Andi Harasbek, namanya seperti anak perkotaan bahkan ada yang mengira kalau keturunan Italia atau negara manalah yang luar Indonesia, upsss tapi jangan kira kalau itu benar. Andi adalah anak kampung yang ekonominya serba kecukupan, bapaknya menamai Harasbek karena keinginan bapaknya suatu saat dia akan menjadi ilmuwan atau tokoh.

“Bu, kenapa Andi di sekolahan menjadi bahan ejekan teman? Salah Andi apa sih?” tanya Andi masalah keluhannya sambil membantu ibunya menjemur pakaian

“Andi, kesabaran adalah kunci kamu memenangkan kehidupan. Jika kamu bisa sabar, teman-teman kamu pasti bosan sendiri dengan perlakuannya” jawab ibunya

Benar juga kata ibu, pikir Andi. Sudahlah kenapa aku mikirin masalah yang tidak penting buat aku.

“Andi berangkat sekolah dulu ya bu” sambil mencium tangan ibunya.

Berjalan menyusuri sawah-sawah yang sangat indah. Daun-daun masih terawat sehingga hijau jernih warnanya. Andi tidak pernah mengeluh dengan kehidupan sehari-harinya karena dia juga punya cita-cita bisa keliling dunia, bahkan Andi sekolah dari tingkat SMP sampai sekarang di tingkat SMA mendapatkan beasiswa penuh karena nilai bahasa indonesia tertinggi tingkat provinsi.

BRUK..... “aduh....” teriak Andi kesakitan

“ha....ha....ha.... teman-teman, anak kampungan yang sekolah di kota terjatuh sakit, aduhh kasihan” ejek Steven dan gengnya.

Andi bukannya takut dengan Steven dan kawan-kawan tapi selalu ingat kata-kata ibunya “kesabaran adalah kunci kemenangan”.

“Ayo An bangun” Anin tarik tangan Andi.

Anin adalah teman dekat Andi dan dia yang selalu bermain dengannya bahkan tidak memandang kalau Andi kampungan atau tidak, yang dipandang ialah baik atau jeleknya.

“Iya Nin, makasih” jawab Andi.

Tet...tet...tet...suara bel istirahat berbunyi murid-murid pada ke kantin seperti biasa. Namun Andi tidak, karena dia punya uang yang sedikit dan uang itu hanya ditabung guna untuk sesuatu yang lebih penting.

“An, ayo atu ke kantin” ajak Anin dengan bahasa sundanya.

“tidak Nin, aku di kelas saja” jawab Andi.

“udah ayo aku yang bayar” senyum Anin.

Anin memang anak pengusaha sukses, maklumlah kalau punya uang jajan yang lebih dari yang lain. tapi dia tidak pernah sombong. Dia malah sering mengajak temannya jajan ke kantin, salah satunya Andi dan dialah yang paling sering diajak.

“Nin kenapa sih kamu sering banget memberi aku jajan gratis kaya gini?” tanya Andi tidak enak.

“udah lah An, buat apa sih uang kalau hanya untuk dihambur-hamburkan tidak manfaat, mending aku menraktir kamu, kan lebih bermanfaat, he he”

“ehh, ngomong-ngomong kamu kenapa sih selalu diganggu sama Steven dan gengnya? Dan kenapa kamu hanya diam saja tidak balas?” sambung Anin.

“kalau aku balas dia malah lebih senang Nin, toh buat apa sih di balas segala, biar saja orang lain tidak suka sama aku, yang penting aku juga tidak punya rasa benci kepada mereka” jawab Andi.

Hidup memang terkadang kejam terkadang menjadi kawan. ketika seseorang bisa menikmati dan bersyukur, dia pasti akan bersahabat dengan alam dan akan selalu merasa cukup. Namun jikalau seseorang hidup selalu merasa kurang dia tak akan punya rasa cukup walaupun dia sangat kaya. Andi dan keluarga tak pernah mengeluh dengan keadaan saat ini. Dia terus berusaha, bekerja dan melakukan kewajiban sendirinya, bahkan tidak pernah meminta kepada tetangganya atau pun kepada orang lain. Pernah suatu ketika Andi pulang sekolah namun di rumah tidak ada nasi sedikit pun, Andi hanya minum air putih itu sudah cukup buat Andi waktu itu. Kalau sekarang Andi dan keluarga sudah lumayan bisa makan cukup walaupun hanya dengan lauk tempe atau tahu.

“Bu, Andi pingin jadi novelis, apa itu mustahil buat Andi?” tanya Andi sambil makan habis sekolah.

“Novelis? Pembuat novel An?" Kebingungan karena kurang paham.

“Iya bu, seperti tere liye yang punya sangat banyak novel itu bu, apa ibu tau?"

