkan bebas biaya gedung, bebas biaya ngaji, dan bebas biaya asrama. 

"Kita tidak ingin jika keinginan anak untuk belajar dan menjadi cerdas terhambat hanya karena biaya," ujar Habib menjawab pertanyaan sebagian orangtua dan wali santri terkait dengan hal ini. 

"Bagaimanapun juga, tentu ada cara-cara yang bisa diupayakan oleh Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul agar pendidikan gratis betul-betul bisa dijalankan."

 

al imdad online2

Pengunjung

Kami memiliki 25 guests dan tidak ada anggota yang online

ARTIKEL

Go to Top