Berita Ponpes Al-Imdad

 

Kabupaten Bantul sebagai tuan rumah pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi DIY, pada 17 hingga 19 April 2018.

Sebagai tuan rumah, Bantul melalui kafilahnya mendominasi perolehan kejuaraan di masing-masing cabang MTQ.

Seperti cabang tilawah remaja putri, Bantul menjadi Juara I atas nama Widdat Ulya, Tilawah tartil putra atas nama Dandan Nir Ruasji. Tdak ketinggalan pula cabang tafsir bahasa inggris putra - putri, Bantul juga menjadi juara masing-masing atas nama Mudrikah dan M. Abdu Syakur A'Laa Santri Pondok Pesanten Al-Imdad Pajangan .

Totok Sudarto selaku Asek III Bidang Sumber Daya dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Bantul, mewakili Bupati Bantul dalam penutupannya menyampaikan rasa terimakasih yang tulus kepada putra-putri Bantul yang telah berjuang untk menjadi yang terbaik dalam pelaksanaan MTQ kemarin.

Namun Totok berpesan, capaian ini kiranya tidak berhenti pada euforia prestasi semata, namun juga diiringi dengan pengamalan nilai-nilai kitab suci Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.

"Jangan cuma dibawa atau dihafal, tapi juga diamalkan supaya lebih bermanfaat," kata Totok.

Prestasi putra-putri Bantul ini juga diharapkan Totok semakin melecut generasi muda Bantul untuk juga bisa berprestasi di bidang masing-masing terutama pendidikan.

Add a comment

 sowan

 

Tok...tok..tok... mengetuk pintu dalem kyai “Assalamualaikum”

“walaikumsalam, ehh mas Hamzah” jawab Aisyah

Hilang semua apa yang ada dipikiran Hamzah, entah karena grogi bertemu sama Aisyah atau memang tidak pernah bertemu perempuan

“Pak kyai ada neng?” tanya Hamzah

“Ohh ya sebentar ya mas, silahkan masuk nanti saya panggilkan abah”

Rasa deg-degan terus saja berlangsung, gemetar kaki Hamzah, apa aku suka sama mbak Aisyah?ohh rasanya tidak mungkin aku hanya santri ndeso kok, pikir Hamzah

“Hamzah, ada apa Zah?”

“Mau izin pulang pak kyai, kemaren ditelfon sama simbok, disuruh pulang sebentar”

“Ohh ya, jangan lama-lama lho ya, disini juga jaga pondok,kan santri pada pulang, nanti yang jaga siapa? Iya kan?”

“Iya kyai”

Izin sudah, sekarang tinggal menyiapkan barang-barang yang harus dibawa kerumah, pondok dengan rumah Hamzah mungkin berjarak 50 KM, kota memang sangat ramai,kendaraan-kendaraan mondar-mandir melintasi jalan raya hingga menyebabkan macet, bus jurusan kampung siap dikendarai oleh Hamzah, sekitar 1 jam setengah yang akan ditempuh oleh Hamzah disaat perjalanan.

“Assalamualaikum pak,mbok”

“Walaikumsalam Hamzah” jawab simbok dengan penuh dengan kerinduan

Suasana yang sangat menyenangkan bagi santri yang jarang pulang kemudian bertemu dengan orang tuanya, ngobrol kesana kemari di ruang tamu rumahnya yang bertembok kayu, bisa dikatakan rumah tradisional orang kampung. Mata menatap ke arah pemandangan yang sangat realistis indahnya, sungguh kenikmatan kampung yang murni, tak ada asap, sunyi, sepi, sejuk.

“Hamzah, kok melamun ki lho” sahut simbok

“Hamzah Cuma kangen mbok sama kampung, sudah berapa tahun tidak pulang bertemu bapak sama simbok” senyum Hamzah “Ohh iya, simbok mau bicara apa?sepertinya sangat penting?” tanya Hamzah

“ begini lho Zah, simbok sama bapak kan sudah tua, Hamzah juga sudah sarjana, berapa umur kamu coba? Lha simbok sama bapak pingin gendong cucu, kapan kamu mau nikah, Siti teman dekatmu dari dulu simbok rasa cocok buat kamu, dulu kamu juga pernah bilang kalau suka kan?”

