Aku tidak akan menerima kalau tanah orang tuaku dirampas seenaknya, walaupun tidak seluas tanah punya penguasa. Apa-apaan ini bukan hanya tanah saja yang diambil, bahkan rumah, tumbuhan, bunga, karya pahatku, dan semuanya. Apa? Bagaimana ini? Punya hak apa? Ha? Aku tidak suka dengan cara seperti ini. Demi apa hingga semua dirampas tanpa tanggung jawab. Aku hanya rindu dengan permainan laying-layangku di tanah lapang, tanpa ada mobil, motor, halangan apapun itu. Aku hanya rindu tanahku yang sekarang menjadi bangunan tidak jelas, tanpa rasa kemanusiaan. Susunan batu bata dan pasir yang akhirnya menjadi bangunan setinggi langit saja sudah dianggap mencukupi rakyat. Itu bukan mencukupi rakyat sialan! Itu hanya mencukupi perutmu yang kesana kemari membawa api bergejolak.

Bapakku, memang dia kumuh, berkulit hitam karena terserang panasnya matahari, tidak tau apa itu sepatu, handphone, televisi, apalagi komputer. Tapi dia tau fungsi akal dan hati. Tidak seperti kalian sialan! Berlagak lari-lari demi rakyat yang tertindas. Mulutnya tolong dijaga. Di sini ada bapakku, lebih-lebih semua orang yang kalian rampas tanahnya. Jadi? Mana yang kalian maksud demi untuk rakyat? Ibuku, dia yang melahirkan aku dan adikku. Dia sama sekali tidak tau mana huruf A mana huruf  Z. Tidak bisa baca, apalagi tulis. Tapi dia lebih paham perasaan orang lain. Tidak seperti kalian yang tidak mampu membedakan antara perasaan bahagia dan susah. Sayang, sungguh sayang. Detik ini, rumah kami—keluargaku dan tetangga-tetanggaku—sudah rata tidak berbekas sedikitpun. Kalian tidak memikirkan tempat tinggal kami. Kalian hanya memikirkan bangunan bertingkat-tingkat yang katanya untuk memajukan bangsa dan Negara. Majunya bangsa adalah ketika bahagianya rakyat.

“Sabar ya nang, bapak sudah terima ini semua yang penting kita sudah dapat tempat untuk tidur” sembari tersenyum menghiburku walaupun aku tau hati bapak menangis. Ibuku dengan wajah cerah dan berkeringat sedang menghibur adikku di gendongannya. Yaa… namanya juga masih balita, adikku berusia sekitar dua tahun. Selisih sebelas tahun denganku.

“Iya bapak” jawabku pelan “Apakah mereka tidak punya kasihan dengan kita ya pak?” tanyaku, walaupun aku sudah tau jawabannya.

“Mereka punya nak, hanya saja mereka akan memajukan negeri tercinta kita ini” puji bapak. Tapi aku yakin kalau bapak tetap tidak terima dengan semua ini.

            Dulunya, ketika aku masih punya rumah. Setelah aku pulang dari sekolah aku bisa istirahat dengan tenang—yaa walaupun rumahku hanya terdapat satu kamar dan dapur—setelah istirahat kurasa cukup, aku langsung membantu bapakku mencari uang untuk keluarga dengan cara mencari sampah yang bisa dijual. Tapi, sekarang? Rumahku di bawah jembatan tanpa kamar, tanpa dapur, ih apalagi ruang tamu tidak mungkin ada. Dan sekarang? Tanah kecil kami saja diambil. Lahh?? Kemudian bagaimana aku hidup?

            Akhir-akhir ini aku sering melamun di pinggir sungai bawah jembatan dekat tempat aku tidur. Di sampingku ada buku yang aku temukan dari tempat sampah. Begitu sering aku menemukan buku di tempat-tempat sampah. Mungkin yang punya tidak membutuhkannya. Nah aku melamun memikirkan: andai aku mampu bicara sama presiden, aku akan memarahinya dan membicarakan tentang nasib keluarga dan tetanggaku. Tapi mungkin buat saat ini sangat mustahil. Tapi aku yakin bahwa setelah aku banyak baca buku-buku bekas ini, aku mampu berhadap-hadapan dengan para penguasa. Bahkan jika sampai debat pun aku berani. Karena aku selalu ingat dengan kata-kata bapakku setiap aku akan tidur: “Nak, jika kamu pintar, para penguasa akan takut denganmu. Sebaliknya, jika kamu bodoh, kamu hanya akan dijadikan nyamuk oleh mereka. Bacalah! Itu sebaik-baik cara untuk pintar” aku benar-benar ingat perkataan bapak itu, dan sampai sekarang kata-kata itu yang membuat aku masih hidup.

“Woy… melamun terus kerjaanmu, ayo kita cari uang” Teriak Andre, teman seperjuanganku.

“Aku tidak melamun Dre, aku hanya masih ingat desa kita. Kamu tidak ingatkah? Kita dulu punya desa Dre, lahh sekarang? Sudah rata tanpa sisa” wajahku sedih sembari menatap Andre, kemudian Andre duduk di sampingku seakan-akan mau menjawab perkataanku.

“Sudahlah, kita tidak akan mampu menahan mereka. Kita tidak punya kekuatan, kita tidak punya pelindung, kita tidak punya uang. Mana bisa tanpa bekal apa-apa mereka akan ikut kata-kata kita. Kita hanya anak kecil yang belum mengenal rasa garam” kata Andre dengan muka serius disertai gerak-gerik tangan layaknya pemimpin yang sedang pidato.

