IMG_20191230_145707.jpg
 
Pondok Pesantren Al-Imdad adalah salah satu pondok Pesantren Salafi yang berada di daerah Pedesaan, Pondok Pesantren ini didirikan oleh KH Humam Bajuri pada tahun 1980.
KH Humam Bajuri dilahirkan di Bantul dari Suami Istri yang bernama R Bajuri dan Arsiyah pada tahun 1937 dan wafat pada hari jum’at tanggal 14 Juni 1996.
Pada waktu kecilnya Humam (panggilan akrabnya) menimba Ilmu di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta sampai beberapa tahun kemudian dilanjutka pergi ke Pondok Pesantren yang berada di daerah pare Kediri untuk menimba Ilmu dari Seorang Kyai yang diinginkan. Dan akhirnya kembali lagi ke Pondok Pesantren Krapyak sampai berpuluh puluh tahun, sehingga Ilmunya sudah cukup untuk mendirikan Pondok Pesantren. Setelah Pulang kampung, Humam ingin menyebarkan ilmunya, Mula mula mengadakan  majlis pengajian yang diikuti oleh masyarakat, karena masyarakat membutuhkan berdirinya pondok pesantre, maka akhirnya Humam dibantu oleh masyarakat merintis berdirinya sebuah Pondok Pesantren. dengan usaha dan ikhtiyar yang sungguh sungguh, akhirnya terwujudlah sebuah pondok pesantren.
AL-IMDAD adalah Nama sebuah Pondok yang didirikan oleh KH Humam Bajuri di dusun kauman Wijirejo Pandak Bantul, dusun yang terletak di dekat perbatasan Kabupaten Bantul dan Kulon Progo tepatnya sebelah timur Sungai Progo kurang lebih berjarak 2 km. Pondok Pesantren Al-Imdad mula-mula hanya suatu Majlis Ta’lim yang diasuh oleh K. Humam Bajuri sepulang dari nyantri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Pada waktu itu pengajian yang diselenggarakan belum menggunakan bangunan khusus untuk pengajian, akan tetapi dengan tempat yang sederhana yaitu di pendapa rumah,Beliau mengajarkan santrinya dengaan istiqomah sehingga makin lama makin bertambah banyak santri yang mengaji kepadanya. Pada akhirnya KH Humam Bajuri membeli sebidang tanah yang diatasnya terdapat bangunan lama yang masih layak dipakai, sehingga kegiatan pengajian dipindahkan di bangunan tersebut.
Sedikit demi sedikit KH Humam Bajuri mulai membangun gedung untuk tempat Pengajian serta penginapan para Santri yang datang dari jauh, dan pada tahun1984 mulailah didirikan sebuah bangunan khusus untuk tempat kegiatan pengajian para santri sekaligus untuk penginapan santri yang datang dari jauh .KH Humam Bajuri membangun gedung tempat pengajian maupun asrama santri dengan rizqi hasil jerih payahnya sendiri.
Seiring dengan perjalanan waktu, PP Al-Imdad telah mampu mengembangkan pendidikan-pendidikan yang dikelolanya, sampai sekarang PP Al-Imdad telah memiliki dua komplek asrama putra dan putri, musholla putra-putri serta gedung-gedung ruang kelas dan perkantoran serta sarana lain untuk mencukupi keperluan para santri.
Add a comment

HUBBUL WATHON MINAL IMAN

Cinta Tanah Air Bagian Dari Iman

IMG_8222.JPG

Oleh : H. Hasbi Yatim

A. Pendapat Ulama tentang Hadis Hubbul Wathan Minal Iman

Kalimat hubbul wathan minal iman akhir-akhir ini kembali popular. Kalimat itu berarti cinta tanah air bagian dari iman. Bersamaan dengan naik daunnya kalimat tersebut, ada sebagian pihak yang menerima pernyataan tersebut bulat-bulat dan menyebutnya sebagai hadis Nabi Muhammad saw.