Dunia terasa berputar menurut Hamzah, kepala seperti ditimpa oleh batu yang sangat besar jatuh dari langit, kebingungan, keresahan dan semua rasa bercampur jadi satu dibenak Hamzah, mau jawab apa, belum ada jawaban dan memang tidak persiapan untuk soal seperti ini.

“iya mbok, Hamzah memang sudah cukup umur untuk nikah, tapi Hamzah belum menemukan, emm ya simbok jangan khawatir ya, nanti Hamzah pikir-pikir di pondok masalah seperti itu”

1 minggu sudah Hamzah tinggal di rumah melepas rindu, dan Hamzah pergi ke pondok membawa beban dan senang, selalu kefikiran kata-kata simbokya.

Kumpul-kumpul dengan temannya, belajar, ngaji, dan menjaga pondok itu pekerjaan sehari-hari Hamzah, tapi sayangnya dia sudah tidak maksimal melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, H-3 sebelum liburan selesai Hamzah dipanggil pak kyai untuk membicarakan santri-santrinya setelah sampai di pondok.

“Bagaimana Zah, sudah siap pondok untuk menapung santri lagi?”

“InsyaAllah sudah pak kyai, saya dan teman-teman sudah menyiapkan semuanya”

“Ya bagus, jadi begini Zah, besok orang tuamu suruh ke rumahku ya, aku jodohkan kamu sama si Aisy, dia sudah cerita semua tentangmu, dia juga cocok dengan kamu”

Jantung Hamzah terasa akan copot mendengarkan perkataan pak kyai, pikiran kemana-mana, apakah ini mimpi, hal yang mustahil menurut Hamzah sekarang menjadi fakta di depan mata.

“Maaf kyai, bukannya saya lancang, tetapi saya tidak pantas buat mbak Aisy, saya belum bisa apa-apa kyai” jawab Hamzah

“Pantas itu bukan kamu yang menilai, aku sudah menilai kamu cukup untuk menggantikan aku mengasuh pondok ini, apakah kamu menolak perintahku Zah?”

Hamzah tidak bisa menjawab kecuali menerima perintah kyai nya.

“iya kyai, saya insyaAllah mau melaksanakan perintah kyai”

Suasana pondok sangat ramai dipenuhi dengan para tamu undangan, tapi buat Hamzah sangat berat menanggung amanah dari sang kyai, walaupun Hamzah sangat mencintai  Aisyah begitu juga sebaliknya.

Tapi untuk menjadi manusia itu butuh proses yang sangat lama, itulah yang disebut usaha, akhirnya Hamzah menjadi pengasuh pondok pesantren Al-Anwar.

Selesai...

terimakasih atas partisipasinya, silahkan coment untuk memberi saran dan kritiknya

tunggu kelanjutan cerpen selanjutnya...

Add a comment

santri baru 2013

Yogyakarta, NU Online
Sejak dibuka pertengahan April lampau, minat pendaftar di Pesantren Al-Imdad Bantul terus meningkat. Dan istimewanya, calon-calon santri ini tidak hanya datang dari wilayah Kabupaten Bantul, tapi juga dari beberapa daerah lain di Jawa dan Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Walhasil, di penghujung Juni lalu, tercatat 137 lulusan SD/MI dan SMP/MTs mendaftarkan diri sebagai santri.
Silaturrahim yang terjalin baik sungguh merupakan sebuah jalan kebaikan. Mengapa demikian? Betapa tidak. Pengasuh Pesantren Al-Imdad Bantul, KH Habib Abdus Syakur, yang juga Ketua RMI PWNU DIY, adalah bukti nyata. Melalui karyanya, Cara Cepat Bisa Baca Kitab Kuning (Metode 33), Pesantren Al-Imdad Bantul perlahan-lahan mulai dikenal dengan keunggulannya di bidang baca kitab. 

Banyaknya orang yang menggunakan buku karya Habib Abdus Syakur ini telah menarik minat sebagian mereka dan kalangan lain untuk 'berguru langsung pada ahlinya.' Maka tidak mengherankan jika kedua hal ini--Buku Cara Cepat Bisa Baca Kitab Kuning (Metode 33) dan pendidikan di Pesantren Al-Imdad--saling berhubungan.

