Berita Ponpes Al-Imdad


kibarhormat 

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 07:00 WIB

Upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ke-74 di Halaman Masjid Syabilurrosyad, Kauman Wijirejo, Pandak, Bantul, DI Yogyakarta yang diikuti oleh santriwati serta Dewan asatidz pondok pesantren Al Imdad Komplek Putri berjalan cukup khidmat.

Sekitar pukul 08:20 Wib pasukan pengibar bendera yang terdiri dari siswi MTs Al Falaah, Pandak, Bantul bergerak mengibarkan bendera diiringi oleh lagu Indonesia Raya yang di komando oleh Ananda Ivcy Elga ( kelas 9 MTs Al Falaah ).

Bertindak sebagai pembina upacara Bpk. KH. Dr. Atthobari Hummam memimpin peserta upacara untuk mengheningkan cipta diiringi lagu yang mengalun begitu khidmat. Ini terlihat dari tidak adanya suara saat prosesi mengheningkan cipta, selain suara dari group paduan suara Mts Al Falaah.

Tidak lupa pula dalam sesi amanat, Pembina memberikan prakata diantaranya adalah bahwa kita harus bersyukur hadir saat Negara Indonesia sudah Merdeka, karena untuk memproklamirkan Kemerdekaan saat itu membutuhkan usaha yang sangat keras. Bagaimana kita melewati 350 tahun lebih dijajah oleh penjajah, dan selama itu banyak hal yang harus dikorbankan termasuk nyawa.

Amanat selanjutnya adalah tentang Slogan Kemerdekaan tahun ini yaitu "SDM kuat dan cerdas Menuju Indonesia Unggul", bahwasanya Indonesia akan menjadi kuat dan unggul itu dengan sumber daya manusia yang kuat dan unggul pula.

Isnaini Nuradiba selalu ketua osis mengatakan bahwa "Kita sebagai santri milenial harus ikut andil dalam prosesi Menuju Indonesia Unggul ini, Karena sejak dahulu kemerdekaan tidak lepas dari peran para santri di seluruh pelosok Indonesia ini".

Selanjutnya upacara diakhiri dengan menyanyikan lagu 17 Agustus 1945, di ikuti oleh seluruh peserta upacara kemerdekaan pagi tadi.

(lala-Santri Al Imdad)

peserta

Add a comment

Santri Al Imdad

Nadia, begitu santri ini akrab disapa, berhasil menjadi yang terbaik di KSM 2019 dalam Kategori Cabang Lomba Matematika Terintegrasi Tingkat MTS setelah berhasil menyisihkan peserta-peserta lain dari seluruh DIY. Nadia yang juga tercatat sebagai siswi Kelas IX C di Madrasah Tsanawiyah Al-Falah Pandak memang didapuk mewakili Kabupaten Bantul setelah berhasil menjadi Juara 1 di ajang KSM Kabupaten Bantul pada 20 Juli 2019 yang lalu.

Berdasarkan keterangan Bu Candra, Guru Matematika MTS Al-Falaah yang ditugaskan membimbing dan mendampingi Nadia selama masa persiapan dan juga saat lomba, Nadia mampu menyelesaikan soal-soal KSM DIY tahun ini setelah mengambil pelajaran dari KSM DIY tahun sebelumnya. Sebagai informasi, pada tahun lalu Nadia hanya berhasil menjadi runner up dan belum berhasil maju ke tingkat Nasional.

Keinginan Nadia mewakili DIY dalam ajang KSM Nasional akhirnya bisa terwujud berkat keberhasilannya memenangkan KSM DIY 2019. Rencananya, Nadia akan menjadi utusan DIY dalam KSM Nasional 2019 yang akan digelar di Manado, Sulawesi Utara, pertengahan September mendatang.