Lalu bagaimana kajian para ulama terhadap pernyataan tersebut? Benarkah ia hadis Nabi Muhamad saw? Bagaimana kualitasnya? Apakah sahih? Bagaimana dengan makna atau pengertiannya? Hayu kita Ngaji

Pada Abad ke-9 Pembahasan tentang anjuran mencintai tanah air telah dijelaskan oleh dua ulama ahli hadis terkemuka. Mereka adalah Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852 H.) dan Badruddin al-Aini (762-855 H.). Dalam kitab Fathul Bari Syarah Sahih al-Bukhari, al-Asqalani mengatakan,

Dalam hadis ini terdapat dalil keutamaan kota Madinah, dalil pensyariatan mencintai tanah air dan anjuran merindukannya (Fathul Bari Syarah Sahih al-Bukhari 3/621)
Dalam kitab Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari, al-Aini mengatakan, Dalam hadis ini terdapat dalil keutamaan kota Madinah, dalil pensyariatan mencintai tanah air dan anjuran merindukannya (Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari 10/135)

Kedua penulis kitab syarah tersebut sedang menjelaskan hadis dalam Sahih al-Bukhari no. 2081,

Ketika Rasulullah saw. datang dari suatu perjalanan, lalu melihat pepohonan sekitar kota Madinah, beliau mempercepat untanya, bila kendaraan beliau hewan, maka beliau menghelanya.

Dalam riwayat lain dijelaskan mengapa beliau menghela kendaraannya. Dari Anas bahwa ketika Nabi saw. datang dari suatu perjalanan, lalu melihat tembok Madinah, beliau mempercepat untanya, jika beliau menaiki hewan kendaraan, beliau menghelanya karena kecintaan beliau kepada kota Madinah (Umdatul Qari, 10/135)

Kedua ulama di atas sepakat bahwa mencintai tanah air adalah dianjurkan karena Rasulullah saw. mengajarkannya.

Pada Abad ke-10. Anjuran ini kemudian berkembang menjadi kalimat yang lebih tegas bahwa mencintai tanah air bukan saja bagian dari ajaran Islam, tapi merupakan bagian dari iman dalam Islam. Hubbul wathan minal iman. Kalimat ini menyebar dengan cepat sehingga masyarakat menganggapnya sebagai sebuah hadis. Namun, ulama pada abad berikutnya menjelaskan bahwa pernyataan itu bukan hadis. Namun memiliki pengertian yang cocok sesuai syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw. Syekh Abdurrahman as-Sakhawi (831-902 H.) dalam kitab beliau, al-Maqasid al-Hasanah fi Bayani Katsirin Minal Ahadits al-Masyhurah fil Alsinah. Dalam nomor hadis 386, dikatakan, Hadis hubbul wathan minal iman, saya belum menemukan sumbernya, tetapi makna pernyataan tersebut sahih (hal. 297)

Syekh as-Sakhawi, setelah melakukan kajian terhadap hadis tersebut, membuat kesimpulan yang sangat unik. Ketika beliau tidak menemukan teksnya dalam kitab-kitab hadis, beliau tidak langsung menghukuminya sebagai maudhu’. Sikap ini berbeda dengan sebagian pengkaji hadis modern, ketika tidak menemukan sumber hadis, mereka sering terburu-buru menghukuminya sebagai maudhu’.

Selain tidak langsung menghukumi maudhu’, as-Sakhawi juga menelaah kandungan matan atau isi hadis. Berdasarkan penelitiannya, as-Sakhawi menyimpulkan bahwa kandungan hadis tersebut tidak bermasalah alias benar. Beliau mengatakan, lam aqif ‘alaihi wa ma’nahu shahihun. Beliau sangat berhati-hati dalam menghukumi hadis, sampai hadis yang belum beliau temukan sumbernya, tidak langsung dihukumi maudhu’.

Syekh Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H.) menyebutkan hadis hubbul wathan minal iman dalam kitab ad-Durar al-Muntatsirah fil Ahadits al-Musytahirah no. 190. Beliau mengatakan, hadis hubbul wathan minal iman, saya belum menemukan sumbernya
(ad-Durar al-Muntatsirah fil Ahadits al-Musytahirah, 108)

As-Suyuthi mengikuti komentar as-Sakhawi yang sekadar menyatakan belum menemukan sumbernya. Beliau tidak menegaskan kepalsuan hadis tersebut, dengan menyatakan bahwa hadis tersebut maudhu’.