"Buku Metode 33 saya susun merupakan salah satu usaha untuk lebih mempermudah khalayak yang ingin mampu membaca, menerjemahkan dan memahami kitab kuning/kitab gundul atau buku berbahasa Arab yang tidak ada harakatnya. Dan buku saya berusaha memenuhi kebutuhan praktis santri, pelajar, dan peserta didik yang mau belajar membaca kitab kuning,” ujar Habib terkait karyanya.

Sebagian besar santri baru yang diterima di Pesantren Al-Imdad Bantul memang mengakui jika keinginan untuk menguasai cara baca kitab gundul alias tanpa syakal merupakan motivasi awal mereka untuk mendaftar di Al-Imdad. Hal senada juga disampaikan oleh orangtua dan wali mereka. 

Selanjutnya, selain motivasi tersebut, alasan lain para pelajar tersebut ingin mengenyam pendidikan di Pesantren Al-Imdad adalah kebijakan segenap Pengasuh dan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul yang menerapkan bebas biaya gedung, bebas biaya ngaji, dan bebas biaya asrama. 

"Kita tidak ingin jika keinginan anak untuk belajar dan menjadi cerdas terhambat hanya karena biaya," ujar Habib menjawab pertanyaan sebagian orangtua dan wali santri terkait dengan hal ini. 

"Bagaimanapun juga, tentu ada cara-cara yang bisa diupayakan oleh Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul agar pendidikan gratis betul-betul bisa dijalankan."

Add a comment

 Arti Penting Akal

  

Setiap kemulian mempunyai dasar yang menjadi tempat berpijaknya untuk meloncat ke atas, melambung tinggi dan menarik perhatian. Kemulian yang didapatkan seseorang dalam hidupnya pastilah mempunyai titik awal, bisa dari usahanya sendiri, atau ia dapatkan dari warisan orang-orang sebelumnya yang ia lestarikan. Dan dasar untuk mencapai derajat kemuliaan, apapun wujudnya, adalah akal.

   Allah telah menjadikan akal sebagai hal pokok dalam agama Islam. Hal ini bisa kita ketahui dari bagaimana Allah mewajibkan amalan ibadah kepada seorang muslim yang telah sempurna akalnya, dan membebaskan orang yang tidak berakal -baik karena belum sempurna ataupun mengalami kerusakan karena sebab-sebab yang sifatnya medis- dari kewajiban melakukan ritual ibadah seperti sholat, puasa dan lain sebagainya.

   Dalam urusan duniawi pun, akal menjadi kunci kesuksesan setiap individu. Bagaimana seseorang mencapai sukses dan mendapatkan prestasi acap disebabkan oleh kemampuannya mengoptimalkan akal yang telah dianugerahkan Allah padanya. Keberhasilan seorang pengusaha dimulai dari bagaimana akalnya akan memutar modal usaha, mencari peluang, dan merangkul konsumen. Pun kesuksesan siswa dalam mencapai prestasi akademis pasti beriringan dengan usahanya memahami setiap mata pelajaran dengan daya pikir yang dihasilkan dari akal, karena jika hanya berbekal keinginan saja, tanpa upaya, sangat tidak mungkin seorang siswa bisa mencapai prestasi yang gemilang.

   Sayyidina Umar R.A pernah berkata bahwa : “Modal seorang laki-laki adalah akalnya,  kepribadiannya terletak pada agamanya, dan kehormatannya terletak pada etikanya.” Seorang sufi yang bernama Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa seseorang yang oleh Allah telah diberi akal, maka suatu saat akal itu akan bisa menyelamatkannya. Begitu pentingnya peran akal dalam diri manusia, karena dengannya ia bisa membedakan mana yang baik untuk dirinya dan mana yang merupaka keburukan yang harus dihindari.

   Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apa sebenarnya yang disebut sebagai akal itu?

   Para ulama’ berbeda-beda dalam memberikan pengertian terhadap akal. Al-Mawardi, seorang ahli fikih dan hukum pemeritahan Islam, menyatakan bahwa makna kata akal yang benar adalah “pengetahuan pada hal-hal yang bisa terjangkau secara otomatis”. Dan akal terbagi menjadi dua kategori; yang pertama: dihasilkan dari pengalaman panca indra, seperti mengetahui warna dan rasa makanan, dan yang kedua: dihasilkan dari pengalaman jiwa.