Candra juga menjelaskan bahwa tantangan yang akan diterima Nadia dalam ajang SKM Nasional 2019 akan lebih berat karena ada beberapa tahapan tambahan. Karenanya, Candra berharap dukungan doa dan semangat segenap masyarakat DIY, khususnya Bantul, untuk Nadia agar bisa mengharumkan nama DIY di ajang KSM Nasional.

Dari pengamatan penulis, sejauh ini ucapan selamat dan dorongan semangat untuk Nadia sudah mulai berdatangan dari berbagai kalangan melalui grup-grup WA Wali Santri PP Al-Imdad dan juga melalui status-status WA masyarakat academica Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul. Selamat, Nadia. (Muhammad Yusuf Anas/rk)

Add a comment
 
❤Dulu Agama Menghancurkan Berhala. Kini Agama jadi Berhala. Tak kenal Tuhannya, yang Penting Agamanya.
 
❤Dulu Orang Berhenti Membunuh karena Agama. Sekarang Orang saling Membunuh karena Agama.
 
❤Dulu Orang saling Mengasihi karena beragama. Kini Orang saling Membenci Karena beragama.
 
❤Ajaran Agama tak pernah Berubah dari dulu, Tuhannya pun tak Pernah Berubah dari dulu. Lalu yang Berubah apa ? 
MANUSIANYA !!!
 
❤Dulu Pemimpin Agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling Cerdas diantara Orang-orang lainnya. Sekarang Orang yang paling Dungu yang tidak bisa Bersaing dengan Orang-orang lainnya, dikirim untuk Belajar jadi Pemimpin Agama.
 
❤Dulu Para Siswa diajarkan untuk harus belajar Giat dan Berdo'a untuk bisa Menempuh ujian. Sekarang Siswa Malas Belajar, tapi sesaat sebelum Ujian Berdo'a paling Kencang, karena diajarkan Pemimpin Agamanya untuk Berdo'a supaya Lulus.
 
❤Dulu Agama Mempererat Hubungan Manusia dengan Tuhan. Sekarang Manusia Jauh dari Tuhan karena terlalu Sibuk dengan urusan-urusan Agama.
 
❤Dulu Agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang Agama ditempuh untuk Cari Muka di hadapan Tuhan.
 
❤Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya Komoditi yang Menguntungkan pelaku bisnis Berbasis Agama, karena Semua yang Berbau Agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap Salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi Sandang, Pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan Pelarian karena tak tahu lagi mesti Mengerjakan apa.
 
❤Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu Memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan Murahan, oleh Orang-Orang yang Merusak, Membunuh, sambil Meneriakkan nama Tuhan.
 
❤Tuhan mana yang Mengajarkan tuk Membunuh? Tuhan mana yang Mengajarkan tuk Membenci? Tapi manusia Membunuh, Membenci, Mengintimidasi, Merusak, Sambil dengan Bangga Meneriakkan Nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan Ketika ia Menumpahkan Darah Manusia lainnya.
 
❤Agama dijadikan senjata tuk Menghabisi Manusia lainnya. Dan tanpa disadari Manusia sedang Merusak Reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik Gundukan Ayat-Ayat dan Aturan Agama.
 
❤K.H. A. MUSTOFA BISRI
 
Add a comment

MEMBATIK 1

Bantul,  Setelah proses pendaftaran santri baru selesai, Pada hari ahad tanggal 23 Juni 2019 Pondok Pesantren Al Imdad Bantul Yogyakarta menyambut kedatangan Santri baru yang telah dinyatakan diterima di Pondok Pesantren Al Imdad Bantul Yogyakarta, Pada tahun pelajaran 2019/2020 Pondok Pesantren Al Imdad membuka pendaftaran santri baru dengan quota 288 santri dengan rincian 160 santri jenjang MTs yang terdiri dari 2 kelas santri putra, 3 kelas santri putri, dan 128 Santri jenjang MA yang terdiri dari 2 kelas santri putra, 2 kelas santri putri. akan tetapi karena minat pendaftar melebihi quota yang disediakan maka diadakan tes seleksi akademik dan wawancara. setelah dinyatakan diterima maka mulai hari senin 24 Juni 2019 akan dimulai kegiatan pembelajaran dengan diawali dengan kegiatan MATSAMA (Masa Ta'aruf Siswa Madrasah) selama 3 hari.