Pada Abad ke-11. Syekh Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H.) dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih mengatakan hal yang sama. Cinta tanah air adalah ajaran yang benar menurut Islam. Lebih tepat lagi jika dipahami bahwa wathan atau tanah air adalah surga. Artinya mencintai surga adalah bagian dari iman.

Ali al-Qari tidak menyalahkan, menyesatkan atau bahkan mengkafirkan, orang yang memaknai wathan sebagai tempat tinggal di dunia. Sekalipun beliau lebih setuju jika wathan dalam hadis dipahami sebagai surga (Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, 3/1158).

Dalam kitabnya yang lain, al-Asrar al-Marfu’ah fil Akhbar al-Maudhu’ah, beliau menjelaskan status kalimat hubbul wathan minal iman. Beliau mengutip pendapat beberapa ulama. Pertama, pendapat az-Zarkasyi yang menyatakan belum menemukan sumbernya (lam aqif ‘alaihi). Kedua, pendapat Mu’inuddin as-Shafawi yang mengatakan, tidak punya sumber yang kuat (laisa bi tsabitin). Ketiga, pendapat yang menyatakan bahwa kalimat tersebut hanya ungkapan sebagian ulama salaf. Keempat, pendapat as-Sakhawi yang menyatakan bahwa kalimat tersebut adalah hadis yang belum ditemukan sumbernya, namun memiliki pengertian yang sahih.

Terkait kandungan hadis tersebut, Ali Al-Qari menyatakan bahwa arti al-wathan dalam hadis hubbul wathan minal iman mempunyai beberapa kemungkinan pengertian. Beliau tidak menerima mentah-mentah pernyataan as-Sakhawi yang mengatakan makna hadis tersebut sahih. Beliau memberi catatan bahwa tidak ada korelasi antara cinta tanah air dan iman. Karena cinta tanah air juga dimiliki oleh orang-orang munafik seperti digambarkan dalam QS. an-Nisa: 66.

Dalam ayat ini dinyatakan bahwa orang-orang munafik enggan berangkat perang karena mereka mencintai tanah airnya. Syekh Ali Al-Qari menilai, perkataan as-Sakhawi hanya akan benar jika kecintaan tanah air sebagai tanda keimanan khusus bagi orang-orang yang beriman. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam QS. al-Baqarah: 246. Ayat ini menyatakan bahwa kaum beriman berperang karena mereka mencintai tanah airnya. Ayat inilah yang menjadi dasar pendapat as-Sakhawi yang menyatakan bahwa hadis hubbul wathan minal iman punya pengertian yang sahih.

Karena itu, agar jelas, Ali Al-Qari memberikan alternatif pengertian mengenai maksud al-wathan. Pertama, al-wathan berarti surga (al-jannah). Dengan demikian arti hubbul wathan minal iman adalah mencintai surga tanda keimanan. Dalam pengertian semacam ini, cinta tanah air dapat berarti tanda keimanan.

Kedua, al-wathan adalah kembali kepada Allah (al-ruju’ ila allah) sebagaimana pemahaman para ahli tasawuf (thariqati shufiyyah). Artinya senang kembali kepada Allah dengan cara bertaubat atau menjalankan perintah Allah, adalah tanda keimanan. Pengertian semacam ini tidak menyimpan kejanggalan.

Ketiga, al-wathan berarti tempat keluarga dan warga yang kurang mampu berada. Dimana kita bisa menyambung tali silaturahim dan berbagi kepada mereka. Dalam konteks ini, cinta tanah air artinya, senang menyambung tali silaturahim atau senang berbagi dengan sesama yang kurang beruntung. Ini berbeda jika al-wathan hanya diartikan tempat tinggal kita.

Keempat, al-wathan berarti kota Mekah. Dengan demikian, pengertian hubbul wathan minan iman adalah mencintai Mekah bagian dari iman. Pengertian ini cukup kuat karena didukung riwayat lain tentang penyelasan Nabi saw. ketika hendak meninggalkan kota Mekah karena kecintaan beliau pada kota Tersebut, serta riwayat Aisyah ra. yang merasa sedih meninggalkan Mekah saat berhaji karena pernah punya kenangan bersama Nabi di kota tersebut. Sepertinya, al-Ajluni lebih setuju dengan pendapat al-wathan diartikan dengan kota Mekah (al-Asrar al-Marfu’ah fil Akhbar al-Maudhu’ah, 180-183).

