FOTO

            kirab mts     IMG 0192    paduan suara mts2

KARYA SANTRI

1. Tahukah kamu nama Raden Kian Santang yang pernah populer di televisi? Ternyata pemilik nama itu memang benar benar ada di dunia nyata. Dan bukan kepalang, santri Al Imdad yang mempunyai nama lengkap Ahmad Kian Santang ini juga  mempunyai segudang prestasi. Satu di antaranya ialah, ananda  Kian pernah menyabet medali emas di ajang KSM tingkat nasional cabang biologi.

2. Hal unik berikutnya adalah ketika Rama Kyai Habib Abdu Syakur (pengasuh ponpes Al Imdad) telah usai menjalani sidang disertasinya, ada pemandangan yang tidak biasa. Normalnya, peserta sidang (calon doktor)lah yang akan mencium tangan para penguji, tapi berbeda dengan Rama Kyai Habib Abdu Syakur, malah para pengujilah yang mencium tangan beliau. Masya Allah, betapa tingginya ilmu yang beliau miliki. (penulis mendengar kisah ini dari salah satu guru MAU Al Imdad sekaligus tangan kanan beliau).

3. Hal unik lainnya ialah, mulai tahun kelulusan kedua (2016) MAU Al Imdad, ada pola ganjil genap dalam hal penerimaan beasiswa PBSB. Singkatnya begini pada tahun genap, akan ada santri Al Imdad yang diterima beasiswa jalur PBSB. Tapi sebaliknya, di tahun-tahun ganjil, perihal penerimaan beasiswa PBSB dari santri Al Imdad, hasilnya nihil.

4. Bicara tentang relasi antara fasilitas dan prestasi, ada satu slogan yang sudah populer di kalangan santri Al Imdad. Yaitu "Santri Berkembang dalam Keterbatasan." Hal ini berbanding lurus dengan fakta di lapangan. Fasilitas yang mereka peroleh memang tergolong biasa-biasa saja, tapi masalah prestasi boleh kiranya kalau diadu coba.

Ditulis oleh: Muhammad Abdusyakur A'la (Santri Al Imdad)

        Pondok pesantren Al imdad adalah pondok pesantren yang didirikan oleh almarhum KH Humam Bajuri pada tahun 1980, yang mana sekarang Pondok Pesantren al imdad di asuh oleh DR. KH Habib abdusyakur sebagai pengasuh Pertama dan KH Ahmad Murod S.Ag sebagai pengasuh kedua, Pondok Pesantren Al Imdad saat ini mempunyai 4 komplek yaitu komplek 1 berada di Kauman Wijirejo Pandak, yang dihuni oleh Santri Putri sehingga biasa di sebut dengan Pondok Putri Al Imdad, Komplek 2 yang berada di Kedung Guwosari Pajangan yg dihuni oleh Santri Putra sehingga biasa di sebut Pondok Putra, Komplek 3 berada di kuwaru Poncosari Srandakan yang mana disana dikhususkan untuk santri anak-anak dinamakan Pondok Pesantren Al Humaidi (Al Imdad 3), dan Komplek 4  yg berada di Maguwo Harjo Sleman yg mana dihuni oleh Santri Mahasiswa.

     Pondok pesantren Al imdad sebagai penjawab tantangan zaman yg mana tidak hanya mengajarkan Ilmu agama saja namun juga mengajarkan ilmu ilmu formal, yg mana al imdad mempunyai Lembaga Pendidikan jenjang MA yg bernama MA UNGGULAN AL IMDAD dan Madrasah berjenjang MTS yg bernama MTS AL FALAH, tidak hanya itu pondok ini masih mempunyai banyak sekali keuggulan lainya yang hampir Pondok Pesantren pada umunya tidak memilikinya yg mana akan di bahas pada paragraf berikutnya.

    Keunggulan pondok pesantren al imdad ada banyak yang mana salah satunya atau yang paling utamanya ada di visi misinya sehingga keunggulan-keunggulan lainya adalaah bagian dari visi tersebut atau perluasan, pemraktekan dll dri visi misi itu, adapun  visi misi ponpes al imdad yaitu SANTRI SALIH (Santun, Agamis, Nasionalis, Trampil, Ramah, Inovatif, SAdar LIngkungan Hidup)

- Santun dengan maksud santri al imdad dituntut  berakhlakul karimah yg mana santun tersebut bagian dariakhlakul karimah.