“Kata siapa kita tidak punya kekuatan? Andre, kita masih punya mulut, akal, dan hati. Walaupun kita masih berusia kecil, tapi keadaan hidup kita lebih tua dengan mereka. Rasa pahit dalam hidup, kita lebih banyak menelannya daripada mereka. Kita bisa saja berbuat apapun yang kita mau dengan tujuan untuk menyindir mereka dan dengan cara yang pantas” kataku lebih keras agar Andre percaya dan mendukung keinginanku. Andre diam tidak menjawab apapun, tapi sepertinya sedang memikirkan perkataanku sambil melempar batu-batu kecil ke sungai dari satu per satu.

“Ayolah kita bekerja dulu sambil melihat-lihat keadaan di luar” Andre berdiri menarik tanganku agar ikut berdiri.

            Aku mencari sampah belum bisa semangat seperti dulu. Rasanya hanya ingin marah, marah, dan marah. Tidak tega melihat bapak dan ibuku yang bekerja demi hidupnya. Apalagi hatinya pasti sedang teriris karena para penguasa sialan. Karena keadaan itu juga, seakan-akan aku sudah tidak sudi melihat wajah-wajah para penguasa. Sudahlah… uhh.. tidak akan selesai kalau hidupku hanya untuk memikirkan para tikus. Aku dan Andre terus berjalan melewati rumah-rumah di kota, jalan raya yang penuh dengan kendaraan, ihh padahal tempat yang paling aku tidak suka adalah tempat seperti ini. Tapi bagaimana pun, aku mendapat uang juga dari sini. Ngamen dan nyampah;yang terpenting tidak menipu dan mencuri.

            Malam yang indah, bintang-bintang terlihat ramai melingkari bulan yang sedang sedih melihat perbuatan manusia tidak punya kemanusiaan. Mungkin hanya bulan dan kawan-kawannya yang merasa kasihan dengan keluargaku. Aku beranjak dari tempat tidurku dan keluar menuju tempat biasa aku duduk yaitu di pinggir sungai. Melihat air yang mengalir begitu damai dan tenang tanpa ada pengganggu sedikit pun. Mungkin air ini tetap punya masalah walaupun aku tidak mengetahuinya, ataukah mungkin dengan tenangnya aliran ini adalah masalah bagi air. Enatahlah…

            Sudah beberapa bulan aku kehilangan rumah dan kenapa rasa marah dan sakitnya masih tersisa. Bapakku seringkali bilang padaku: “Nak, kamu jangan terlalu mengurusi urusan-urusan hal seperti ini. Ini adalah urusan orang tua” sebenarnya aku tidak terima juga dengan nasihat bapak. Memang aku masih anak di bawah umur, tapi aku bisa berpikir dan punya keinginan untuk membantu bapak. Entah itu dengan cara apa, tapi aku benar-benar yakin. Uh.. hal ini membuat aku gelisah. Sungguh. Sungguh aku tidak suka dengan keadaan ini. Aku tidak terima!! Aku langsung lari dan mengambil kertas serta buku yang biasa aku bawa untuk sekolah. “Satu lembar aku mampu memukulmu wahai penguasa” pikirku. Dengan cepat aku menulis yang berisi:

“Surat dari saya, anak kecil. Untuk kalian para penguasa yang terhormat.

Kalian pasti tau dan paham, jika harta orang kaya dicuri oleh pencuri kemudian pencuri itu berhasil lolos dan polisi tidak menangkapnya padahal lihat aksi pencurinya. Bagaimana marahnya orang kaya tersebut? Bahkan mungkin polisinya bisa dibunuh olehnya karena tidak mau menangkap pencuri. Tapi jangan khawatir pak penguasa, hal di atas adalah sebuah contoh. Mungkin kalau kalian belum begitu paham saya buatkan satu contoh lagi. Jika ada seseorang yang pernah berjanji dengan kalian untuk menjaga kalian dan keluarga kalian. Akan tetapi, pada saat malamnya, orang yang berjanji itu mengingkarinya dengan cara mencuri uang-uang kalian. Kemudian kalian lapor ke pihak yang berwajib, tetapi karena pihak yang berwajib sudah dibayar oleh orang yang berjanji itu dengan uang yang banyak maka pihak yang berwajib tidak menurut perkataan kalian. Bagaimana perasaan kalian? Mungkin dengan dua contoh yang saya buat itu, kalian mampu untuk berpikir secara sehat dan memahami arti kemanusiaan yang sebenarnya. Oh iya pak, jika kalian menyepelekan surat yang saya buat ini, berarti kalian juga menyepelekan masa depan bangsa kalian sendiri pak. Jangan lupa untuk selalu berdoa agar diberi kesehatan, biar kalian ketika sadar tidak merasa sakit. Satu lagi pak, hasil curian kalian dijaga baik-baik ya, karena orang yang kalian curi itu lebih miskin dari kalian. Sekian surat dari saya, anak miskin yang malang.”

            Sebelum matahari mengintip dari tempat tidurnya, aku sudah bergegas lari menuju tempat proyek curian. Aku membawa surat kecil yang aku buat malam hari seraya berkata: aku pasti bisa. Satu langkah satu ucapan. Surat itu aku taruh di depan pintu kantor pemimpinnya, semoga saja tidak pergi dibawa angin. Yaa.. kalaupun pergi dibawa angin, setidaknya alam membaca surat kecilku.

oleh: Hanif Hilmi Ali

 

 

marhaban ramadhan

RAMADAN 1440 H

Pengunjung

Kami memiliki 2023 guests dan tidak ada anggota yang online

FOTO

            kirab mts     IMG 0192    paduan suara mts2

Go to Top
Template by JoomlaShine