Ibnu ‘Allan as-Syafi’i (w. 1057 H.), dalam Dalilul Falihin Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan,

Tanah air hakiki adalah akhirat yang tiada punya akhir, karena kehendak dan kuasa Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis, “Wahai surga, kamu akan abadi tanpa kematian. Wahai neraka, kamu akan abadi tanpa kematian.” Sebagian ulama mengatakan, inilah yang dimaksud dengan hadis hubbul wathan minal iman; artinya, selayaknya orang sempurna imannya memakmurkan negerinya dengan amal perbuatan yang baik dan berbuat baik kepada sesama. Hakikatnya, manusia hanya melakukan perjalanan di dunia ini. Tanah airnya yang sejati adalah surga, sebagaimana banyak ulama mengartikan kata wathan dalam hadis hubbul wathan minal iman bermakna surga (Dalilul Falihin Syarah Riyadhus Shalihin, 1/37).

Pada Abad ke-12. Syekh Ismail bin Muhammad al-Ajluni (w. 1162 H.) mencantumkan hadis hubbul wathan minal iman dalam kitab Kasyful Khafa’ wa Muzilul IlbasAmma Isytahara minal Ahadits ‘ala Alsinatin Nas. Beliau memberi sejumlah komentar. Pertama, hadis tersebut maudhu’ berdasarkan keterangan as-Shaghani. Kedua, pengertian hadis tersebut bermasalah. Dengan mengutip Syekh Ali al-Qari, beliau menyatakan bahwa tidak ada korelasi antara cinta tanah air dan iman. Karena dalam QS. an-Nisa: 66 dikatakan, orang-orang munafik enggan berangkat perang karena mereka mencintai tanah airnya.

Dalam QS. al-Baqarah: 246, memang dikatakan bahwa kaum beriman berperang karena mereka mencintai tanah airnya. Ayat ini menjadi dasar pendapat as-Sakhawi yang menyatakan bahwa hadis hubbul wathan minal iman punya pengertian yang sahih.

Pertentangan ini hanya akan muncul jika kita memaknai al-wathan dalam hadis sebagai tanah air di dunia. Pertentangan itu akan hilang jika kita memaknai al-wathan dengan arti surga. Mencintai surga tanda keimanan. Atau, maksud al-wathan adalah kembali kepada Allah (al-ruju’ ila allah) sebagaimana para ahli tasawuf memaknainya. Bisa juga berarti tempat yang kita tinggali dengan syarat kecintaan itu karena kecintaan kita untuk menyambung hubungan persaudaraan atau karena keinginan kita menyantuni kaum fakir miskin di kota kita. Atau al-wathan dapat berati kota Mekah.

Pengertian terakhir ini, hubbul wathan minan iman dalam arti mencintai Mekah bagian dari iman, didukung riwayat lain tentang penyelasan Nabi saw. ketika hendak meninggalkan kota Mekah serta riwayat Aisyah ra. yang merasa sedih meninggalkan Mekah saat berhaji. Sepertinya, al-Ajluni lebih setuju dengan pendapat al-wathan diartikan dengan kota Mekah (Kasyful Khafa’, 1/398).

Abad ke-14 H.

Syekh Muhammad Abdurrahman al-Mubarakfuri (w. 1353 H.) dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi menjelaskan hadis tentang kedatangan Nabi saw. ke Madinah yang disertai dengan perasaan bahagia sebagaimana penjelasan al-Asqalani dan al-‘Aini, dalam hadis tersebut terdapat petunjuk akan keutamaan Madinah, serta disyariatkannya mencintai tanah air dan merindukannya (Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi, 9/283).

Syekh Jamaluddin al-Qasimi (w. 1332 H.) dalam kitab Qawa’idut Tahdits Min Fununil Musthalah al-Hadits, mengatakan bahwa hubbul wathan minal iman merupakan salah satu hadis palsu terkenal saat itu yang isinya menyesatkan dan berbahaya bagi persatuan Islam yang disatukan oleh ikatan keimanan (al-jami’ah al-islamiyah allati nunsyiduha al-iman).