   Imam Al-Ghazaly menyatakan bahwa akal sesorang akan terus berkembang dan mencapai titik puncaknya pada usia empat puluh tahun. Kita mendengar kabar tentang Rasulullah SAW yang menerima risalah pada usia tersebut, saat seorang manusia telah mengalami kematangan berfikir melalui tempaan pengalaman hidup. Itulah salah satu sejarah yang bisa menjadi argumen pernyataan Imam Al-Ghazaly di atas.

   Tentunya perkembangan akal juga melalui tahapan usia dan banyak terpengaruh oleh kondisi lingkungan di mana seseorang menjani hidup dan peristiwa-peristiwa yang ia alami. Oleh sebab itulah, merawatnya adalah sebuah hal yang selalu mendesak dilakukan. Dengan kesadaran tentang arti perting akal yang sedemikian pokoknya, diharapkan seorang manusia bisa menjadi pribadi yang bermartabat dan membangun peradaban yang mulia, menjadi khalifah di muka bumi yang menciptakan kebaikan demi kebaikan yang bermanfaat di berbagai sektor, apakah di pendidikan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan. Dikarenakan bila semua sektor tersebut stabil, maka mengurus agama akan semakin mudah.

Disarikan dari:

Kitab Adab Ad-Dunya wa Ad-Din karya Al-Mawardi

Kitab Ihya' 'Ulum Ad-Din karya Imam Al-Ghazaly

Add a comment

Sebagai umat muslim, mencintai Allah SWT merupakan suatu kewajiban yang harus kita perlihatkan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Cinta di sini bukanlah cinta yang hanya diucapkan melalui lisan belaka, melainkan cinta yang disertai dengan pembuktian yang nyata di dalam akhlak dan tingkah laku kita sehari-hari. Secara sederhana, mencintai Allah SWT dapat dibuktikan dengan cara mentaati segala sesuatu yang diperintahkan Allah serta menghindari dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang-Nya.