Kegiatan MATSAMA bertujuan untuk mengenalkan Pondok pesantren Al Imdad, lingkungannya, keluarga, para guru, pengurus dan kurikulum yang diajarkan serta model2 pembelajaran yang dilaksanakan di pondok pesantren al imdad kepada para Santri Baru agar dapat menyesuaikan diri hidup dilingkungan pondok pesantren al imdad. disamping itu juga bertujuan untuk membuat betah para santri tinggal di pesantren, melatih kemandirian para santri selama tinggal di pesantren.

Add a comment

Indonesia merupakan Negara yang memiliki ratusan pulau. Bukan hanya pulau yang menjadi kebanggaan Negara Indonesia. Akan tetapi, banyak peninggalan-peninggalan budaya di Indonesia. Sebelum lebih jauh membicarakan tentang Negara dan Budaya di Indonesia, saya akan menjelaskan sedikit definisi dari negara maupun budaya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Negara adalah organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Istilah Negara yang berasal dari bahasa asing state (Inggris), de staat (Belanda), dan etat (Perancis) yang berarti peningkatan yang tetap (Ni’matul Huda, 2011:1).

Bisa dikatakan Negara jika sudah memenuhi empat unsur yaitu rakyat, wilayah, pemerintah yang berdaulat, dan pengakuan dari Negara lain. Rakyat ialah sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh rasa persamaan dan bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu (Ahmad Ubaidillah, 2015:136).  Negara Indonesia sudah memenuhi empat unsur tersebut. Ketika melihat dari segi sejarah, Indonesia merupakan negara yang berdiri dengan tangannya sendiri setelah tiga abad lebih dijajah oleh kolonial Belanda. Pada waktu itu, Indonesia juga pernah merasakan bagaimana menjadi Negara serikat, yang mana kemudian diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perihal inilah yang mencerminkan bahwa tokoh-tokoh pahlawan kemerdekaan telah bersusah payah mengusir penjajah dari tanah air Indonesia. Metode yang digunakan oleh para tokoh pergerakan nasional salah satunya dengan memajukan “pendidikan”. Seperti halnya Ki Hajar Dewantoro atau Suwardi Suryaningrat yang mendirikan sekolahan taman siswa bagi masyarakat Indonesia agar benar-benar mampu untuk berpikir menjaga Negara Indonesia.

Negara Indonesia merupakan sebuah negara yang berbentuk negara kesatuan yang mana memiliki arti bentuk suatu negara yang merdeka dan berdaulat, dengan satu pemerintah pusat yang berkuasa dan mengatur seluruh daerah. Namun, dalam pelaksanaanya, negara kesatuan ini terbagi menjadi dua sistem pemerintahan (Ahmad Ubaidillah, 2015:142). Jadi, masyarakat Indonesia wajib untuk menjaga serta melindungi tempat tinggalnya—Indonesia—dalam rangka agar tetap bersatu dan tidak terpecah belah. Karena bersatulah yang menjadi cita-cita para pahlawan dahulu ketika merebut kemerdekaan Indonesia. Cara yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk menjaga kesatuan negara itu sangatlah beraneka ragam dan bermacam-macam. Salah satunya dengan melindungi dan mencintai budaya asli Indonesia.

Negara Indonesia itu sangatlah kaya ketika membicarakan budaya, baik bahasa, ras, suku, agama, pakaian, dan lain-lain. Kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan lain, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat (Sukidin, 2003:4). Kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni perwujudan cipta, karya, dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat suatu bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa.

