Kegiatan Rutin Setiap Malam Jum'atKegiatan Rutin Setiap Malam Jum'at

Secara umum Mujahadah adalah berjuang, bersungguh - sungguh, berperang melawan musuh. Yang dimaksud disini adalah bersungguh-sungguh untuk memerangi dan menundukkan hawa nafsu untuk diarahkan kepada ajaran agama yang benar. 
Imam Syafi'i pernah berkata : 
"Mujahadah adalah kunci hidayah, tidak ada kunci untuk memperoleh hidayah selain Mujahadah"

Dengan demikian, jihad yang dimaksud adalah kesungguhan hati untuk mengerahkan segala kekuatan dan kemampuan untuk menerapkan nilai-nilai dan ajaran Islam di dalam kehidupan. Dalam konteks tersebut, beribadah yang dijalankan dengan tulus dan penuh kesungguhan, serta berinteraksi dengan sesama manusia yang dijalani dengan penuh kejujuran dan keikhlasan merupakan perilaku "jihad".
Di Pondok Pesantren  Al-Imdad Mujahadah sendiri rutin dilakukan setiap malam Jum'at setelah sholat isya di mushola pondok, sebelum Mujahadah para santri melakukan pembacaan Surah Yasin dan Tahlil selepas Sholat Maghrib.  Mujahadah ini diikuti oleh seluruh santri dan di pimpin langsung oleh pengasuh PP Al-Imdad Bapak KH. Dr. Habib Abdus Syakur, M.Ag. Setelah Mujahadah selesai, para santri diminta untuk Sholawatan sekaligus membaca Maulid Nabi Muhammad SAW, agar rasa kecintaan kita kepada Nabi SAW terus melekat dalam diri kita. Jangan sampai rasa kecintaan kita pudar begitu saja.

Add a comment

majalis.jpeg

Hadis ke-22 dalam Kitab Majalis As-sanniyah, menerangkan ttg Jalan menuju surga, yaitu dengan shalat, puasa, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram.

الحَدِيْثُ الثَّانِي وَالعِشْرُوْنَ

عَنْ أَبيْ عَبْدِ اللهِ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “أَرَأَيْتَ إِذا صَلَّيْتُ المَكْتُوبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الحَلاَلَ، وَحَرَّمْتُ الحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلى ذَلِكَ شَيئاً أَدْخُلُ الجَنَّةَ؟ قَالَ: نَعَمْ”رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَمَعْنَى حَرَّمْتُ الحَرَامَ اِجْتَنَبْتُهُ، وَمَعْنَى أَحْلَلْتُ الحَلالَ فَعَلْتُهُ مُعْتَقِداً حِلَّهُ

 Hadits Ke-22

Dari Abu ‘Abdillah Jarir bin ‘Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Bagaimana pendapat Anda (kabarkan padaku), apabila aku mengerjakan shalat-shalat fardhu, puasa di bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahnya sedikit pun dari itu, apakah aku akan masuk surga?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” (HR. Muslim). [HR. Muslim, no. 15]

Makna “Aku mengharamkan yang haram”, ialah aku menjauhinya. Dan makna “Aku menghalalkan yang halal” ialah aku menghalalkannya lalu melakukannya dengan meyakini kehalalannya. Wallahu a’lam.

Penjelasan Hadits

Shiyam secara bahasa berarti menahan diri dari sesuatu. Menurut istilah syariat, shiyam adalah menahan diri dari berbagai pembatal dari terbit fajar hingga terbenam matahari dalam rangka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla.

Menghalalkan yang halal maksudnya adalah: (1) meyakini kehalalannya, (2) mengamalkannya.

Mengharamkan yang haram maksudnya adalah menjauhi yang haram dengan meyakini keharamannya.

Surga adalah negeri yang penuh kenikmatan yang Allah sediakan bagi orang bertakwa. Tentang surga disebutkan dalam ayat,

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)

Add a comment

HUKUM

 

No result.

FOTO

            kirab mts     IMG 0192    paduan suara mts2

Go to Top
Template by JoomlaShine