Di dalam Al-qur’an, ada beberapa ayat yang menerangkan tentang perilaku-perilaku seseorang yang mencintai Allah dan Allah pun cinta terhadap orang tersebut. Diantaranya ialah Q.S Al-Ma’idah: 54, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agama Islam maka kelak Allah akan datangkan suatu kaum yang Allah cintai dan mereka pun mencintai Allah, yaitu mereka yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin lainnya, bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir, dan berjihad di jalan Allah, serta tidak gentar dan takut terhadap celaan orang-orang yang mencelanya.”
Berdasarkan ayat di atas, ada 4 perbuatan yang digolongkan kepada orang-orang yang mencintai Allah SWT, yaitu:
a. Bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin.
b. Bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir.
c. Berjihad di jalan Allah.
d. Tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela.
Di ayat lain Allah juga menjelaskan bahwa jika kita ingin merasakan cinta-Nya dan mendapatkan kasih sayang-Nya maka kita harus bersedia dan tulus mengikuti Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman di  dalam Q.S Ali Imran ayat 31 :
“Katakanlah olehmu (Muhammad), jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah Aku (muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan memberikan ampunan atas dosa-dosa kalian. “
Kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah karena beliau merupakan hamba Allah yang telah diangkat menjadi kekasih-Nya, dan seorang yang benar-benar dapat mencintai Allah dengan sepenuhnya, sehingga jika kita mengikuti sunnah-sunnahnya maka kita digolongkan sebagai orang yang mencintai Allah.
Di dalam ilmu tasawuf, konsep cinta atau mahabbah itu merupakan  tingkatan tertinggi dalam spiritual peribadatan seseorang. Rabi’ah Al-adawiyah misalnya, seorang wanita yang memperkenalkan konsep mahabbah ke seluruh umat muslim, beliau membuktikan rasa cintanya kepada Allah dengan melakukan ibadah yang begitu luar biasa. Beliau mengatakan bahwa ia beribadah kepada Allah bukan karena mengharapkan imbalan surga atau karena takut akan siksa neraka, melainkan karena memang betul-betul cintanya begitu tulus kepada Allah SWT. Karena ia beranggapan bahwa orang yang beribadah karena mengharapkan balasan surga atau takut neraka itu merupakan tanda ketidak-ikhlasan seorang muslim, berarti  jika balasan surga atau neraka itu tidak ada maka apakah orang-orang itu masih mau beribadah?
Begitu banyak kisah-kisah menakjubkan dari Rabi’ah Al-adawiyah yang menunjukkan betapa besarnya cintanya kepada Allah SWT, hingga ada riwayat yang menyatakan bahwa Rabi’ah tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya lantaran begitu cintanya kepada Allah SWT. Ketika ia ditanya alasan kenapa tidak ingin menikah, ia menjawab karena jikalau ia menikah, ia takut cintanya kepada Allah akan terbagi dan tidak utuh lagi, dan ia juga takut jikalau nikah akan melalaikannya dari beribadah kepada Allah SWT.
Selain itu, juga ada beberapa kiat untuk meraih mahabbatullah atau cintanya Allah SWT, yaitu:
1. Untuk meraih cinta Allah maka seseorang harus benar-benar beriman kepada Allah SWT dan membenarkan segala ajaran-ajaran-Nya. Kita harus meyakini  bahwa segala sesuatu yang diperintahkan Allah itu terdapat kebaikan dan kemaslahatan didalamnya, serta kita juga harus yakin bahwa segala sesuatu yang dilarangnya itu terdapat keburukan dan kerusakan di dalamnya. Dan cinta memang harus dilandasi dengan kepercayaan, tanpa adanya kepercayaan maka cinta akan sulit muncul.
2. Untuk meraih cinta Allah seseorang juga harus mengenal Allah lebih jauh, dalam istilah tasawuf disebut ma’rifatullah. Jika kita sungguh-sungguh telah mengenal Allah, bahwa Allah maha pengasih dan pemberi rahmat, dan kita mengetahui bahwa nikmat dan karunia Allah begitu banyak dicurahkan kepada kita, maka dengan itu akan timbul kesadaran supaya kita lebih semangat dalam beribadah kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukur kita terhadap nikmat dan karunia-Nya tersebut. Cinta memang butuh perkenalan, tanpa mengenali sesuatu yang akan dicinta, mana mungkin rasa cinta itu akan timbul, makanya dalam istilah sosial ada ungkapan yang berbunyi “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”.
3. Untuk meraih cinta Allah seseorang juga harus menebar cinta dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah, tanpa harus membeda-bedakan ras, suku , bangsa ataupun agama. Tidaklah dikatakan cinta Allah bagi seseorang yang masih suka menimbulkan permusuhan dan perkelahian antar sesama manusia. Hidup dengan cinta itu begitu indah, maka berusahalah menebarkan cinta kepada sesama makhluk-Nya.
PENGARUH CINTA ALLAH DALAM BERIBADAH
Allah menciptakan manusia tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Dalam melakukan ibadah tersebut maka sebaiknya kita menghadirkan rasa cinta kita kepada-Nya, agar ibadah yang kita lakukan terasa lebih nikmat, karena biasanya segala sesuatu yang didasarkan dengan cinta maka hasilnya pasti akan lebih baik. Jika kita mencintai Allah maka pastilah kita akan berusaha melakukan ibadah yang sesuai dengan ridha-Nya, sama halnya  seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada seorang gadis, pastilah pemuda ini rela melakukan apa saja yang diridhai dan diingini oleh gadis tersebut.
Menghadirkan rasa cinta kepada Allah saat beribadah tentu saja sangat berpengaruh terhadap kualitas ibadah tersebut. Ibadah yang dilandasi dengan cinta sangat berbeda dengan ibadah yang tidak dilandasi dengan cinta. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, jika kita mencintai Allah maka otomatis dorongan dan motivasi untuk beribadah secara maksimal akan lebih kuat, dan apa saja yang menjadi penghalang dalam beribadah maka akan dapat dikalahkan oleh rasa cinta tersebut.
Dalam menyikapi pengaruh cinta dalam beribadah ini, para ahli sufi telah mengelompokkan beberapa tipe dalam beribadah kepada Allah berdasarkan motivasinya dalam ibadah tersebut, diantaranya adalah:
1. Ibadah dengan perumpaan budak. Kita tahu bahwa budak memiliki mental yang penakut. Ia mau bekerja karena takut akan dimarahi oleh majikannya. Dan jika kita beribadah kepada Allah hanya karena takut akan murka-Nya, maka tak ada bedanya kita dengan budak yang motivasi ibadahnya itu hanya lantaran takut akan siksa dan azab dari sang Tuan.
2. Ibadah dengan perumpaan kuli. Setiap melakukan pekerjaan ia selalu ingin mendapatkan upah atau gaji secepatnya. Ia hanya mau bekerja dengan maksimal jika majikannya mau membayar gajinya tepat waktu, dan jika majikannya terlambat atau tidak membayarkan gajinya, maka biasanya ia langsung berubah menjadi malas dan bekerja asal-asalan. Begitu juga halnya dengan beribadah, ada orang yang beribadah kepada Allah lantaran ingin mendapatkan balasan atau bayaran secepatnya berupa kekayaan. Ia tidak memikirkan bahwa balasan Allah di akhirat lebih besar ketimbang balasan di dunia. Maka tidak sedikit orang yang memiliki tipe ibadah seperti ini ketika ia telah berusaha beribadah dengan maksimal, namun akhirnya Allah belum mengabulkan doa atau ibadahnya, ternyata hidupnya masih tetap dalam keadaan kekurangan maka ia akan berputus asa dan berhenti beribadah, bahkan sampai memaki-maki Allah.
3. Ibadah dengan perumpaan pedagang. Dalam bekerja, pedagang hanya memiliki satu tujuan yaitu mencari keuntungan. Dalam beribadah juga seperti itu, setiap ia ingin beribadah maka terlebih dahulu ia memikirkan untung ruginya. Tipe seperti ini tidak ada salahnya, di dalam Al-quran juga banyak ayat-ayat yang menjelaskan bahwa setiap amal ibadah yang baik maka akan mendapat pahala atau surga. Namun, bagi kaum sufi tipe ini mengurangi tingkat keikhlasan seseorang.
4. Ibadah dengan mentalitas syukur atau berterima kasih. Tipe ini merupakan tipe ibadah yang cukup baik, karena seseorang beribadah disebabkan karena ia merasa bahwa betapa banyak karunia Allah yg diberikan kepadanya sehingga ia ingin membalas semua itu dengan cara bersyukur dan melakukan ibadah kepada Allah dengan semaksimal mungkin. Dan ia tidak pernah memikirkan balasan apa yang akan diberikan Allah kepadanya yang penting baginya hanyalah bersyukur dengan ibadah yang dilakukannya tersebut.
5. Ibadah dengan perasaan cinta kepada Allah SWT. Tipe inilah yang banyak digunakan oleh para kaum sufi, terutama bagi Rabi’ah Al-adawiyah. Ia menganggap bahwa rasa cinta akan menimbulkan keikhlasan yang luarbiasa, sehingga jika ia beribadah ia tidak pernah memikirkan atau menghitung-hitung berapa besar pahala yang akan ia dapat. Sekalipun balasan surga atau pahala itu tidak ada maka ia akan tetap terus beribadah, karena landasan ia beribadah ialah rasa cinta kepada Allah yang begitu luar biasa.