- Agamis dengan maksud santri al imdad di tuntut mempunyai ilmu agama yang luas dan maksud misi ini bisa dijabarkan lebih luas lagi

- Nasionalis dengan maksud santri dituntut untuk cinta tanah air dengan berjiwa nasionalis

- Terampil santri al imdad dituntut memiliki ketetrempilan yg luas

- Ramah adapun visi misi ini sebenarnya intinya sama dengan visi misi yang pertama yaitu santri di tuntut berakhlakulkarimah

- Inovatif santri al imdad dituntu mempunyai jiwa inovatisf

- Sadar Lingkungan Hidup santri al imdad di tuntut untuk sadar lingkungan hidup tentang kebersihan lingkungan,kesehatan lingkungan dll

        Ponpes al imdad sebagai penjawab tantangan zaman dikarenakan keunggulan keunggulanya yang sebenarnya hampir semua sudah tercantum secara umum pada visi misi al imdad tersebut,visi misi al imdad tidak hanya visi misi belaka namun sudah terbukti dalam praktikum kehidupan diponpes ini pada proses pembelajaran,kegiatan,lingkungan,prestasi dan lainya,

  1. Pembelajaran diponpes al imdad menggunakan kurikulum unik yang langsung di koordinir oleh pengasuh, yang mana kurikulum itu menggabungkan pembelajaran agama pondok kedalam kurikulum sekolah dengan alasan agar santri bisa seimbang dalam pembelajaran,agar tidak mengedepankan ilmu  kepesantrenan saja maupun ilmu sekolah saja,melainkan seimbang kedua duanya, bahkan santri dimudahkan dalam belajar kitab kuning menggunakan buku karya bapak KH. Habib abdusyakur (pengasuh pondok),kesuksesan pembelajaran al imdad terbukti dari hampir 80% lulusan MA UNGGULAN AL IMDAD melanjutkan ke jenjang kuliah dari jalur biasa maupun jalur beasiswa pbsb,bidikmidi dll, tidak hanya itu bahkan banyak prestasi yang di capai dari MA maupun MTS ,seperti menjuarai ksm nasional tingkat smp,dll tidak hanya di bidang sekolah,prestasi dibidang kepesantrenan juga banyak seperti beberapa santri menjuarai mqk nasional,dll.
  2. Kegiatan di ponpes al imdad hampir sama dengan ponpes lain seperti bandongan,sorogan,roan,muhadloroh,dll namun ada kegiatan di ponpes ini yang beda dengan ponpes lain yaitu kegiatan yg dinamai lifeskill, lifeskill adalah kegiatan dimana setiap hari senin sampai sabtu diambil beberapa santri sekolah dan pada  jam sekolah untuk mengikuti pembelajaran lapangan berupa bersih-bersih pondok,pembuatan sabun,pembuatan tempe tahu,krajinan barang bekas dll di alimdad farm(tempat berisi perbunan,pabrik,dll), kegiatan ini juga termasuk wujud praktikum beberapa visi misi alimdad
  3. Lingkungan di ponpes al imdad dibagi di beberapa tempat ada tempat penampungan sampah disebut pondok limbah,tempat sekolah,tempat tidur santri atau asrama,dan al imdad farm tempat pabrik,kerajinan,perkebunan,perternakan dll, bahkan al imdad juga mempunyai blk tempat pembelajaran tentang computer.untuk lingkungan al imdad pernah juara 1 ponpes berwawasan lingkungan hidup seprovinsi.

Ditulis oleh :Ahmad Ghurril Muhajjalin (Santri Al Imdad)

Andi Harasbek, namanya seperti anak perkotaan bahkan ada yang mengira kalau keturunan Italia atau negara manalah yang luar Indonesia, upsss tapi jangan kira kalau itu benar. Andi adalah anak kampung yang ekonominya serba kecukupan, bapaknya menamai Harasbek karena keinginan bapaknya suatu saat dia akan menjadi ilmuwan atau tokoh.