Hadis ini akan mendorong umat Islam di Suriah merasa lebih mulia dibanding Mesir, dan seterusnya. Padahal, seharusnya umat Islam bersatu dalam ikatan keislaman dan ikatan ini lebih didahulukan dibanding ikatan kesukuan (Qawa’idut Tahdits Min Fununil Musthalah al-Hadits, 155).

Sikap al-Qasimi berbeda dalam karyanya yang lain. Dalam Dala’ilut Tauhid, Al-Qasimi terlihat sangat mendukung ide nasionalisme (hubbul wathan). Dia mengatakan, inna hubbal wathan min ummahatil fadha’il (cinta tanah air adalah sebagian dari pokok nilai luhur) (Dala’ilut Tauhid,205). Sepertinya pernyataannya dalam Qawa’idut Tahdits adalah bentuk kekecewaan terhadap ide nasionalisme yang pernah didukungnya. Hal ini karena, pada mulanya al-Qasimi mendukung gerakan Turki Muda mereformasi kekhalifahan Usmani. Namun ternyata dampak reformasi mereka lebih buruk bagi umat Islam.

Abad ke-15

Syekh Nasiruddin Al-Albani (w. 1420 H.) mencantumkan hadis hubbul wathan minal iman pada nomor 36. Terkait kualitas hadis, dia mengatakan bahwa hadis tersebut maudhu’. Dia mengutip as-Shaghani dan lainnya. Sedangkan terkait kandungan, al-Albani mengatakan, Makna pernyataan tersebut tidak benar, karena cinta tanah air sama seperti cinta diri sendiri, harta, dan lainnya. Semua itu alamiah pada manusia. Cinta tanah air tidak perlu mendapat pujian, dan tidak pula ia merupakan keniscayaan iman. Bukankah semua manusia sama-sama memiliki kecintaan semacam ini. Tak ada beda antara orang mukmin dan kafir (Silsilah al-Ahadits ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah wa Atsaruha as-Sayyi’ fil Ummah, 1/110).

Uraian di atas menunjukkan suatu trend yang unik. Pada abad-abad lampau, para ulama yang berkecimpung dalam bidang hadis cenderung menerima hadis-hadis hubbul wathan minal iman. Pada era belakangan, justru mulai ada keraguan dan mungkin ketidaksukaan terhadap slogan hubbul wathan minal iman. Para ulama terdahulu selalu mengajarkan hubbul wathan, menganjurkan umat Islam untuk ber-hubbul wathan, dan melestarikan semangat tersebut.

Sekalipun hadisnya tidak ada sumbernya dalam kitab-kitab hadis, secara tekstual, namun mereka yakin bahwa pengertiannya tidak keluar dari ajaran Islam. Dalam istilah ilmu hadis, hubbul wathan minal iman termasuk dha’iful isnad, shahihul matni (daif secara sanad, sahih secara matan). Secara substansi matan, hadis hubbul wathan minal iman selaras dengan praktik Nabi saw. yang mencintai Mekah dan Madinah, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih. Selain itu, di kalangan ulama dahulu tidak ada logika membenturkan antara semangat hubbul wathan dengan ukhuwwah islamiyyah.[1]

  1. B. Konteks Ke-Indonesiaan dalam menyikapi Hubbul Wathan Minal Iman.

Sejarah tak lepas dari kehidupan manusia, Indonesia telah merdeka sekitar 75 tahun yang lalu setelah dijajah oleh bangsa asing. Tentu, hal ini bukanlah sesuatu yang mudah dilalui oleh para pahlawan bangsa yang rela menumpahkan darahnya di medan perang demi terwujudnya kemeredekaan NKRI (bangsa Indonesia). Lagi-lagi perjuangan tersebut bukanlah yang mudah dilalui para pahlawan dalam melawan dan mengusir para penjajah, sebab taruhannya adalah nyawa. Namun, hal itu tidak membuat semangat para pahlawan menjadi surut. Akan tetapi, tujuan yang utama bagaimana agar bisa memerdekakan negara tercinta apapun resikonya yang akan diterima.