Muhammad Bahrudin Syafi'i, Alumni MA Unggulan Al-Imdad Bantul dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, sekarang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menetap di LSQ Ar-Rohmah Bantul. Satu dari beberapa santri alumni #AmazingAlimdad yang menerima Program PBSB Kemenag RI 2016.

Add a comment

Subkategori

VISI PONDOK PESANTREN AL IMDAD

 “SANTRI SALIH”

  • Santun

  • Agamis

  • Nasionalis

  • Terampil

  • Ramah

  • Inovatif dan

  • Sadar Lingkungan Hidup

 

 "MISI"

  1. Mendidik santri menjadi pribadi yang santun di manapun dan kapanpun

  2. Menghantarkan santri berilmu ke-Islam-an yang luas dan mendalam berdasar pada tradisi para ‘Ulama Negeri.

  3. Menghantarkan santri berwawasan kebangsaan yang kuat.

  4. Menghantarkan santri menjadi pribadi yang mandiri dan terampil

  5. Menumbuhkembangkan sikap ramah santri baik kepada sesama manusia maupun kepada lingkungan.

  6. Menghantarkan santri yang memiliki  pengembangan keIslaman di berbagai bidang

  7. Meningkatkan wawasan ke-Islam-an dan keilmuan yang berbasis pada lingkungan hidup.

HUKUM

 

FOTO

            kirab mts     IMG 0192    paduan suara mts2

Go to Top
Template by JoomlaShine