“Bu, kenapa Andi di sekolahan menjadi bahan ejekan teman? Salah Andi apa sih?” tanya Andi masalah keluhannya sambil membantu ibunya menjemur pakaian

“Andi, kesabaran adalah kunci kamu memenangkan kehidupan. Jika kamu bisa sabar, teman-teman kamu pasti bosan sendiri dengan perlakuannya” jawab ibunya

Benar juga kata ibu, pikir Andi. Sudahlah kenapa aku mikirin masalah yang tidak penting buat aku.

“Andi berangkat sekolah dulu ya bu” sambil mencium tangan ibunya.

Berjalan menyusuri sawah-sawah yang sangat indah. Daun-daun masih terawat sehingga hijau jernih warnanya. Andi tidak pernah mengeluh dengan kehidupan sehari-harinya karena dia juga punya cita-cita bisa keliling dunia, bahkan Andi sekolah dari tingkat SMP sampai sekarang di tingkat SMA mendapatkan beasiswa penuh karena nilai bahasa indonesia tertinggi tingkat provinsi.

BRUK..... “aduh....” teriak Andi kesakitan

“ha....ha....ha.... teman-teman, anak kampungan yang sekolah di kota terjatuh sakit, aduhh kasihan” ejek Steven dan gengnya.

Andi bukannya takut dengan Steven dan kawan-kawan tapi selalu ingat kata-kata ibunya “kesabaran adalah kunci kemenangan”.

“Ayo An bangun” Anin tarik tangan Andi.

Anin adalah teman dekat Andi dan dia yang selalu bermain dengannya bahkan tidak memandang kalau Andi kampungan atau tidak, yang dipandang ialah baik atau jeleknya.

“Iya Nin, makasih” jawab Andi.

Tet...tet...tet...suara bel istirahat berbunyi murid-murid pada ke kantin seperti biasa. Namun Andi tidak, karena dia punya uang yang sedikit dan uang itu hanya ditabung guna untuk sesuatu yang lebih penting.

“An, ayo atu ke kantin” ajak Anin dengan bahasa sundanya.

“tidak Nin, aku di kelas saja” jawab Andi.

“udah ayo aku yang bayar” senyum Anin.

Anin memang anak pengusaha sukses, maklumlah kalau punya uang jajan yang lebih dari yang lain. tapi dia tidak pernah sombong. Dia malah sering mengajak temannya jajan ke kantin, salah satunya Andi dan dialah yang paling sering diajak.

“Nin kenapa sih kamu sering banget memberi aku jajan gratis kaya gini?” tanya Andi tidak enak.

“udah lah An, buat apa sih uang kalau hanya untuk dihambur-hamburkan tidak manfaat, mending aku menraktir kamu, kan lebih bermanfaat, he he”

“ehh, ngomong-ngomong kamu kenapa sih selalu diganggu sama Steven dan gengnya? Dan kenapa kamu hanya diam saja tidak balas?” sambung Anin.

“kalau aku balas dia malah lebih senang Nin, toh buat apa sih di balas segala, biar saja orang lain tidak suka sama aku, yang penting aku juga tidak punya rasa benci kepada mereka” jawab Andi.

Hidup memang terkadang kejam terkadang menjadi kawan. ketika seseorang bisa menikmati dan bersyukur, dia pasti akan bersahabat dengan alam dan akan selalu merasa cukup. Namun jikalau seseorang hidup selalu merasa kurang dia tak akan punya rasa cukup walaupun dia sangat kaya. Andi dan keluarga tak pernah mengeluh dengan keadaan saat ini. Dia terus berusaha, bekerja dan melakukan kewajiban sendirinya, bahkan tidak pernah meminta kepada tetangganya atau pun kepada orang lain. Pernah suatu ketika Andi pulang sekolah namun di rumah tidak ada nasi sedikit pun, Andi hanya minum air putih itu sudah cukup buat Andi waktu itu. Kalau sekarang Andi dan keluarga sudah lumayan bisa makan cukup walaupun hanya dengan lauk tempe atau tahu.

“Bu, Andi pingin jadi novelis, apa itu mustahil buat Andi?” tanya Andi sambil makan habis sekolah.

“Novelis? Pembuat novel An?" Kebingungan karena kurang paham.

“Iya bu, seperti tere liye yang punya sangat banyak novel itu bu, apa ibu tau?"

“Andi, seseorang itu bisa menjadi apa yang dia inginkan bahkan ingin jadi presiden pun bisa kalau dia tak kalah dengan usaha dan doa. Jadi Andi pasti bisa kalau Andi tidak malas dan kalah dengan nafsu mu, lakukanlah semua karena Allah An,” nasihat ibu.