Dari sabang sampai merauke, terdapat bahasa yang bermacam-macam. Bahasa merupakan salah satu manifestasi budaya yang sangat menunjukkan bahwa Indonesia itu termasuk negara kaya akan kebudayaan, karena di setiap pulau bahkan kabupaten itu mempunyai ciri khas bahasa tersendiri. Di setiap desa juga mempunyai logat bahasa sendiri walaupun bahasanya sama. Seperti di Jawa, mempunyai beribu-ribu logat bahasa yang unik dan menarik. Kadang juga dianggap lucu ketika daerah lain mendengarkannya. Namun hal itu dikarenakan belum terbiasa mendengarkan dan menggunakan bahasa tersebut. Jadi beragam bahasa di Indonesia harus dilestarikan dan dijaga dengan baik.

Mencintai budaya merupakan perbuatan yang diharapkan oleh bangsa dan negara, karena di masa ini banyak orang yang sudah mulai melupakan budaya dalam negeri dan lebih mencintai budaya luar negeri. Hal itu dapat dibuktikan dengan melihat pemuda-pemuda zaman sekarang yang lebih mencintai musik luar negeri seperti K-pop, Bruno Mars, Taylor Swift, dan lain-lain. Seandainya pemuda itu lebih mencintai musik budaya dalam negeri seperti Gundul-Gundul Pacul, Lir-ilir, Gambang Suling, Bubuy Bulan, dan lain-lain maka sangat indah budaya itu secara lahir dan batin. Bukan berarti pemuda dilarang untuk mendengarkan musik-musik luar negeri, tetapi setidaknya rasa cinta itu lebih kepada musik dalam negeri atau budaya dalam negeri.

Masyarakat Indonesia di masing-masing daerah memiliki eksistensi tersendiri. Akan tetapi pada dasarnya eksistensi masyarakat terhadap kebudayaan itu bisa dilihat dari segi lahir dan batinnya. Secara lahir misalnya: orang jawa memakai pakaian batik ketika menghadiri acara kondangan. Selain itu, dalam berbahasa seseorang juga secara reflek mengucapkan bahasa dari daerah masing-masing. Hal ini membuktikan bahwa manusia sebenarnya sudah selalu menjaga budayanya sendiri. Yang lebih sulit ketika menjaga secara batin. Terkadang seseorang lebih menyukai budaya barat atau pun luar negeri daripada budaya dalam negeri. Maka dari itu, sebagai masyarakat Indonesia harus menjaga dan mencintai budaya dalam negeri. Eksistensi manusia tidak hanya ditentukan oleh kesejahteraan materi, tetapi juga rohani. Manusia harus mengenal pula unsur-unsur dan kebutuhan-kebutuhan rohaninya (Sukidin, 2003:24).

oleh: Hanif Hilmi Ali

Add a comment

Subkategori

VISI PONDOK PESANTREN AL IMDAD

 “SANTRI SALIH”

  • Santun

  • Agamis

  • Nasionalis

  • Terampil

  • Ramah

  • Inovatif dan

  • Sadar Lingkungan Hidup

 

 "MISI"

  1. Mendidik santri menjadi pribadi yang santun di manapun dan kapanpun

  2. Menghantarkan santri berilmu ke-Islam-an yang luas dan mendalam berdasar pada tradisi para ‘Ulama Negeri.

  3. Menghantarkan santri berwawasan kebangsaan yang kuat.

  4. Menghantarkan santri menjadi pribadi yang mandiri dan terampil

  5. Menumbuhkembangkan sikap ramah santri baik kepada sesama manusia maupun kepada lingkungan.

  6. Menghantarkan santri yang memiliki  pengembangan keIslaman di berbagai bidang

  7. Meningkatkan wawasan ke-Islam-an dan keilmuan yang berbasis pada lingkungan hidup.

 

 

marhaban ramadhan

RAMADAN 1440 H

Kalendar

« August 2019 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

FOTO

            kirab mts     IMG 0192    paduan suara mts2

Go to Top
Template by JoomlaShine