Generasi saat ini sudah seharusnya untuk meneruskan para pejuang di masa lalu dengan tetap menjaga kedaulatan negara kesatuan republik Indonesia. Mengingat sekarang, di negara ini sering terjadi pertentangan satu sama lain. Sehingga, mampu menimbulkan perpecahan. Entah itu, beda paham, pilihan politik, dan terkait pemerintahan. Bahkan, serangan berita hoax yang sangat masif disebar luaskan. Tentu saja, komponen yang terlibat adalah dari seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali harus turut andil dalam menjaga keutuhan negara.

Mencintai NKRI. Cinta tanah air bukan hanya sekedar kata yang tak bermakna. Lebih dari itu, harus diimpelementasikan dalam kehidupan sehari-hari harus ditanamkan sejak dini. Tanah air bukan hanya tempat di mana seseorang itu dilahirkan. Akan tetapi, sebagai tempat untuk menetap, dan menjalankan aktivitas kehidupan. Sehingga, segala sesuatu yang bertendensi membuat tempat tinggal tidak aman apalagi mengusik ingin memecah-belah NKRI, kita wajib menentang sebagai bentuk pembelaan dari prinsip hubbul wathan minal iman. Yang dicetuskan oleh ulama yang sukses mendorong semangat nasionalisme rakyat Indonesia untuk memperjuangkan kedaulatan negara. Tatkala berhadapan dalam mengusir kolonial para penjajah. Yaitu, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Mengutip pendapat Abdul Mustaqim bahwa “membela negara termasuk dalam kategori atau bagian dari hifzh al-daulah (menjaga negara). Hal ini sebagai akses untuk merealisasikan tujuan-tujuan syariat atau bahasa agamanya Maqashid syari’ah. Paling tidak, sebagai upaya menolak mafsadah/kerusakan mengutamakan kemaslahatan umat dalam kehidupan beragama dan bernegara. Semua memiliki kewajiban untuk menjaga keutuhan NKRI, dan bersuara membela hak adalah kewajiban bersama demi mencapai tujuan bersama menyejahterakan masyarakat. Akan tetapi, perlu ditempuh dengan cara-cara dewasa tidak berafiliasi hingga menyebabkan kerugian, kerusakan bahkan korban jiwa. Beberapa hal yang harus dijaga bersama sebagai bukti cinta pada tanah air adalah menjaga keutuhan negara Indonesia.

Representasi dari Hubbul Wathan Minal Iman

Menjadi tugas kita bersama harus menjaga segala kekayaan alam termasuk lingkungan sekitar Jangan sampai merusak alam,  termasuk menjaga kedaulatan negara dari segala bentuk serangan dari kolonialisme penjajahan. Orang yang cinta pada tanah air pasti akan sangat menjaga tanah airnya merawat ideologi negara dari segala bentuk yang akan menghancurkannya. Menjaga keutuhan NKRI dan kedaulatan rakyat sebagaimana dalam al-Qur’an Allah berfirman “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS: al-Hujurat:13).

Indonesia terdiri dari suku, bangsa, agama, dan ras. Yang berbeda-beda atau negara yang multikultural inilah yang harus dipertahankan dan dijaga antar sesama dalam mewujudkan kebinnekaan guna mencapai persatuan dan tetap utuhnya antar bangsa meski berbeda tetapi sejatinya kita semua adalah saudara. Dan tidak boleh saling menyakiti harus tetap saling menghargai menjaga hubungan baik serta menjunjung tinggi solidaritas antar sesama sebagai bentuk representasi hubbul wathan minal iman.[2]

[1] M. Khoirul Huda. Pendapat Ulama tentang Hadis Hubbul Wathan Minal Iman,lihat, https://harakah.id/pendapat-ulama-tentang-hadis-hubbul-wathan-minal-iman.

[2] Hamidulloh Ibda, RELASI NILAI NASIONALISME DAN KONSEP HUBBUL WATHAN MINAL IMAN. Lihat https://journal.walisongo.ac.id/index.php/ihya/article/view/1853

Add a comment

HUKUM

 

No result.

FOTO

            kirab mts     IMG 0192    paduan suara mts2

Go to Top
Template by JoomlaShine