Melonjak tinggi semangat Andi hanya karena secarik kata nasihat dari ibunya. Penyemangat ataupun pendukung yang paling ampuh adalah ibu, tak ada orang yang lebih hebat dari ibu. Apalagi sekarang banyak yang bilang kalau cewek atau pacar hanya untuk penyemangat. Menurut Andi pendapat itu sangatlah bodoh, karena tak ada yang berpacaran tanpa dengan nafsu belaka.

Andi sudah mulai kelas 2 SMP rajin membuat cerita yang akhirnya dijadikan novel, tapi dia menulis dengan buku dan pena, karena belum punya alat untuk mengetik. Akhirnya sekarang kelas 2 SMA sudah mempunyai tulisan tangan cerita, emm lebih tepatnya novel tulisan tangan.

Sekolah terus berlangsung walaupun Andi sering menulis cerita untuk dijadikan novel, tak lupa dengan Anin yang suka membelikan jajan Andi di kantin, tak bosan-bosan untuk mengajak Andi, entah memang kasihan dengannya atau ada perasaan sehingga selalu ingin dekat, emmm entahlah. Kedua ngobrol dan saling canda di kantin bahkan banyak yang mengira kalau Andi dan Anin sepasang kekasih, sayangnya yang tidak terima dengan perbuatan mereka atau bisa dibilang cemburu yaitu Steven, karena dia dari kelas 1 sudah mulai mempunyai perasaan dengan Anin, tapi Anin yang tidak suka dengan perbuatannya.

“O iya An, kamu jadi minjemin aku buku novelnya tere liye nggak, aku sudah nunggu lho” tanya Anin

“Ehh iya, ambil sendiri Nin di tas, mau kan?”

“Oke siap, aku ambil ya”

Anin mengambil buku pesanannya di kelas, Andi menunggu sambil menikmati makannya di kantin, membuka tas mencari-cari novelnya, “banyak banget si buku yang dibawa Andi” pikir Anin. Sebuah buku yang tertulis karya Andi Harasbek, emm Anin penasaran dengan isinya, dibuka lah buku itu tanpa izin Andi, kaget jantung Anin, “ohh ternyata Andi sudah punya novel sendiri, sayangnya belum dia terbitkan” batin Anin.

Bergegas Anin langsung menuju kantin dengan membawa buku novel pesanannya, terbayang-bayang masih novel karangan Andi di pikiran Anin, ingin sekali membantu Andi tapi apakah Andi mau dibantu, padahal Andi sangat sulit kalau mau dibantu, karena keinginan dia hanya dengan keringat sendiri.

“An, bukunya sudah aku ambil, sekarang aku mau tanya boleh kan? Tolong jawab jujur ya?” tanya Anin dengan wajah yang serius

“Ha..ha..ha.. kok serius banget si Nin, ada apa?” tanya Andi

“Kamu sudah punya novel karya mu sendiri? Aku tadi nggak sengaja melihat buku novel kamu yang masih tulisan tangan”

Mata yang tadinya melihat makanan, langsung melirik ke arah Anin “Emm, iya Nin, tapi kamu jangan bilang ke siapa-siapa kalau aku punya novel” jawab Andi

“Iya An, tapi kenapa nggak kamu terbitkan? Kan lumayan bisa dijual?” tanya Anin

“Kehidupan itu punya halangan sendiri-sendiri Nin, dan halangan ku sekarang biaya untuk nerbitkan, dari mana aku dapat uang sebanyak itu, mending aku tulis tangan dulu nanti entah kapan kalau aku sukses membantu orang tua ku baru aku mau nerbitkan” jawab Andi

Penuh dengan rasa kasihan, rasa prihatin yang sedang dilalui oleh Andi, punya bakat dan semangat tapi dana tidak mendukung, itulah di dunia. Anin punya pikiran ingin membantu meraih cita-cita Andi, yang memang dia sangat punya bakat tapi keluarganya tidak mendukung alias keluarga yang kurang mampu.