“Andi, seseorang itu bisa menjadi apa yang dia inginkan bahkan ingin jadi presiden pun bisa kalau dia tak kalah dengan usaha dan doa. Jadi Andi pasti bisa kalau Andi tidak malas dan kalah dengan nafsu mu, lakukanlah semua karena Allah An,” nasihat ibu.

Melonjak tinggi semangat Andi hanya karena secarik kata nasihat dari ibunya. Penyemangat ataupun pendukung yang paling ampuh adalah ibu, tak ada orang yang lebih hebat dari ibu. Apalagi sekarang banyak yang bilang kalau cewek atau pacar hanya untuk penyemangat. Menurut Andi pendapat itu sangatlah bodoh, karena tak ada yang berpacaran tanpa dengan nafsu belaka.

Andi sudah mulai kelas 2 SMP rajin membuat cerita yang akhirnya dijadikan novel, tapi dia menulis dengan buku dan pena, karena belum punya alat untuk mengetik. Akhirnya sekarang kelas 2 SMA sudah mempunyai tulisan tangan cerita, emm lebih tepatnya novel tulisan tangan.

Sekolah terus berlangsung walaupun Andi sering menulis cerita untuk dijadikan novel, tak lupa dengan Anin yang suka membelikan jajan Andi di kantin, tak bosan-bosan untuk mengajak Andi, entah memang kasihan dengannya atau ada perasaan sehingga selalu ingin dekat, emmm entahlah. Kedua ngobrol dan saling canda di kantin bahkan banyak yang mengira kalau Andi dan Anin sepasang kekasih, sayangnya yang tidak terima dengan perbuatan mereka atau bisa dibilang cemburu yaitu Steven, karena dia dari kelas 1 sudah mulai mempunyai perasaan dengan Anin, tapi Anin yang tidak suka dengan perbuatannya.

“O iya An, kamu jadi minjemin aku buku novelnya tere liye nggak, aku sudah nunggu lho” tanya Anin

“Ehh iya, ambil sendiri Nin di tas, mau kan?”

“Oke siap, aku ambil ya”

Anin mengambil buku pesanannya di kelas, Andi menunggu sambil menikmati makannya di kantin, membuka tas mencari-cari novelnya, “banyak banget si buku yang dibawa Andi” pikir Anin. Sebuah buku yang tertulis karya Andi Harasbek, emm Anin penasaran dengan isinya, dibuka lah buku itu tanpa izin Andi, kaget jantung Anin, “ohh ternyata Andi sudah punya novel sendiri, sayangnya belum dia terbitkan” batin Anin.

Bergegas Anin langsung menuju kantin dengan membawa buku novel pesanannya, terbayang-bayang masih novel karangan Andi di pikiran Anin, ingin sekali membantu Andi tapi apakah Andi mau dibantu, padahal Andi sangat sulit kalau mau dibantu, karena keinginan dia hanya dengan keringat sendiri.

“An, bukunya sudah aku ambil, sekarang aku mau tanya boleh kan? Tolong jawab jujur ya?” tanya Anin dengan wajah yang serius

“Ha..ha..ha.. kok serius banget si Nin, ada apa?” tanya Andi

“Kamu sudah punya novel karya mu sendiri? Aku tadi nggak sengaja melihat buku novel kamu yang masih tulisan tangan”

Mata yang tadinya melihat makanan, langsung melirik ke arah Anin “Emm, iya Nin, tapi kamu jangan bilang ke siapa-siapa kalau aku punya novel” jawab Andi

“Iya An, tapi kenapa nggak kamu terbitkan? Kan lumayan bisa dijual?” tanya Anin

“Kehidupan itu punya halangan sendiri-sendiri Nin, dan halangan ku sekarang biaya untuk nerbitkan, dari mana aku dapat uang sebanyak itu, mending aku tulis tangan dulu nanti entah kapan kalau aku sukses membantu orang tua ku baru aku mau nerbitkan” jawab Andi

Penuh dengan rasa kasihan, rasa prihatin yang sedang dilalui oleh Andi, punya bakat dan semangat tapi dana tidak mendukung, itulah di dunia. Anin punya pikiran ingin membantu meraih cita-cita Andi, yang memang dia sangat punya bakat tapi keluarganya tidak mendukung alias keluarga yang kurang mampu.

“An, aku punya paman penerbit buku, apa kamu mau nerbitkan buku mu di pamanku? Tawaran Anin

“Emm apa nggak mahal Nin? Aku nggak punya uang sepeser pun buat menerbitkan buku”

“Nggak usah khawatir, aku bantu kamu An”

Perasaan Andi sangatlah senang mendengar tawaran Anin sang teman yang sangat baik terhadap dirinya, anak orang kaya yang tidak pernah sombong, yang suka menolong orang.

 

Bersambung.......

tunggu lanjutannya bung...

Pengunjung

Kami memiliki 30 guests dan tidak ada anggota yang online

FOTO

            kirab mts     IMG 0192    paduan suara mts2

Go to Top
Template by JoomlaShine