“An, aku punya paman penerbit buku, apa kamu mau nerbitkan buku mu di pamanku? Tawaran Anin

“Emm apa nggak mahal Nin? Aku nggak punya uang sepeser pun buat menerbitkan buku”

“Nggak usah khawatir, aku bantu kamu An”

Perasaan Andi sangatlah senang mendengar tawaran Anin sang teman yang sangat baik terhadap dirinya, anak orang kaya yang tidak pernah sombong, yang suka menolong orang.

 

Bersambung.......

tunggu lanjutannya bung...

Hari demi hari semangat Andi terus menaik walaupun teman sekolahnya banyak yang tidak suka dengannya entah karena apa, mungkin karena iri dengan kepandaian dan ketampanannya walaupun anak kampungan dan anak tidak mampu, tak lain dengan Steven, teman sekolah yang sangat benci dengan Andi. Sedangkan Anin terus berusaha membantu Andi, di hari ahad Anin pergi kerumah pamannya untuk meminta tolong menerbitkan buku temannya.

“Assalamualaikum paman” mengetok pintu rumahnya

“Walaikumsalam, ehhh Anin, sama siapa? Paman kangen sudah lama tidak ketemu”

“Sendiri paman, hehe paman apa kabar?”

“Baik Nin, ada apa ini kok tumben kesini, pasti ada maunya ya?”

Di ruang tamu yang indah dipenuhi dengan lukisan kaligrafi di temani dengan makanan dan segelas minuman Anin dan pamannya di penuhi dengan canda tawa.

“Begini paman, Anin mau minta tolong kepada paman tentang menerbitkan buku” mulai berbicara serius

“Ya gimana Nin? Siapa yang mau nerbitkan buku? Tanya paman

“teman Anin paman, dia anak yang kurang mampu, tapi dia sangat mempunyai bakat dalam membuat novel, Anin mau minta tolong, apa paman mau menerbitkan buku tapi bayarnya setengah aja paman, nanti Anin pasti bayar kok” bujuk Anin

“hehe, Anin paman mau kok, nggak usah bayar saja, nanti paman tolong kasihan juga ya teman kamu” jawab paman

“bener paman?” dengan raut muka yang sangat bahagia

“iya besok kamu kesini ajak teman kamu sekalian bawa teks nya”

Berhari-hari Anin dan Andi sibuk untuk membuat buku, setiap habis sekolah langsung ke rumah paman, emm yang lebih sibuk lagi paman dan anak buahnya karena harus mengetik novel yang masih tulisan tangan, 1 bulan sudah pengetikan terselesaikan akhirnya novel Andi mempunyai 200 halaman, sekarang paman dan anak buah nya tinggal proses penyetakan dan lain-lain. Andi dan Anin sudah tidak sabar untuk melihat buku perdana Andi.

“An, akhir-akhir ini kamu kok terlihat sibuk banget, ada acara apa?kok nggak pernah cerita ke ibu?” tanya ibu

“Bu, Andi sebentar lagi punya novel, yang membantu teman Andi yang sangat baik” jawab Andi sambil senyum dan memeluk ibunya

“Alhamdulillah, di dunia memang banyak kok orang baik, dan pastinya Allah maha adil”

Di sekolah, Andi tetap saja tak bosan-bosan diganggu oleh kawan-kawannya, namun Andi kali ini berani membalas, karena mereka sudah mulai berani mengejek orang tua Andi.

“Andi...Andi... katanya kamu pingin jadi novelis? Bangun An bangun.. orang tuamu saja nggak bisa ngasih kamu uang, apalagi mau buat novel” ejek Steven

“ha...ha...ha...” suasana kelas penuh dengan tawa kecuali Andi dan Anin

Dada Andi penuh dengan udara, nafas mulai tak teratur, Andi langsung meloncat ke depan Steven yang duduk tak jauh dari tempat Andi, memukul dengan keras ke arah wajah dan menendang ke arah perut, Steven yang setiap harinya sombong dan nakal ternyata tidak bisa apa-apa ketika di lawan oleh Andi, wajah Steven berdarah karena kena pukulan keras Andi. Kelas sangat ramai, suasana menjadi rusuh tak karuan hanya karena pergelutan antara anak kampung dan anak kota.

Andi dan Steven disidang oleh guru di kantor, keduanya mendapat hukuman walaupun yang salah pertama Steven, tapi Andi juga salah karena memukul Steven sampai berdarah.

Hari yang ditunggu-tunggu sudahlah tiba, novel yang berjudul “bumi sajadah” itu sudah terbit, Andi dan Anin mulai memasarkan ke toko-toko dan lewat online yang di gerakkan oleh Anin, 50 buku habis dalam waktu 1 bulan, dihari yang sama pas ketika buku itu habis, ada dua orang berjas hitam membawa mobil, datang ke rumah Andi yang sedang membaca buku di teras rumahnya.

“Assalamualaikum”

“Walaikumsalam,mau cari siapa?” tanya Andi

“Apakah benar ini rumah mas Andi Harasbek? Tanya salah satu

“ Oh iya benar, saya sendiri”

“Kami dari penerbit buku Ossala press, mau menawarkan kalau noel “bumi sajadah” dicetak ulang bagaimana? Dan kami jadikan best seller sekaligus akan dijadikan film, karena banyak yang minta mengenai hal itu”

Hati dan jantung Andi terasa ingin copot mendengar kabar seperti itu

“Ohh, silahkan mas, sangat boleh”

Akhirnya novel karya perdana Andi terkenal ke seluruh Indonesia bahkan akan dibuatkan film tentang hal itu, Andi juga tak lupa membuat novel-novel selanjutnya untuk memperbanyak karya, selain memang hobi menulis.

Andi sekarang menjadi orang yang sukses dan terwujud sudah cita-citanya karena usahanya dan dibantu oleh sahabat setianya.

Jadi hasil tidak pernah mendustai usahanya, ketika kita bersungguh-sungguh melakukan apa yang ada dalam diri kita, dan memang itu hal yang positif, maka hasil akan mengikutinya.

 

terima kasih...

tunggu cerpen selanjutnya..

Aku tidak akan menerima kalau tanah orang tuaku dirampas seenaknya, walaupun tidak seluas tanah punya penguasa. Apa-apaan ini bukan hanya tanah saja yang diambil, bahkan rumah, tumbuhan, bunga, karya pahatku, dan semuanya. Apa? Bagaimana ini? Punya hak apa? Ha? Aku tidak suka dengan cara seperti ini. Demi apa hingga semua dirampas tanpa tanggung jawab. Aku hanya rindu dengan permainan laying-layangku di tanah lapang, tanpa ada mobil, motor, halangan apapun itu. Aku hanya rindu tanahku yang sekarang menjadi bangunan tidak jelas, tanpa rasa kemanusiaan. Susunan batu bata dan pasir yang akhirnya menjadi bangunan setinggi langit saja sudah dianggap mencukupi rakyat. Itu bukan mencukupi rakyat sialan! Itu hanya mencukupi perutmu yang kesana kemari membawa api bergejolak.

Bapakku, memang dia kumuh, berkulit hitam karena terserang panasnya matahari, tidak tau apa itu sepatu, handphone, televisi, apalagi komputer. Tapi dia tau fungsi akal dan hati. Tidak seperti kalian sialan! Berlagak lari-lari demi rakyat yang tertindas. Mulutnya tolong dijaga. Di sini ada bapakku, lebih-lebih semua orang yang kalian rampas tanahnya. Jadi? Mana yang kalian maksud demi untuk rakyat? Ibuku, dia yang melahirkan aku dan adikku. Dia sama sekali tidak tau mana huruf A mana huruf  Z. Tidak bisa baca, apalagi tulis. Tapi dia lebih paham perasaan orang lain. Tidak seperti kalian yang tidak mampu membedakan antara perasaan bahagia dan susah. Sayang, sungguh sayang. Detik ini, rumah kami—keluargaku dan tetangga-tetanggaku—sudah rata tidak berbekas sedikitpun. Kalian tidak memikirkan tempat tinggal kami. Kalian hanya memikirkan bangunan bertingkat-tingkat yang katanya untuk memajukan bangsa dan Negara. Majunya bangsa adalah ketika bahagianya rakyat.

“Sabar ya nang, bapak sudah terima ini semua yang penting kita sudah dapat tempat untuk tidur” sembari tersenyum menghiburku walaupun aku tau hati bapak menangis. Ibuku dengan wajah cerah dan berkeringat sedang menghibur adikku di gendongannya. Yaa… namanya juga masih balita, adikku berusia sekitar dua tahun. Selisih sebelas tahun denganku.

“Iya bapak” jawabku pelan “Apakah mereka tidak punya kasihan dengan kita ya pak?” tanyaku, walaupun aku sudah tau jawabannya.

“Mereka punya nak, hanya saja mereka akan memajukan negeri tercinta kita ini” puji bapak. Tapi aku yakin kalau bapak tetap tidak terima dengan semua ini.

            Dulunya, ketika aku masih punya rumah. Setelah aku pulang dari sekolah aku bisa istirahat dengan tenang—yaa walaupun rumahku hanya terdapat satu kamar dan dapur—setelah istirahat kurasa cukup, aku langsung membantu bapakku mencari uang untuk keluarga dengan cara mencari sampah yang bisa dijual. Tapi, sekarang? Rumahku di bawah jembatan tanpa kamar, tanpa dapur, ih apalagi ruang tamu tidak mungkin ada. Dan sekarang? Tanah kecil kami saja diambil. Lahh?? Kemudian bagaimana aku hidup?

            Akhir-akhir ini aku sering melamun di pinggir sungai bawah jembatan dekat tempat aku tidur. Di sampingku ada buku yang aku temukan dari tempat sampah. Begitu sering aku menemukan buku di tempat-tempat sampah. Mungkin yang punya tidak membutuhkannya. Nah aku melamun memikirkan: andai aku mampu bicara sama presiden, aku akan memarahinya dan membicarakan tentang nasib keluarga dan tetanggaku. Tapi mungkin buat saat ini sangat mustahil. Tapi aku yakin bahwa setelah aku banyak baca buku-buku bekas ini, aku mampu berhadap-hadapan dengan para penguasa. Bahkan jika sampai debat pun aku berani. Karena aku selalu ingat dengan kata-kata bapakku setiap aku akan tidur: “Nak, jika kamu pintar, para penguasa akan takut denganmu. Sebaliknya, jika kamu bodoh, kamu hanya akan dijadikan nyamuk oleh mereka. Bacalah! Itu sebaik-baik cara untuk pintar” aku benar-benar ingat perkataan bapak itu, dan sampai sekarang kata-kata itu yang membuat aku masih hidup.

“Woy… melamun terus kerjaanmu, ayo kita cari uang” Teriak Andre, teman seperjuanganku.

“Aku tidak melamun Dre, aku hanya masih ingat desa kita. Kamu tidak ingatkah? Kita dulu punya desa Dre, lahh sekarang? Sudah rata tanpa sisa” wajahku sedih sembari menatap Andre, kemudian Andre duduk di sampingku seakan-akan mau menjawab perkataanku.

“Sudahlah, kita tidak akan mampu menahan mereka. Kita tidak punya kekuatan, kita tidak punya pelindung, kita tidak punya uang. Mana bisa tanpa bekal apa-apa mereka akan ikut kata-kata kita. Kita hanya anak kecil yang belum mengenal rasa garam” kata Andre dengan muka serius disertai gerak-gerik tangan layaknya pemimpin yang sedang pidato.

“Kata siapa kita tidak punya kekuatan? Andre, kita masih punya mulut, akal, dan hati. Walaupun kita masih berusia kecil, tapi keadaan hidup kita lebih tua dengan mereka. Rasa pahit dalam hidup, kita lebih banyak menelannya daripada mereka. Kita bisa saja berbuat apapun yang kita mau dengan tujuan untuk menyindir mereka dan dengan cara yang pantas” kataku lebih keras agar Andre percaya dan mendukung keinginanku. Andre diam tidak menjawab apapun, tapi sepertinya sedang memikirkan perkataanku sambil melempar batu-batu kecil ke sungai dari satu per satu.

“Ayolah kita bekerja dulu sambil melihat-lihat keadaan di luar” Andre berdiri menarik tanganku agar ikut berdiri.

            Aku mencari sampah belum bisa semangat seperti dulu. Rasanya hanya ingin marah, marah, dan marah. Tidak tega melihat bapak dan ibuku yang bekerja demi hidupnya. Apalagi hatinya pasti sedang teriris karena para penguasa sialan. Karena keadaan itu juga, seakan-akan aku sudah tidak sudi melihat wajah-wajah para penguasa. Sudahlah… uhh.. tidak akan selesai kalau hidupku hanya untuk memikirkan para tikus. Aku dan Andre terus berjalan melewati rumah-rumah di kota, jalan raya yang penuh dengan kendaraan, ihh padahal tempat yang paling aku tidak suka adalah tempat seperti ini. Tapi bagaimana pun, aku mendapat uang juga dari sini. Ngamen dan nyampah;yang terpenting tidak menipu dan mencuri.

            Malam yang indah, bintang-bintang terlihat ramai melingkari bulan yang sedang sedih melihat perbuatan manusia tidak punya kemanusiaan. Mungkin hanya bulan dan kawan-kawannya yang merasa kasihan dengan keluargaku. Aku beranjak dari tempat tidurku dan keluar menuju tempat biasa aku duduk yaitu di pinggir sungai. Melihat air yang mengalir begitu damai dan tenang tanpa ada pengganggu sedikit pun. Mungkin air ini tetap punya masalah walaupun aku tidak mengetahuinya, ataukah mungkin dengan tenangnya aliran ini adalah masalah bagi air. Enatahlah…

            Sudah beberapa bulan aku kehilangan rumah dan kenapa rasa marah dan sakitnya masih tersisa. Bapakku seringkali bilang padaku: “Nak, kamu jangan terlalu mengurusi urusan-urusan hal seperti ini. Ini adalah urusan orang tua” sebenarnya aku tidak terima juga dengan nasihat bapak. Memang aku masih anak di bawah umur, tapi aku bisa berpikir dan punya keinginan untuk membantu bapak. Entah itu dengan cara apa, tapi aku benar-benar yakin. Uh.. hal ini membuat aku gelisah. Sungguh. Sungguh aku tidak suka dengan keadaan ini. Aku tidak terima!! Aku langsung lari dan mengambil kertas serta buku yang biasa aku bawa untuk sekolah. “Satu lembar aku mampu memukulmu wahai penguasa” pikirku. Dengan cepat aku menulis yang berisi:

“Surat dari saya, anak kecil. Untuk kalian para penguasa yang terhormat.

Kalian pasti tau dan paham, jika harta orang kaya dicuri oleh pencuri kemudian pencuri itu berhasil lolos dan polisi tidak menangkapnya padahal lihat aksi pencurinya. Bagaimana marahnya orang kaya tersebut? Bahkan mungkin polisinya bisa dibunuh olehnya karena tidak mau menangkap pencuri. Tapi jangan khawatir pak penguasa, hal di atas adalah sebuah contoh. Mungkin kalau kalian belum begitu paham saya buatkan satu contoh lagi. Jika ada seseorang yang pernah berjanji dengan kalian untuk menjaga kalian dan keluarga kalian. Akan tetapi, pada saat malamnya, orang yang berjanji itu mengingkarinya dengan cara mencuri uang-uang kalian. Kemudian kalian lapor ke pihak yang berwajib, tetapi karena pihak yang berwajib sudah dibayar oleh orang yang berjanji itu dengan uang yang banyak maka pihak yang berwajib tidak menurut perkataan kalian. Bagaimana perasaan kalian? Mungkin dengan dua contoh yang saya buat itu, kalian mampu untuk berpikir secara sehat dan memahami arti kemanusiaan yang sebenarnya. Oh iya pak, jika kalian menyepelekan surat yang saya buat ini, berarti kalian juga menyepelekan masa depan bangsa kalian sendiri pak. Jangan lupa untuk selalu berdoa agar diberi kesehatan, biar kalian ketika sadar tidak merasa sakit. Satu lagi pak, hasil curian kalian dijaga baik-baik ya, karena orang yang kalian curi itu lebih miskin dari kalian. Sekian surat dari saya, anak miskin yang malang.”

            Sebelum matahari mengintip dari tempat tidurnya, aku sudah bergegas lari menuju tempat proyek curian. Aku membawa surat kecil yang aku buat malam hari seraya berkata: aku pasti bisa. Satu langkah satu ucapan. Surat itu aku taruh di depan pintu kantor pemimpinnya, semoga saja tidak pergi dibawa angin. Yaa.. kalaupun pergi dibawa angin, setidaknya alam membaca surat kecilku.

oleh: Hanif Hilmi Ali

Pengunjung

Kami memiliki 176 guests dan one member yang online

  • Afi Maarif
Go to Top
Template by JoomlaShine